5 Cara Mengatasi Pasangan yang Impulsif

Perilaku impulsif dilakukan secara tidak sadar oleh beberapa orang

26 April 2022

5 Cara Mengatasi Pasangan Impulsif
Pexels/Introspectivedsgn

Sebagian besar orang tidak menyadari jika dikelilingi oleh orang-orang impulsif. Perilaku impulsif adalah tindakan yang dilakukan oleh seseorang tanpa memikirkan akibat dari perbuatannya. Tindakan ini biasanya dilakukan oleh anak-anak karena mereka belum mengerti cara menyampaikan emosi. 

Sementara itu, bagi orang dewasa, perilaku impulsif kerap dikaitkan dengan kebiasaan belanja yang berlebihan. Padahal, perilaku impulsif juga bisa terjadi dalam hubungan percintaan. Perilaku impulsif juga bisa dikategorikan sebagai gangguan psikologis apabila terus muncul dan sulit untuk dikendalikan.

Ciri tindakan impulsif dalam hubungan percintaan, di antaranya sering memanjakan diri dengan hal-hal yang tidak berguna, mengambil sesuatu yang diinginkan secara paksa, berbicara tanpa memikirkan perasaan pasangan, merusak barang pasangan ketika marah, dan kerap melukai diri sendiri ketika marah atau kecewa. 

Lantas, bagaimana cara menghadapi pasangan yang impulsif? Berikut beberapa tips yang dirangkum oleh Popmama.com khusus untuk Mama yang sedang menjalin hubungan dengan pasangan impulsif. 

1. Menyadari impulsif adalah akar masalahnya

1. Menyadari impulsif adalah akar masalahnya
Pexels/Olly

Tips pertama yang bisa dilakukan, yakni mengakui bahwa pasangan memiliki sifat impulsif. Ketika Mama terus membantah argumen diri sendiri tentang sifat impulsif yang dimiliki pasangan, maka Mama akan sulit mengatasinya. 

Dengan mengakuinya, Mama akan lebih mudah untuk menyadari kesalahannya dan membantu memperbaikinya. Mama bisa menasehati pasangan untuk mengurangi tindakan impulsifnya atau mengajaknya untuk menghindari kegiatan-kegiatan yang bisa memicu sifat impulsifnya. 

Editors' Picks

2. Membantu pasangan membangun pertahanan diri

2. Membantu pasangan membangun pertahanan diri
Pexels/Yankrukov

Mengatasi sifat impulsif tentu tidak mudah. Orang-orang yang terbiasa bersikap impulsif membutuhkan bantuan dan dukungan dari orang di sekitarnya untuk membangun pertahanan diri. Mereka harus dilatih untuk memikirkan konsekuensi dari perbuatan yang dilakukan. 

Perlu diingat bahwa Mama perlu memberikan nasehat secara hati-hati tanpa menyinggung perasaannya. Selain itu, Mama perlu menahan emosi ketika pasangan mulai bersikap impulsif lagi. 

4. Membangun komunikasi yang kuat

4. Membangun komunikasi kuat
Pexels/Budgeron-bach

Mama perlu meredam amarah ketika menghadapi pasangan yang impulsif.

Ketika sudah sama-sama tenang dan bisa diajak berbicara, coba tanyakan apa yang menjadi pemicu pasangan melakukan tindakan impulsif. Dengarkan penjelasannya secara seksama, sehingga bisa menemukan jalan keluarnya. 

Ketika pasangan berani mengungkapkan alasan sikap impulsifnya, itu artinya dia telah percaya sepenuhnya pada Mama. Sebaliknya, apabila dia bingung dengan alasannya, di situlah peran Mama untuk membantu pasangan mengelola emosi dan sikap impulsifnya. 

3. Jangan pernah memarahi pasangan yang impulsif

3. Jangan pernah memarahi pasangan impulsif
Pexels/Keira-burton

Satu hal yang perlu diingat, tindakan impulsif tidak dapat dikendalikan oleh orang yang merasakannya. Mama tidak perlu memarahi pasangan yang bersikap impulsif atau menyamakan sikapnya dengan anak-anak. 

Alih-alih berubah, pasangan yang dimarahi akibat sikap impulsifnya justru akan melakukan tindakan-tindakan yang sulit dikendalikan. Berilah dukungan dan pemahaman secara hati-hati sehingga pasangan mama bisa berangsur-angsur berubah menjadi lebih baik. 

5. Mencari bantuan

5. Mencari bantuan
Pexels/Kampus

Apabila Mama sudah tidak mampu menghadapi pasangan yang impulsif, cobalah untuk mengajaknya konsultasi ke psikolog atau psikiater. Mama tidak harus memaksa pasangan untuk mencari bantuan. Mama cukup memberikan saran atau rekomendasi, sehingga dia bisa memutuskannya sendiri. 

Bantuan ke psikolog perlu dilakukan untuk memastikan apakah perilaku impulsif yang dilakukan pasangan termasuk gangguan psikologis atau bukan.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan perilaku impulsif itu mengarah pada gangguan mental, maka psikolog akan melakukan beberapa langkah penanganan, seperti pemberian obat-obatan atau psikoterapi. 

Dapat disimpulkan bahwa perilaku impulsif dilakukan secara tidak sadar oleh beberapa orang. Ada yang memahami alasan dari sikap impulsifnya, namun tak sedikit juga yang tidak menyadari alasannya. 

Oleh karena itu, Mama perlu membangun komunikasi yang kuat dengan pasangan untuk membantunya keluar dari perilaku impulsif. Jangan pernah menghadapi pasangan yang impulsif dengan amarah.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.

Mama CerdAZ

Ikon Mama CerdAZ

Panduan kehamilan mingguan untuk Mama/Ibu, lengkap dengan artikel dan perhitungan perencanaan persalinan

Cari tahu yuk