7 Cara Pelaku Gaslighting Memanipulasi Korban

Pelaku gaslighting akan memanipulasi korban agar tampak berkuasa dan mengontrol korbannya

24 Juni 2022

7 Cara Pelaku Gaslighting Memanipulasi Korban
Pexels/Rodnae-prod

Apakah Mama pernah merasa bersalah setelah berdebat dengan seseorang, baik teman atau pasangan? Apabila merasakannya, Mama mungkin menjadi korban gaslighting tanpa disadari. 

Istilah gaslighting mulanya muncul pada film berjudul Gaslight yang tayang di tahun 1940. Film tersebut merupakan karya sutradara asal Inggris, Thorold Dickinson. Film tersebut kemudian dibuat ulang oleh sutradara asal Amerika Serikat, George Cukor, di tahun 1944. 

Adapun, gaslighting merupakan salah satu perilaku manipulasi psikologis yang jarang disadari oleh korban. Pelaku gaslighting akan memanipulasi korban agar tampak berkuasa dan mengontrol korbannya. 

Caranya dengan membuat korban ragu dengan dirinya sendiri atau tak yakin terhadap penilaiannya sendiri. Akibatnya, korban akan merasa tidak percaya diri dan selalu bergantung pada pelaku, baik dari sisi pemikiran maupun perasaan. 

Korban gaslighting umumnya tidak sadar bahwa sedang dimanipulasi oleh pelaku. Oleh sebab itu, Mama perlu mengetahui cara pelaku gaslighting memanipulasi korbannya.

Nah, kali ini Popmama.com telah merangkum informasi terkait ciri-ciri pelaku gaslighting, sehingga Mama tidak terjebak oleh tipu daya pelaku. 

1. Terus membantah meski terbukti salah

1. Terus membantah meski terbukti salah
Pexels/Rodnae-prod

Pelaku gaslighting berusaha memanipulasi korban karena ingin menutupi kesalahannya atau hal-hal lain yang terjadi di masa lalu. Misalnya, pelaku ingin menutupi tindak kriminal atau perselingkuhan. 

Ketika kesalahannya di masa lalu mulai terungkap, pelaku akan memanipulasi korban dengan kebohongan-kebohongan. Korban yakin 100 persen bahwa pelaku pernah melakukan kesalahan tertentu di masa lalu.

Namun, pelaku akan terus membantahnya sampai membuat korban merasa ragu dengan penilaiannya sendiri. 

2. Kebohongannya tidak terlihat nyata

2. Kebohongan tidak terlihat nyata
Unsplash/Ohshoothannah

Telah disinggung sebelumnya bahwa pelaku gaslighting akan membohongi korban agar kesalahannya di masa lalu tidak terungkap. Namun, kebohongan tersebut disampaikan dengan cerdas. Korban pun tidak dapat membedakan kapan pelaku berkata jujur atau berbohong. 

Mama mengetahui pelaku sedang berbohong, namun Mama mulai ragu saat melihat ekspresi wajahnya. Pelaku bisa menunjukkan wajah innocent dengan sentuhan manipulasi dari kata-katanya.

Mama pun mulai ragu dengan pemikiran diri sendiri dan menganggap semua pernyataan yang disampaikan pelaku merupakan sebuah kejujuran. 

Editors' Picks

3. Memanfaatkan kebaikan korban

3. Memanfaatkan kebaikan korban
Pexels/Cottonbro

Tujuan utama dari manipulasi yang dilakukan pelaku ialah membuat korban bergantung padanya. Pelaku gaslighting akan melakukan taktik secara mulus dan rapi, sehingga korban tidak sadar bahwa dirinya sedang dimanfaatkan. 

Korban justru merasa tersanjung ketika pelaku mengeluarkan kata-kata pujian atas kebaikan yang telah dilakukan. Padahal cara tersebut dilakukan pelaku untuk memanfaatkan korban demi mencapai kepentingannya sendiri. 

4. Menyebut orang lain pembohong

4. Menyebut orang lain pembohong
Pexels/Rodnae-prod

Pelaku gaslighting tak segan menyebut orang lain sebagai pembohong untuk meyakinkan korban bahwa ia sebagai pelaku benar-benar tidak bersalah. Pelaku bahkan bisa menyebut keluarga, kerabat, maupun sahabat korban sebagai pembohong. 

Pelaku bisa merasa gamang hingga tidak tahu siapa yang harus dipercaya. Akibatnya, korban akan berselisih paham dengan orang-orang di sekitarnya dan terus bergantung pada pelaku.

5. Memposisikan diri sebagai korban

5. Memposisikan diri sebagai korban
Pexels/Uoops

Salah satu trik pelaku gaslighting untuk memanipulasi korban ialah dengan memposisikan dirinya sebagai korban.

Dia tidak mengakui kesalahannya, namun melakukan trik jitu untuk merancang kebohongan dan memposisikan diri sebagai korban alias playing victim. 

Bagi sebagian orang, cara tersebut menunjukkan sisi lemah dari pelaku. Padahal cara tersebut dilakukan untuk menutupi kelemahan pelaku dan membuat korban meragukan dirinya sendiri. Korban akan berusaha melindungi pelaku dan mulai memandang rendah dirinya sendiri. 

6. Menghasut orang lain untuk membenci korban

6. Menghasut orang lain membenci korban
Pexels/Rodnae-prod

Ketika pelaku gaslighting tidak dapat memanipulasi korban, dia akan menghasut orang-orang di sekitar korban. Pelaku akan menghasut orang-orang tersebut untuk membenci dan menyerang korban. 

Cara tersebut dilakukan guna melindungi dirinya sendiri dan menjatuhkan korban. Pada akhirnya, korban akan meminta maaf pada pelaku meski pelaku yang berbuat kesalahan. 

7. Membuat korban merasa bersalah

7. Membuat korban merasa bersalah
Pexels/Rodnae-prod

Cara yang paling umum dilakukan pelaku gaslighting adalah menimpakan kesalahan dirinya pada korban. Dia akan melakukan berbagai kebohongan atau trik-trik jitu untuk menimpakan kesalahan pada diri korban. 

Pelaku tak jarang menggunakan hal-hal berharga korban sebagai senjata untuk mengungkap kekurangan korban. Pelaku bisa bersikap baik padahal mencari kekurangan korban dan membuat korban merasa bersalah. 

Intinya yang perlu diingat, pelaku gaslighting merupakan pribadi pembohong, penipu, dan bisa memanipulasi korban dan orang-orang di sekitarnya. Manipulasi psikologis awalnya memang tampak seperti masalah kecil. Namun, jika terjadi secara terus menerus, hal ini bisa menyebabkan stres dan trauma emosional pada korban. 

Semoga informasi ini bisa membuka wawasan baru mengenai cara pelaku gaslighting memanipulasi korban. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.

Mama CerdAZ

Ikon Mama CerdAZ

Panduan kehamilan mingguan untuk Mama/Ibu, lengkap dengan artikel dan perhitungan perencanaan persalinan

Cari tahu yuk