Ternyata Ini Penyebab ASI Seret setelah Melahirkan

ASI dapat menurun setelah melahirkan ketika payudara jarang dikosongkan melalui menyusui atau memompa, frekuensi konsisten setiap 2–3 jam membantu merangsang produksi.
Stres, kurang istirahat, serta asupan nutrisi dan cairan yang tidak memadai dapat menghambat hormon dan energi yang dibutuhkan tubuh untuk memproduksi ASI.
Kontrasepsi atau obat tertentu, pelekatan bayi yang tidak tepat, dan penggunaan dot terlalu dini dapat mengurangi isapan efektif bayi sehingga produksi ASI menurun.
Merasa cemas saat melihat produksi ASI tiba-tiba menyusut setelah melahirkan, merupakan hal yang wajar dialami. Terlebih ketika momen menyusui yang membahagiakan harus diwarnai tantangan, salah satunya ialah ketika tetesan ASI terasa sangat sedikit.
Penurunan produksi ASI bisa dipicu oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Mulai dari perubahan hormon dalam tubuh, frekuensi menyusui yang belum teratur, tingkat stres pasca melahirkan, hingga kondisi kesehatan harian Mama.
Namun, kondisi ASI yang sempat berkurang ini sebenarnya bisa diatasi dengan penanganan yang tepat. Memahami pemicunya merupakan langkah awal yang sangat penting agar Mama tidak berkecil hati, berikut Popmama.com telah rangkum penyebab ASI seret setelah melahirkan. Disimak, ya!
Table of Content
1. Jarang menyusui

Prinsip utama produksi ASI di dalam tubuh ialah supply and demand, yaitu makin sering dikeluarkan makin banyak yang diproduksi. Jika Mama jarang menyusui buah hati atau tidak rutin memompa, tubuh akan menangkap sinyal bahwa kebutuhan ASI sudah berkurang.
Kondisi ini sering kali terjadi pada minggu-minggu pertama pasca melahirkan saat jadwal menyusui belum terbentuk teratur. Rasa lelah berlebih dan nyeri pada puting kerap membuat Mama menunda sesi menyusui si Kecil. Padahal, mengosongkan payudara secara berkala sangat krusial untuk merangsang hormon prolaktin agar terus memproduksi cairan ASI baru.
Nah, agar ASI dapat lebih lancar usahakan untuk menyusui secara konsisten setiap 2–3 jam sekali sehari. Jika si Kecil sedang tertidur pulas, Mama bisa rutin mengosongkan payudara menggunakan alat pompa ASI.
2. Stres berlebihan

Tingkat stres yang berlebih sangat berpengaruh terhadap kelancaran aliran ASI Mama. Saat merasa tertekan, tubuh akan memproduksi hormon kortisol dalam jumlah yang cukup banyak. Hormon stres ini terbukti dapat menghambat kerja hormon oksitosin yang bertugas melancarkan ASI.
Menghadapi fase menyusui serta rasa lelah mengurus bayi baru lahir memang sangat rentan memicu kelelahan emosional. Kekhawatiran berlebih justru dapat membuat aliran ASI semakin terhambat, akibatnya terasa sangat sulit keluar meski payudara sudah penuh dan kencang.
Cobalah untuk lebih rileks dan mintalah bantuan pasangan dalam menjaga si Kecil, sementara Mama bisa melakukan teknik relaksasi sederhana hingga pijat oksitosin sebelum menyusui. Suasana hati yang tenang dapat menjadi kunci utama agar aliran ASI dapat lancar kembali.
3. Kurang nutrisi harian dan hidrasi

Tubuh Mama membutuhkan banyak energi ekstra untuk menghasilkan ASI yang berkualitas setiap harinya. Jika Mama kurang minum air putih atau mengabaikan pola makan bergizi, produksi ASI tentu akan terkena dampaknya.
Kesibukan mengurus bayi sering kali membuat lupa untuk memenuhi kebutuhan nutrisi serta cairan tubuh sendiri. Padahal, komponen utamanya berasal dari asupan makanan serta minuman yang dikonsumsi oleh Ibu menyusui.
Maka, pastikan Mama minum air putih minimal 8-12 gelas atau sekitar 2,5 liter setiap hari. Konsumsi juga makanan bernutrisi seimbang yang kaya akan protein, zat besi, serat, serta daun katuk sebagai booster alami sehingga tubuh yang dapat terhidrasi dan memiliki nutrisi yang baik.
4. Konsumsi obat atau kontrasepsi

