Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bolehkah Menyusui Bayi saat Payudara Alami Mastitis? Ini Kata Dokter
Pexels/Jonathan Borba
  • Mastitis adalah peradangan jaringan payudara, sering dipicu saluran ASI tersumbat, dengan gejala nyeri, bengkak, kemerahan, rasa hangat, demam, dan lemas.
  • Menyusui langsung umumnya membantu mengosongkan payudara serta mengurangi sumbatan ASI. Jika nyeri atau puting lecet sangat mengganggu, ASI dapat dikeluarkan melalui pijatan tangan.
  • ASI dari payudara yang mengalami mastitis tetap aman dan bernutrisi bagi bayi, meski rasanya dapat lebih asin akibat perubahan kandungan natrium.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mastitis menjadi salah satu masalah yang cukup sering dialami ibu menyusui, terlebih di awal-awal minggu usai melahirkan. Kondisi Mastitis ditandai dengan peradangan pada jaringan payudara yang dapat menyebabkan nyeri, bengkak, kemerahan, hingga demam. 

Tak heran jika banyak ibu menyusui merasa cemas dan bertanya-tanya apakah mereka masih boleh menyusui saat mengalami mastitis? Selain itu, banyak juga yang mempertanyakan apakah ASI dari payudara mastitis aman untuk bayi?

Karena ragu dan takut, sebagian ibu bahkan memilih menghentikan proses menyusui karena takut ASI dapat membahayakan si Kecil.

Agar tidak salah kaprah, simak informasinya telah Popmama.com siapkan berdasarkan penjelasan Konselor Laktasi.

1. Apa itu mastitis?

Pexels/cottonbro studio

Mastitis adalah kondisi peradangan yang terjadi pada jaringan payudara, paling sering dialami oleh Mama yang sedang menyusui. Peradangan ini biasanya muncul akibat saluran ASI yang tersumbat, sehingga ASI tidak dapat keluar dengan lancar. 

Pada beberapa kasus, mastitis yang tidak diatasi dengan baik dapat memicu infeksi berujung menyebabkan rasa tidak nyaman dan nyeri selama menyusui.

Kondisi ini umumnya terjadi pada satu hingga tiga bulan pertama masa menyusui, meski bisa muncul kapan saja selama proses laktasi berlangsung. 

Gejala yang sering dirasakan meliputi payudara terasa nyeri, bengkak, kemerahan, hangat saat disentuh, hingga disertai demam dan tubuh terasa lemas. 

2. Menyusui langsung (direct breastfeeding) dapat membantu meredakan mastitis

Freepik/freepik

Banyak Mama memilih berhenti menyusui karena khawatir rasa sakit akan semakin parah atau takut ASI tidak lagi aman untuk bayi. 

Faktanya, menyusui langsung atau direct breastfeeding (DBF) justru menjadi salah satu cara terbaik untuk membantu mengatasi mastitis.

Hisapan bayi dinilai lebih efektif dalam mengosongkan payudara dibandingkan penggunaan pompa ASI. Ketika payudara lebih sering dikosongkan, sumbatan ASI dapat berkurang, sehingga proses peradangan pun lebih cepat membaik.

“Justru memang sedotan bayi pada saat DBF (direct breastfeeding) itu membantu untuk mengosongkan payudara, jadi lebih bagus dibanding penggunaan pompa. DBF akan akan membantu untuk mengurangi mastitisnya, karena membantu merilis ASI yang tersumbat,” kata dr. Anastasia Lilian S., CBS, IBCLC. EMI selaku Konselor Laktasi dari RSPI saat diwawancarai oleh Popmama.com saat ‘Exclusive Media Interview - Mengatasi Mastitis dan Tips Mencegahnya’, Selasa (4/8/2026). 

3. Jangan terlalu memaksakan DBF saat payudara terasa nyeri

Magnific/freepik

Meski menyusui langsung sangat dianjurkan, bukan berarti Mama harus memaksakan diri jika rasa nyeri sudah sangat mengganggu. 

Pada beberapa kasus, puting yang lecet atau payudara yang sangat sensitif membuat proses menyusui terasa begitu menyakitkan. Dalam kondisi tersebut, Mama tetap dapat mengosongkan payudara dengan cara memerah ASI menggunakan pijatan tangan (hand expression). 

Cara ini membantu mengurangi penumpukan ASI tanpa harus memaksakan bayi menyusu langsung hingga rasa nyeri mulai mereda.

“Kalau pada saat menyusui memang ada lecet atau rasanya sakit sekali, ada juga opsi nggak harus DBF. Boleh dikeluarkan pakai pijatan tangan dulu, jadi nggak wajib DBF juga kalau memang lagi sakit sekali dan nggak nyaman buat mamanya,” jelas dr. Anastasia Lilian S., CBS, IBCLC. EMI.

4. ASI dari payudara mastitis tetap aman diminum bayi

Pexels/Sarah Chai

Salah satu kekhawatiran terbesar ibu menyusui adalah apakah ASI dari payudara yang mengalami mastitis dapat membahayakan bayi. Dokter menegaskan bahwa ASI tersebut tetap aman dikonsumsi si Kecil.

Memang ketika mengalami mastitis rasa ASI bisa berubah menjadi sedikit lebih asin akibat perubahan kandungan natrium dalam ASI. Namun, perubahan rasa ini tidak membuat ASI menjadi berbahaya ataupun beracun bagi bayi.

“Pada mastitis itu, ASI akan terasa lebih asin buat bayi, tapi itu nggak papa dikonsumsi oleh bayi,” ungkap dr. Anastasia Lilian S., CBS, IBCLC. EMI.

5. ASI dari payudara mastitis tetap bernutrisi bagi bayi

Pexels/RDNE Stock project

Selain aman dikonsumsi, kualitas gizi ASI juga tetap terjaga meski ibu menyusui sedang mengalami mastitis. 

Bayi tetap memperoleh nutrisi, antibodi, dan manfaat penting lainnya dari ASI, sehingga tidak ada alasan untuk menghentikan pemberian ASI hanya karena mengalami mastitis pada payudara.

Karena itu, ibu menyusui yang mengalami mastitis umumnya tetap dianjurkan untuk melanjutkan proses menyusui secara langsung selama kondisi memungkinkan. 

“ASI tetap bermanfaat dan bernutisi untuk bayi. Jadi, istilahnya tidak beracun karena masih baik. Makanya, pada ibu menyusui yang mengalami mastitis, sebenarnya disarankan untuk tetap direct breastfeeding,” pungkas dr. Anastasia Lilian S., CBS, IBCLC. EMI.

Demikian pembahasan mengenai bolehkah menyusui bayi saat alami payudara mastitis. Semoga bisa menjadi ilmu baru bagi Mama semua, ya.

Curated For You

Editorial Team

Related Article