"Ini juga merupakan bagian dari warisan mendiang suami saya yang meninggal 10 tahun yang lalu. Saya menggunakan sperma bekunya, dan ini adalah berkah yang sangat indah,” kata Laura Orrico sebagaimana dikutip dari People.
Artis Laura Orrico Melahirkan Anak Pertama di Usia 49 Tahun

- Laura Orrico, aktris berusia 49 tahun, melahirkan anak pertamanya melalui program IVF menggunakan sperma mendiang suaminya yang dibekukan sejak 2007.
- Putrinya bernama Aviana Rose lahir sehat pada 5 Februari, menjadi simbol harapan baru setelah lima kali keguguran dan kehilangan suami akibat komplikasi tumor otak.
- Meski menjalani operasi caesar, Laura merasa bersyukur karena adaptasinya sebagai ibu berjalan lancar berkat pengalaman merawat keluarga dan dukungan orang terdekat.
Setelah menjalani duka panjang sejak kepergian sang suami satu dekade lalu, Laura Orrico akhirnya menyambut anak pertamanya di usia 49 tahun. Aktris yang dikenal lewat perannya dalam CSI: Miami dan Kevin Can Wait itu melahirkan seorang putri melalui program IVF, yang dijalani suaminya sebelum meninggal dunia.
Perjalanan menuju momen tersebut tidaklah mudah. Ia pernah mengalami lima kali keguguran serta kehilangan suami akibat komplikasi tumor otak sebelum akhirnya berani membuka lembaran baru.
Kini, Laura menikmati peran barunya sebagai ibu dengan penuh rasa syukur. Kebahagiaan yang datang di usia mendekati 50 tahun itu menjadi bukti bahwa harapan bisa tumbuh kembali setelah kehilangan yang mendalam.
Seperti apa kisah Laura Orrico yang melahirkan di usia 49 tahun? Berikut Popmama.com sudah merangkum infromasinya yang dilansiri dari People di bawah ini.
Table of Content
1. Membekukan sperma sejak 2007

Teknologi reproduksi memberi Laura kesempatan untuk tetap membawa bagian dari suaminya ke dalam hidup barunya sebagai ibu. Ryan, suaminya, telah membekukan spermanya pada 2007, jauh sebelum ia meninggal akibat komplikasi tumor otak.
Keputusan itu kemudian menjadi titik penting yang memungkinkan Laura mewujudkan impiannya menjadi ibu meski telah kehilangan pasangan hidupnya selama satu dekade.
Di usia 48 tahun, Laura akhirnya memutuskan untuk mencoba hamil menggunakan sperma mendiang suaminya. Ia menyebut keputusan tersebut sebagai bagian dari warisan cinta yang tetap hidup.
2. Putrinya merupakan hadiah terindah di usia 49 tahun

Putri Laura yang diberi nama Aviana Rose lahir pada 5 Februari pukul 18.09. Bayi mungil itu lahir dengan berat 7 pon 3 ons dan panjang 20 inci, menjadi kebahagiaan yang telah lama dinantikan.
Bagi Laura, kehadiran Aviana bukan sekadar kelahiran seorang anak, tetapi juga simbol harapan baru setelah lima kali keguguran di masa lalu.
"Rasanya seperti mimpi dan sangat menggembirakan. Setelah berjuang bolak-balik tentang menjalani ini sendirian, dengan riwayat lima kali keguguran bertahun-tahun yang lalu, akhirnya saya memiliki bayi yang cantik," kata Orrico.
3. Adaptasi menjadi seorang ibu berjalan lancar berkat pengalaman sebagai caregiver dan dukungan orang terdekat

Kelahiran baby Aviana disambut penuh sukacita oleh keluarga dan sahabat dari kedua belah pihak. Meski menjadi ibu di usia mendekati 50 tahun, Laura mengaku proses adaptasinya berjalan cukup lancar.
Pengalamannya sebagai caregiver bagi anggota keluarga yang sakit kronis membantunya lebih siap secara emosional. Proses persalinan sendiri tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana karena induksi yang ia jalani berakhir dengan operasi caesar. Namun, ia merasa bersyukur karena mendapatkan dukungan penuh dari orang terdekat dan tim medis.
4. Bahagia karena tidak menyerah jadi seorang ibu

Memulai babak baru sebagai seorang ibu, Laura Orrico mengaku dipenuhi rasa syukur karena tidak pernah benar-benar melepaskan mimpinya menjadi seorang ibu. Laura juga membagikan pesan yang begitu personal bagi setiap Mama yang sedang memperjuangkan impian mereka. Ia menegaskan agar tidak mudah menyerah pada apa yang diyakini, sebab hidup terlalu singkat untuk dijalani dengan penyesalan.
“Jangan pernah menyerah pada mimpimu. Hidup itu singkat dan kamu harus menjalaninya dengan sebaik-baiknya. Kelilingi dirimu dengan sistem pendukung yang baik dan terus maju dengan tujuanmu, karena hanya kamu yang dapat mengendalikan masa depanmu,” ujarnya.
Baginya, dukungan dari orang-orang terdekat menjadi kekuatan penting untuk tetap bertahan. Namun pada akhirnya, keputusan untuk bangkit dan melangkah tetap berada di tangan diri sendiri.
Perjalanan menjadi ibu memang tidak selalu mudah, dan setiap perempuan memiliki waktunya masing-masing. Kisah ini menjadi pengingat bagi para Mama untuk tetap percaya pada proses dan tidak menyerah pada harapan. Semangat Ma!


















