“Jadi biasanya aku akan jelasin detailnya dulu, tentang bahwa insulin itu ketika meningkat dia akan membuat perintah ke si indung telur buat naikin hormong cowoknya gitu, makanya terjadi PCOS. Nah sebenarnya target pertamanya adalah insulin-nya turunin. Insulin-nya turun nanti sinyal dari si insulin ke indung telur tuh langsung normal lagi dan si produksi hormong cowoknya nggak akan terlalu berlebihan,” jelas dr. Prama Aditya.
Mengapa Perempuan dengan PCOS/PMOS Harus Turun Berat Badan? Simak Ma!

- dr. Prama Aditya menekankan bahwa kunci penyembuhan PCOS bukan sekadar menurunkan berat badan, melainkan mengontrol hormon insulin agar fungsi ovarium dan keseimbangan hormon kembali normal.
- Fokus berlebihan pada angka timbangan dapat memicu stres dan kehilangan massa otot, yang justru memperburuk resistensi insulin serta menghambat pemulihan hormonal perempuan dengan PCOS.
- Pendekatan terbaik untuk menangani PCOS adalah mengubah mindset diet menjadi gaya hidup sehat holistik yang menjaga kestabilan hormon, kesehatan metabolisme, serta keseimbangan mental jangka panjang.
Bagi Mama yang sedang berjuang melawan Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) kini PMOS, saran untuk menurunkan berat badan pasti sudah sangat sering didengar dari dokter atau ahli kesehatan.
Alhasil, timbangan angka digital di rumah pun sering kali menjadi penentu suasana hati sehari-hari demi mengejar siklus menstruasi yang teratur.
Namun, tidak jarang perjuangan memangkas berat badan ini justru mendatangkan rasa frustrasi yang mendalam karena angka di timbangan hanya bergeser sedikit atau bahkan stagnan.
Kondisi ini akhirnya membuat banyak perempuan merasa stres, cemas, dan merasa gagal dalam menjalani program pemulihan hormon mereka, padahal mereka sudah mencoba membatasi porsi makan dengan ketat.
Ternyata, fokus yang terlalu berlebihan pada penurunan berat badan secara angka kilogram tidak selalu menjadi jawaban utama yang tepat untuk menyembuhkan PCOS.
Mengejar target kiloan secara membabi buta tanpa memahami akar masalah hormonal di dalam tubuh justru berisiko memperburuk kondisi kesehatan metabolisme Mama sendiri.
Dilansir dari unggahan video di akun Instagram pribadinya, dr. Prama Aditya, B.Med.Sc., M.Kes., Aifo., membagikan pandangan yang sangat mencerahkan mengenai kekeliruan fokus yang sering terjadi pada pejuang PCOS.
Berikut Popmama.com telah merangkum 5 poin penting dari penjelasan dr. Prama Aditya mengenai alasan mengapa fokus penurunan berat badan pada PCOS harus diubah
Table of Content
1. Mengontrol hormon insulin menjadi kunci utama penyembuhan

Fokus utama yang harus diperbaiki oleh perempuan dengan PCOS sebenarnya bukan sekadar memangkas berat badan, melainkan mengontrol kadar hormon insulin dalam tubuh.
Ketika seseorang mengalami resistensi insulin, tubuh akan memproduksi insulin secara berlebihan untuk mengolah gula darah. Lonjakan insulin inilah yang kemudian memberikan sinyal keliru kepada organ reproduksi perempuan.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dipublikasikan dalam The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism.
Studi tersebut menunjukkan bahwa penurunan kadar insulin secara langsung dapat memperbaiki fungsi ovarium dan menurunkan kadar hormon androgen (hormon maskulin) pada perempuan dengan PCOS, bahkan sebelum terjadi perubahan berat badan yang signifikan.
Oleh karena itu, memperbaiki sensitivitas insulin lewat pola makan rendah indeks glikemik harus menjadi prioritas.
2. Fokus pada pemulihan hormon, bukan sekadar angka timbangan

Banyak perempuan yang merasa sangat terbebani ketika langsung ditargetkan harus menurunkan berat badan dalam jumlah yang besar.
Target yang terlalu kaku ini sering kali membuat pasien merasa cemas sejak awal proses pengobatan. Padahal, kesembuhan dari PCOS tidak melulu diukur dari seberapa banyak kilogram berat badan yang berhasil dibuang dari tubuh.
“Jadi rata-rata emang saran dari dokter-dokter itu utamanya adalah turun 10% dari si berat badannya itu. Nah sedangkan sepengalamanku kalau misalkan pasien itu terlalu ditargetin harus turun sekian belas kilo supaya PCOS-nya sembuh, itu malah bikin stres ke si pasiennya sendiri. Jadi sebenernya nggak harus turun exactly 10 kilo atau 10% dari berat badan yang sekarang, tapi yang harus kita benahi itu adalah sebetulnya hormon insulin-nya kita balikin ke normal,” ungkapnya.
Sebuah riset dari Fertility and Sterility juga mengonfirmasi bahwa perbaikan ovulasi dan keteraturan menstruasi pada perempuan PCOS lebih berkaitan erat dengan kembalinya keseimbangan hormonal makro, terutama stabilitas glukosa, dibandingkan dengan pencapaian angka berat badan ideal tertentu.
Jadi, mulailah fokus pada kesehatan tubuh secara menyeluruh, bukan hanya pada angka digital timbangan.
3. Bahaya kehilangan massa otot akibat diet yang salah