Pilihan metode KB yang diambil setelah melahirkan juga bisa menjadi penyebab dari menyusutnya produksi ASI. Alat kontrasepsi yang mengandung kombinasi hormon estrogen dan progesteron diketahui dapat mengganggu keseimbangan hormon menyusui.
Banyak Ibu menyusui yang tidak menyadari bahwa efek samping dari pil KB kombinasi dapat mempengaruhi ASI. Penurunan ini biasanya terjadi secara perlahan beberapa minggu setelah Mama mulai mengonsumsi obat tersebut, jika dibiarkan tanpa penanganan produksi ASI bisa terus menurun.
Jika Mama berencana menggunakan kontrasepsi, sangat disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter atau bidan. Pilihlah jenis KB yang aman untuk Ibu menyusui, seperti KB suntik 3 bulan, IUD, atau pil progestin.
5. Pelekatan bayi yang belum tepat

Proses menyusui yang terlihat sederhana sebenarnya membutuhkan teknik pelekatan yang benar antara mulut bayi dengan payudara. Jika posisi mulut si Kecil hanya menempel pada ujung puting, hisapannya tidak akan efektif sehingga memicu penurunan produksi ASI secara perlahan.
Pelekatan yang kurang pas juga sering menimbulkan rasa nyeri hebat hingga luka lecet pada puting Mama. Rasa sakit ini kerap membuat takut serta ragu untuk menyusui secara rutin, akibatnya frekuensi menyusui berkurang dan merangsang tubuh untuk mengurangi pembentukan air susu baru.
Untuk mengatasinya, pastikan sebagian besar area areola masuk ke dalam mulut saat menyusu. Dagu bayi harus menempel rapat pada payudara dan bibirnya melipat keluar dengan sempurna saat menghisap.
6. Kurang istirahat

Menjaga bayi baru lahir yang sering terbangun di malam hari tentu perlu banyak energi, kurang tidur yang berlangsung secara terus-menerus dapat menyebabkan kelelahan fisik. Kondisi yang drop ini secara langsung akan memengaruhi metabolisme produksi hormon laktasi.
Saat tubuh terlalu lelah, sistem saraf akan merespons dengan menurunkan efisiensi kerja organ tubuh termasuk kelenjar ASI. Pembentukan air susu membutuhkan stamina yang fit agar proses berjalan dengan lancar, kelelahan ekstrem yang dibiarkan dapat membuat tubuh akhirnya memproduksi ASI lebih sedikit.
Sangat penting bagi Mama untuk menyempatkan beristirahat sejenak, jangan ragu membagi tugas rumah tangga serta menjaga bayi bersama pasangan. Istirahat yang cukup akan memulihkan stamina tubuh sehingga produksi ASI bisa kembali maksimal.
7. Penggunaan dot terlalu dini

Mengenalkan empeng atau botol dot kepada bayi terlalu dini dapat memicu kondisi yang dikenal sebagai bingung puting. Cara menghisap empeng sangat berbeda dengan cara bayi menyusu langsung dari payudara, sehingga kondisi ini membuat si Kecil menjadi nggak mau menyusu langsung.
Nah, ketika menolak menyusu langsung rangsangan isapan pada saraf payudara Mama akan berkurang secara drastis. Padahal, isapan alami dari mulut bayi merupakan pemicu utama agar otak melepaskan hormon pembentuk ASI.
Sebaiknya hindari penggunaan dot atau empeng setidaknya pada 4-6 minggu pertama hingga proses menyusui lancar. Jika Mama harus memberikan ASI perah, gunakan media alternatif seperti cangkir kecil atau sendok khusus.
Sekarang, Mama nggak perlu bingung lagi penyebab ASI terasa seret setelah melahirkan. Semoga informasi ini, bisa membantu kamu lebih sadar dan tahu cara mengatasinya ya, Ma!





















