7 Komplikasi Berbahaya yang Perlu Diwaspadai Saat Proses Persalinan

Beberapa kondisi ini bisa berbahaya jika tak diatasi dengan cepat

24 Januari 2019

7 Komplikasi Berbahaya Perlu Diwaspadai Saat Proses Persalinan
Pixabay/Parentingupstream

Selama proses persalinan, berbagai hal bisa dengan mudah terjadi. Mulai dari persalinan yang berjalan dengan cepat dan lancar, hingga sebaliknya.

Meski selama kehamilan dokter sudah mengatakan bahwa kondisi janin baik-baik saja dan siap untuk dilahirkan, bisa saja terjadi komplikasi tertentu baru saat persalinan terjadi.

Namun jangan khawatir, Ma. Selama Mama ditangani oleh dokter dan tenaga medis yang mumpuni, komplikasi-komplikasi ini tentu bisa diatasi.

Nah, apa saja beberapa komplikasi yang bisa terjadi dan perlu diwaspadai selama proses persalinan? Berikut Popmama.com bagikan rangkuman informasinya untuk Mama.

1. Persalinan tidak mengalami kemajuan

1. Persalinan tidak mengalami kemajuan
Pexels/Pixabay

Apabila pembukaan tidak kunjung berlanjut dalam jangka waktu yang sangat lama, bisa dikatakan bahwa persalinan tidak mengalami kemajuan alias berjalan lambat.

Pada Mama yang baru saja melahirkan untuk kali pertama, kondisi ini terjadi saat persalinan telah berlangsung selama lebih dari 20 jam.

Sementara itu, pada Mama yang sudah pernah melahirkan sebelumnya, persalinan dikatakan lambat dan tidak maju apabila terjadi lebih dari 14 jam.

Ada beberapa hal yang bisa menyebabkan kondisi ini terjadi. Di antaranya seperti pelebaran serviks yang lambat, ukuran bayi terlalu besar, ukuran panggul yang kecil, serta penggunaan obat pereda nyeri yang melemahkan kontraksi uterus.

Pada waktu ini, dokter mungkin akan menyarankan Mama untuk berjalan, tidur, mandi, atau melakukan teknik relaksasi lainnya, bergantung pada tahap persalinan Mama.

2. Gawat janin

2. Gawat janin
Pexels/Pixabay

Ketika janin tampaknya mengalami beberapa kesulitan dan masalah yang membahayakan nyawanya saat dalam kandungan, itu disebut sebagai gawat janin.

Termasuk di antaranya saat ia kekurangan oksigen, kadar cairan ketubannya terus menurun, sampai detak jantungnya yang menjadi tidak normal.

Saat kondisi ini terjadi, Mama mungkin akan diminta untuk mengubah posisi, menambah cairan tubuh, atau diberikan transfusi cairan ke dalam rongga amniotik. Dalam beberapa kasus, operasi caesar mungkin harus dilakukan.

3. Kompresi tali pusar

3. Kompresi tali pusar
Pexels/rawpixel.com

Kadang-kadang saat persalinan, tali pusar dapat tanpa sengaja terlilit di leher si Kecil, Ma. Nah, saat ini terjadi, tali pusar mungkin tertekan. Penekanan ini kemudian menyebabkan penurunan aliran darah ke bayi, sehingga detak jantungnya pun melambat.

Jika masalah lilitan tali pusar berlangsung sementara atau tidak tidak ada kompresi yang terjadi, maka persalinan normal bisa dilakukan. Namun jika yang terjadi justru sebaliknya dan membahayakan nyawa bayi, tindakan operasi caesar mungkin akan perlu dilakukan.

Editors' Picks

4. Prolaps tali pusar

4. Prolaps tali pusar
Pexels/Pixabay

Dalam kondisi ini, tali pusat tiba-tiba keluar melalui serviks setelah ketuban pecah, padahal bayi belum memasuki jalan lahir.

Mama mungkin bisa merasakan keberadaan tali pusar di jalan lahir atau mungkin menjulur keluar dari vagina.

Kejadian seperti ini membutuhkan perhatian dan tindakan yang cepat, karena aliran darah melalui tali pusar mungkin terhenti dan kemudian bisa menyebabkan gawat janin.

5. Posisi bayi tidak normal

5. Posisi bayi tidak normal
Pexels/Rawpixel.com

Posisi terbaik untuk persalinan adalah ketika bayi menghadap ke bawah dan kepala terlebih dahulu melewati jalan lahir. Namun demikian, seringkali posisi ini bisa terjadi sebaliknya.

Ya, salah satu komplikasi yang mungkin terjadi adalah ketika posisi bayi justru tidak demikian. Misalnya posisi sungsang, di mana bokong atau kakinya justru yang berada di bawah dekat jalan lahir.

Selain itu, beberapa bayi juga mungkin akan berbaring secara horizontal, alih-alih secara vertikal.

Untuk mengatasi masalah ini, dokter mungkin dapat mengubah posisi bayi secara manual atau menggunakan forsep untuk memfasilitasi persalinan. Episiotomi atau operasi caesar juga mungkin diperlukan dalam beberapa kasus.

6. Emboli cairan ketuban

6. Emboli cairan ketuban
Freepik/Rawpixel.com

Dianggap sebagai komplikasi serius, emboli terjadi ketika sejumlah kecil cairan ketuban memasuki aliran darah Mama dan menuju paru-paru. Kondisi ini kemudian menyebabkan arteri di sana menutup.

Kejadian ini kemudian dapat menyebabkan peningkatan denyut jantung, henti jantung, dan bahkan kematian, Ma.

Pembekuan darah yang tersebar luas adalah masalah lain yang mungkin timbul. Kondisi ini terlihat pada persalinan yang sangat sulit atau selama operasi caesar. Perawatan darurat dan tepat akan sangat dibutuhkan apabila hal ini terjadi.

7. Distosia bahu

7. Distosia bahu
Pixabay/Sanjasy

Pada kondisi ini, bayi sebenarnya sudah dalam posisi tepat saat persalinan, yakni kepala terlebih dahulu. Namun kemudian yang terjadi selanjutnya bahu si Kecil tersangkut di jalan lahir.

Apabila ini terjadi, dokter mungkin akan mencoba mengeluarkan bayi dengan beberapa pilihan cara. Misalnya dengan memberikan tekanan pada perut, membalikkan bayi secara manual, atau melakukan episiotomi untuk memungkinkan bahu bayi keluar.

Setiap komplikasi yang disebabkan oleh distosia bahu biasanya bersifat sementara atau dapat diobati, tetapi tetap ada kemungkinan cedera pada Mama dan juga si Kecil.

Topic:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!

;