Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Benarkah Gravitasi di Pesawat Membahayakan Ibu Hamil dan Janin?

Benarkah Gravitasi di Pesawat Membahayakan Ibu Hamil dan Janin?
Pexels/Kelly
Intinya Sih
  • Gravitasi saat pesawat terbang tidak membahayakan janin; perhatian utama adalah kesehatan kehamilan, potensi komplikasi, dan kesiapan ibu selama perjalanan.
  • Ibu hamil umumnya boleh naik pesawat hingga 35 minggu bila kandungan sehat dan telah berkonsultasi dengan dokter; mayoritas maskapai menerapkan batas usia serupa.
  • Trimester kedua dinilai paling nyaman untuk bepergian, sedangkan trimester pertama tetap memungkinkan tanpa ancaman keguguran; pada usia 34–35 minggu, perjalanan sebaiknya dekat.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bepergian saat hamil, termasuk naik pesawat untuk liburan atau urusan pekerjaan, masih sering memunculkan kekhawatiran di kalangan ibu hamil

Salah satu anggapan yang beredar adalah gravitasi saat pesawat berada di ketinggian dapat membahayakan janin atau memengaruhi kondisi kehamilan.

Lantas, benarkah gravitasi di pesawat membahayakan ibu hamil dan janin? Simak penjelasan selengkapnya telah Popmama.com siapkan berdasarkan pemaparan dokter. 

1. Ibu hamil masih boleh naik pesawat hingga usia kehamilan 35 minggu

Banyak ibu hamil khawatir bahwa bepergian dengan pesawat dapat membahayakan janin karena pengaruh gravitasi saat berada di udara. 

Namun, dr. Marcel menjelaskan bahwa pada dasarnya ibu hamil tetap diperbolehkan melakukan perjalanan menggunakan pesawat hingga usia kehamilan tertentu.

Sebagian besar maskapai penerbangan bahkan masih mengizinkan ibu hamil terbang sampai usia kehamilan 35 minggu. Meski demikian, Mama tetap perlu memperhatikan kondisi kesehatan diri sendiri dan memastikan tidak ada komplikasi kehamilan sebelum memutuskan bepergian.

“Jadi kalau ibu hamil itu, boleh naik pesawat terbang, sampai batas usia kehamilan 35 minggu. Rata-rata maskapai membolehkan sampai 35 minggu,” ujar dr. Marcel Elian Suwito, Sp.OG, melansir dari Instagramnya, @marcel.elian.suwito. 

“Kalau awal-awal kehamilan, bahaya nggak, dok? Sebetulnya gravitasi tidak membuat dirinya kenapa-kenapa. Yang membuat kita takut kalau ibu hamil terbang itu, kalau misalnya kehamilannya ada masalah, takutnya mules pada saat di luar kota atau di luar negeri, itu mungkin pendarahan,” lanjutnya. 

2. Trimester kedua menjadi waktu terbaik untuk bepergian dengan pesawat

Trimester kedua menjadi waktu terbaik untuk bepergian dengan pesawat
Pexels/Leah Newhouse

Jika Mama berencana melakukan babymoon atau perjalanan jauh, trimester kedua disebut sebagai waktu yang paling ideal. Pada periode ini, keluhan kehamilan umumnya mulai berkurang, sehingga aktivitas sehari-hari terasa lebih nyaman.

Selain itu, tubuh ibu hamil biasanya sudah lebih mudah bergerak dibandingkan trimester pertama. Risiko kelelahan akibat perubahan fisik pun cenderung lebih rendah yang membuat perjalanan dapat dinikmati dengan lebih nyaman.

“Ya, jadi best time untuk ibu hamil berpergian itu sebenarnya di trimester 2 awal sama trimester 2 akhir, karena mungkin ibu hamil lebih gampang untuk bergerak, memobilisasi, terus keluhan kehamilannya sudah mulai minimal,” kata dr. Marcel.

3. Trimester pertama tetap boleh naik pesawat selama kehamilan sehat

Trimester pertama tetap boleh naik pesawat selama kehamilan sehat
Unsplash/Suhyeon Choi

Bukan berarti ibu hamil pada trimester pertama sama sekali tidak boleh bepergian. Perjalanan tetap diperbolehkan selama kondisi kehamilan baik dan tidak terdapat tanda-tanda yang mengarah pada ancaman keguguran.

Mama juga perlu memastikan kondisi tubuh tetap fit. Apabila mual dan muntah masih dalam batas wajar serta asupan makan dan minum tetap tercukupi, perjalanan umumnya masih aman dilakukan sesuai anjuran dokter.

“Kalau di trimester 1, boleh, silahkan berpergian, asalkan mungkin tidak ada ancaman keguguran, dan tubuhnya fine-fine aja, misalnya mual muntahnya tidak berlebihan, makan minumnya masih oke,” ungkap dr. Marcel.

4. Memasuki akhir trimester ketiga, sebaiknya batasi perjalanan jauh

Memasuki akhir trimester ketiga, sebaiknya batasi perjalanan jauh
Pexels/RDNE Stock project

Semakin mendekati waktu persalinan, ibu hamil disarankan lebih berhati-hati saat merencanakan perjalanan. Pada usia kehamilan sekitar 34–35 minggu, perjalanan dengan pesawat masih memungkinkan, tetapi sebaiknya hanya untuk tujuan yang dekat.

Perjalanan ke luar negeri dinilai lebih berisiko karena dikhawatirkan terjadi kondisi darurat, seperti ketuban pecah atau kontraksi saat berada di perjalanan.

“Nah, nanti kalau sudah trimester 3, trimester 3 akhir, yang sudah 34-35 minggu, ya mungkin kalau mau terbang, yang deket-deket masih boleh. mungkin dalam negeri aja,” jelas dr. Marcel.

“Tapi kalau sudah ke luar negeri, repot nanti kalau misalnya ibu lagi di luar negeri, kemudian amit-amit ketuban pecah, atau misalnya di pesawat tiba-tiba mules, nah itu yang kita hindarkan,” tambahnya.

5. Gravitasi pesawat bukan penyebab janin dalam bahaya

Gravitasi pesawat bukan penyebab janin dalam bahaya
Unsplash/Suhyeon Choi

Salah satu informasi yang perlu diluruskan adalah anggapan bahwa gravitasi pesawat dapat membahayakan janin. Kondisi tersebut bukanlah penyebab utama yang perlu dikhawatirkan oleh ibu hamil.

Fokus utama justru berada pada kondisi kesehatan kehamilan dan kesiapan ibu hamil selama bepergian. Selama usia kehamilan belum melewati 35 minggu, kondisi kandungan sehat, serta telah berkonsultasi dengan dokter, Mama tetap bisa menikmati perjalanan menggunakan pesawat, termasuk merencanakan babymoon dengan lebih tenang.

“Tapi kalau untuk dedenya kenapa-kenapa, karena gravitasi pesawat di atas, enggak apa-apa, jadi silahkan berpergian, silahkan traveling, babymoon silahkan, yang penting sebelum 35 minggu,” pungkasnya. 

Intinya, naik pesawat saat hamil tidak perlu terlalu dikhawatirkan selama kondisi kehamilan sehat dan sudah mendapat izin dari dokter. Yang terpenting, Mama memilih waktu perjalanan yang tepat, memperhatikan usia kehamilan, serta memastikan perjalanan dilakukan dengan aman.

Semoga informasinya membantu ya, Ma.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More