Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Anak Usia 7 Tahun Masih Menyusu & Dipamerkan, Netizen Terbelah!
Popmama.com/Erica Santoso/AI
  • Perdebatan muncul di media sosial soal tren menyusui anak usia sekolah, antara yang mendukung penyapihan alami dan yang menilai tindakan itu melanggar privasi anak.
  • Dari sisi medis, ASI disarankan hingga dua tahun karena setelahnya nutrisi utama sebaiknya berasal dari makanan keluarga agar tumbuh kembang anak optimal.
  • Fenomena unggahan menyusui anak besar memunculkan isu etika digital, menekankan pentingnya menjaga privasi serta kesepakatan ibu-anak dalam proses penyapihan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Belakangan ini, media sosial diramaikan dengan perdebatan hangat mengenai tren extended breastfeeding atau menyusui anak hingga usia sekolah.

Beberapa orangtua terang-terangan membagikan momen saat anak berusia 4 hingga 7 tahun masih menyusu, bahkan ada yang menyebutnya sebagai "prestasi" yang membanggakan.

Bagi sebagian Mama, langkah ini dianggap sebagai bentuk penyapihan alami yang menghormati kebutuhan emosional si Kecil agar ia berhenti menyusu saat sudah merasa siap.

Di sisi lain, aksi mengunggah foto anak yang sudah cukup besar saat sedang menyusu di platform publik justru menuai kritik tajam. Banyak warganet yang menganggap perilaku ini kurang pantas karena menyangkut privasi anak. Perdebatan ini tidak hanya menyoroti aspek kesehatan, tetapi juga etika dalam bermedia sosial dan bagaimana kita sebagai orang tua sebaiknya memperlakukan momen intim antara ibu dan anak.

Kondisi yang memicu pro dan kontra ini tentu membuat banyak orang tua bertanya-tanya, sebenarnya sampai usia berapa pemberian ASI idealnya dilakukan?

Apakah benar ada batasan usia biologis tertentu, atau ini sepenuhnya pilihan personal setiap keluarga?

Untuk membantu Mama memahami isu ini dari sudut pandang medis dan sosial, berikut Popmama.com bagikan fakta seputar fenomena menyusui anak usia sekolah dan pro-kontra yang menyertainya.

1. Pandangan tentang penyapihan alami

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Beberapa Mama meyakini menyapih sebaiknya dibiarkan alami sesuai kesiapan anak, bahkan hingga usia tujuh tahun. Metode ini dianggap sebagai bentuk penghormatan atas kebutuhan emosional dan fisik buah hati agar mereka berhenti menyusu saat sudah merasa benar-benar siap secara mandiri.

Pendukung metode ini berargumen ASI adalah nutrisi istimewa yang terus melindungi organ tubuh serta menjaga kestabilan emosi si Kecil. Ini dipandang sebagai fase transisi lembut agar anak merasa aman hingga mereka dewasa.

Meski ideal bagi sebagian orang, hal ini memicu perdebatan karena relevansi pemberian ASI di usia sekolah dasar. Perbedaan pandangan ini menunjukkan bahwa setiap keluarga memiliki filosofi pengasuhan berbeda yang harus dihargai oleh lingkungan.

2. Batasan nutrisi ideal setelah 24 bulan

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Secara medis, ASI eksklusif disarankan hingga enam bulan, diikuti MPASI sampai usia dua tahun. Setelah 24 bulan, pencernaan anak sudah berkembang optimal dan nutrisi utama wajib bersumber dari makanan keluarga yang bergizi seimbang agar tumbuh kembangnya terjaga.

ASI setelah dua tahun hanyalah pelengkap. Ketergantungan berlebih berisiko membuat anak menjadi picky eater. Mengenalkan makanan padat adalah prioritas agar anak mendapat asupan vitamin dan mineral lengkap.

Mengutamakan makanan keluarga adalah langkah bijak agar anak siap menghadapi tantangan fisik. Dengan menu sehat dan bervariasi, Mama membantu si Kecil membangun pola makan sehat hingga dewasa nanti.

3. Kualitas ASI yang berkurang

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Mama perlu memahami bahwa seiring usia anak, kualitas dan volume ASI akan menurun. Meski tetap mengandung antibodi, nutrisinya tidak sepadat saat bayi. Bagi anak usia 4-5 tahun, ASI tidak lagi dapat diandalkan sebagai sumber energi atau nutrisi utama untuk aktivitas mereka yang makin aktif.

Variasi makanan padat menjadi jauh lebih krusial. Mengandalkan ASI sebagai asupan utama berisiko membuat anak kekurangan nutrisi penting seperti protein dan serat. Ini dapat menghambat target kalori untuk pertumbuhan tinggi badan serta perkembangan otak.

Fokuslah pada diversifikasi pangan. Jangan sampai kenyamanan menyusui membuat Mama melupakan pentingnya makanan padat. Dengan mengurangi frekuensi menyusui secara perlahan, kebutuhan tumbuh kembang anak akan terpenuhi lebih efektif.

4. Isu privasi dan etika sosial

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Fenomena mengunggah foto menyusui anak besar ke media sosial sering kali memicu keresahan karena dianggap melanggar privasi anak. Memajang momen intim ke ruang publik tanpa pertimbangan matang dapat memicu perhatian negatif dan membuat si Kecil merasa tidak nyaman di masa depan.

Mama perlu mempertimbangkan jejak digital anak. Ketika nanti sudah besar, anak mungkin merasa malu jika momen pribadinya menjadi konsumsi publik. Privasi adalah hak anak yang harus dilindungi orang tua.

Estetika dan norma sosial adalah acuan penting. Tidak semua momen harus dipamerkan. Dengan menjaga privasi, Mama sedang mengajarkan nilai batasan tubuh kepada si Kecil agar hubungan ibu dan anak tetap sakral.

5. Pentingnya kesepakatan ibu dan anak

Popmama.com/Erica Santoso/AI

Menyapih setelah usia dua tahun tidak memiliki aturan baku. Hal ini sangat bergantung pada kebutuhan emosional dan kesepakatan antara Mama dan si Kecil. Tidak perlu merasa tertekan oleh opini orang lain, selama keputusan tersebut memberikan kenyamanan dan rasa aman bagi psikologis buah hati di rumah.

Hal utama adalah tetap menjaga martabat anak. Mama harus peka situasi, terutama di ruang publik atau lingkungan sensitif. Keseimbangan antara kasih sayang melalui menyusui dan ruang bagi anak untuk bersosialisasi harus dikelola dengan baik.

Jika kesulitan, jangan sungkan berkonsultasi dengan tenaga medis. Komunikasi penuh kasih akan membantu si Kecil memahami bahwa meski sudah tidak menyusu, kasih sayang Mama tetap sama besarnya.

Menyusui adalah perjalanan kasih sayang yang sangat personal bagi setiap Mama. Namun, saat si Kecil semakin besar, tugas kita bukan hanya memberinya nutrisi, tetapi juga menjaga privasi dan mempersiapkannya untuk bersosialisasi dengan dunia luar. Jangan biarkan opini publik membuat Mama merasa tertekan, namun tetaplah bijak dalam memilih apa yang sebaiknya dibagikan ke media sosial.

Yuk, terus dampingi tumbuh kembang si Kecil dengan memberikan yang terbaik sesuai kebutuhan usianya, Mama! Jika Mama merasa bingung dengan proses penyapihan, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter anak atau konselor laktasi profesional. Mari kita ciptakan lingkungan yang positif bagi anak dengan tetap menghormati batasan-batasan tumbuh kembangnya.

Editorial Team

Related Article