Sering kali demi mencapai target penurunan berat badan yang cepat, banyak orang melakukan diet ekstrem yang sangat membatasi kalori.
Efeknya, berat badan memang akan turun drastis dalam waktu singkat. Namun, penurunan berat badan yang terlalu cepat ini biasanya bukan disebabkan oleh hilangnya lemak tubuh, melainkan karena berkurangnya massa otot.
“Soalnya banyak kejadian juga, ada pasienku yang udah turun lebih dari target dokter yang sebelumnya tapi PCOS-nya malah nggak sembuh-sembuh, ternyata yang turunnya massa otot. Nah dengan massa ototnya malah makin turun, itu hormon insulin-nya malah makin kacau gitu,” tambahnya.
Secara ilmiah, otot adalah jaringan utama di dalam tubuh yang berfungsi untuk menyerap dan membakar glukosa darah. Penelitian dalam Diabetes Care menyebutkan bahwa penurunan massa otot (sarkopenia) akan menurunkan jumlah reseptor insulin di tubuh, yang secara otomatis memperparah resistensi insulin.
Ketika massa otot hilang, kemampuan tubuh mengelola gula darah justru semakin rusak.
4. Stres akibat target diet justru meningkatkan hormon kortisol

Tekanan psikologis untuk mencapai berat badan tertentu ternyata bisa menjadi bumerang bagi kesehatan hormonal. Ketika Mama merasa sangat tertekan karena berat badan tidak kunjung turun, tubuh akan membaca kondisi ini sebagai sebuah ancaman atau stres kronis.
Akibatnya, kelenjar adrenal akan memproduksi hormon stres atau kortisol dalam jumlah yang tinggi.
“Jadi nitip ke teman-teman, aku nggak bilang saran atau targetnya itu salah, cuma kadang-kadang kalau kita terlalu di targetinnya harus turun kiloan-nya banget yang ada nanti malah hormon kortisol-nya naik, itu malah bikin naikin gula darah, malah makin stres, malah PCOS-nya nggak sembuh-sembuh, malah jadi timbul masalah baru,” paparnya.
Kaitan antara stres dan PCOS ini juga dibuktikan dalam penelitian yang dirilis oleh Endocrine Connections.
Ketika hormon kortisol melonjak, hormon ini secara otomatis memicu hati untuk melepaskan lebih banyak glukosa ke dalam aliran darah, yang kemudian memicu lonjakan insulin baru.
Siklus hormonal yang rusak akibat stres ini justru akan membuat tubuh semakin mudah menyimpan lemak, terutama di area perut.
5. Mengubah mindset diet demi kesehatan jangka panjang

Menangani PCOS memerlukan perubahan paradigma atau cara berpikir yang menyeluruh mengenai arti dari hidup sehat. Diet tidak boleh lagi dipandang sebagai sebuah hukuman atau program jangka pendek demi kurus, melainkan sebagai bentuk perawatan diri untuk menyembuhkan metabolisme.
Tujuan utamanya adalah menciptakan lingkungan internal tubuh yang seimbang agar sel telur bisa berkembang dengan baik.
“Jadi sebenernya nggak harus turun exactly 10 kilo atau 10% dari berat badan yang sekarang, tapi yang harus kita benahi itu adalah sebetulnya hormon insulin-nya kita balikin ke normal,” tambahnya.
Penelitian dari International Journal of Obesity menunjukkan bahwa pendekatan gaya hidup yang berfokus pada kesehatan holistik (bukan sekadar penurunan berat badan) terbukti jauh lebih efektif dalam menjaga kepatuhan pasien jangka panjang dan mencegah sindrom metabolik. Dengan menurunkan beban pikiran dan berfokus pada penyembuhan hormon, tubuh Mama akan merespons dengan jauh lebih baik tanpa harus merasa tersiksa.
Menyembuhkan PCOS memang membutuhkan kesabaran yang luar biasa dan konsistensi dalam menerapkan gaya hidup sehat.
Ingat ya Ma, tubuh kita bukanlah sekadar angka di atas timbangan, melainkan sebuah sistem hormonal yang sangat berharga dan saling berkaitan. Jangan sampai keinginan untuk kurus dengan cepat justru mengorbankan kesehatan metabolisme jangka panjang.
Yuk, mulai sekarang kita ubah fokus kita bersama-sama dari yang tadinya mengejar angka timbangan menjadi fokus pada makanan bernutrisi penurun insulin dan olahraga yang menjaga massa otot.
Jaga selalu kesehatan pikiran agar hormon stres tidak ikut mengacaukan perjalanan pemulihan tubuh Mama. Semangat terus untuk seluruh Mama pejuang PCOS di luar sana!
Apakah Mama punya pengalaman tersendiri dalam mengatur pola makan dan mengelola stres selama berjuang melawan PCOS?


















