Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

HPL sudah Lewat tapi Bayi Belum Lahir, Harus Apa? Ini Kata Dokter!

HPL sudah Lewat tapi Bayi Belum Lahir, Harus Apa? Ini Kata Dokter!
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI
Intinya Sih
  • dr. Nirwan Darmawan menjelaskan bahwa melewati Hari Perkiraan Lahir (HPL) adalah hal wajar karena HPL hanya estimasi, bukan tanggal pasti persalinan, dengan rentang normal kehamilan 37–42 minggu.
  • Ibu hamil disarankan tetap tenang namun waspada dengan memantau gerakan janin minimal 10 kali dalam 12 jam serta rutin berkonsultasi untuk memastikan kondisi aman.
  • Pemeriksaan medis seperti USG untuk mengecek air ketuban dan CTG untuk menilai detak jantung janin penting dilakukan; jika hasilnya baik, kehamilan bisa ditunggu hingga 42 minggu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Menunggu hari perkiraan lahir tiba tentu menjadi momen yang mendebarkan. Namun, sering kali muncul kecemasan ketika tanggal tersebut tiba, tapi si Kecil belum menunjukkan tanda-tanda untuk lahir. Mama mungkin bertanya-tanya, HPL sudah lewat tapi bayi belum lahir, harus apa? Menanggapi keresahan ini, seorang dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dr. Nirwan Darmawan, SpOG, membagikan video edukasi di akun Instagram pribadinya untuk membahas fenomena ini.

Sebenarnya, situasi seperti ini sangat wajar terjadi dan dialami oleh banyak ibu hamil. Melewati HPL (Hari Perkiraan Lahir) bukan berarti ada sesuatu yang salah dengan kehamilan Mama. Oleh karena itu, penting bagi Mama untuk tetap tenang dan tidak terburu-buru mengambil tindakan tanpa arahan medis yang jelas.

Daripada menyelami rasa panik, ada baiknya Mama memahami langkah tepat yang harus dilakukan. Yuk, simak informasi lengkap yang sudah Popmama.com rangkum mengenai langkah tepat saat menanti si Kecil lahir berikut ini!

Table of Content

1. Memahami arti HPL yang sebenarnya

1. Memahami arti HPL yang sebenarnya

1. Memahami arti HPL yang sebenarnya.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Banyak Mama merasa stres karena menganggap HPL adalah tanggal mutlak. Padahal, penentuan tanggal ini hanyalah sebuah estimasi untuk memantau perkembangan janin. Langkah pertama adalah memahami definisinya agar tidak panik.

Dokter Nirwan menjelaskan bahwa HPL atau Hari Perkiraan Lahir itu pada dasarnya merupakan sebuah perkiraan waktu, bukan tanggal yang pasti untuk bersalin.

"HPL itu singkatan dari hari perkiraan lahir bukan hari pasti lahir," jelas dr. Nirwan.

Pernyataan ini didukung oleh panduan dari World Health Organization (WHO) yang menyatakan bahwa kehamilan normal manusia memiliki rentang waktu yang cukup fleksibel, yaitu antara 37 hingga 42 minggu. Jadi, melahirkan sedikit sebelum atau sesudah tanggal estimasi adalah hal yang normal.

2. Mengetahui usia kehamilan yang akurat

2. Mengetahui usia kehamilan yang akurat.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Ketika tanggal yang ditentukan kalender sudah terlewati, hal penting yang harus dipastikan adalah ketepatan usia kandungan. Dokter biasanya akan melakukan konfirmasi ulang usia kehamilan berdasarkan HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir) atau USG (Ultrasonografi) awal.

Dokter Nirwan memaparkan bahwa saat memasuki tanggal perkiraan tersebut, usia kehamilan seorang ibu sebenarnya sudah genap memasuki angka tertentu.

"Ketika sudah HPL, contoh HPL di tanggal tertentu, itu artinya Mama usia kehamilannya sudah di 40 minggu," ungkapnya.

Berdasarkan laporan klinis dari American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), usia 40 minggu dinilai sebagai waktu di mana organ tubuh bayi sudah berkembang dengan sempurna. Namun, fluktuasi waktu persalinan tetap bisa terjadi karena kondisi hormon setiap ibu hamil berbeda-beda.

3. Melihat data statistik persalinan lewat HPL

3. Melihat data statistik persalinan lewat HPL.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Mama mungkin merasa menjadi satu-satunya orang yang mengalami kondisi ini. Ingatlah bahwa ini adalah fenomena medis yang umum. Banyak sekali ibu di luar sana yang menjalani hari-hari tambahan setelah tanggal perkiraan mereka lewat.

Dokter Nirwan juga menjelaskan bahwa ada persentase tersendiri dari total persalinan yang memang baru terjadi setelah melewati tanggal perkiraan.

"Dan secara statistik 10-20% persalinan terjadi setelah HPL," tambahnya.

Angka statistik ini juga diperkuat oleh data dari National Center for Health Statistics yang menunjukkan bahwa sekitar 1 dari 10 kehamilan memang berstatus post-term. Data ini membuktikan bahwa rahim Mama masih bekerja dengan baik, hanya saja si Kecil membutuhkan waktu sedikit lebih lama.

4. Menjaga ketenangan dan tetap waspada

4. Menjaga ketenangan dan tetap waspada.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Kunci utama adalah keseimbangan antara ketenangan mental dan kehati-hatian fisik. Rasa panik justru dapat memicu hormon stres yang berpotensi menghambat munculnya kontraksi alami. Pikiran yang rileks sangat penting bagi kesehatan Mama.

Dokter Nirwan mengingatkan para ibu hamil untuk tidak panik saat melewati tanggal perkiraan, namun di sisi lain harus tetap menjaga kesiapsiagaan.

"Jadi jangan panik ketika hamilnya lebih dari HPL, tapi tetap perlu waspada, ya," tuturnya.

Kewaspadaan yang dimaksud didukung oleh jurnal kesehatan dari Mayo Clinic, yang menyarankan agar ibu hamil tetap peka terhadap sinyal tubuh dan rajin memeriksakan diri ke dokter. Menjaga komunikasi yang intens dengan tenaga medis akan memastikan kondisi Mama dan janin terpantau aman.

5. Menghitung gerakan janin secara berkala

5. Menghitung gerakan janin secara berkala.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Langkah konkret pertama adalah memantau aktivitas si Kecil. Gerakan janin merupakan indikator paling sederhana dan akurat untuk mengetahui kondisi kesejahteraan bayi. Jika bayi bergerak aktif, itu adalah sinyal bahwa ia dalam keadaan sehat.

Dokter Nirwan menyarankan tindakan pertama yang harus dilakukan secara mandiri di rumah adalah melakukan perhitungan terhadap tendangan atau gerakan janin dalam durasi waktu tertentu.

"Pertama adalah hitung gerakan janin. Pastikan dalam 12 jam ada 10 kali gerakan janin," terangnya.

Metode penghitungan ini sejalan dengan rekomendasi resmi dari National Health Service (NHS) Inggris. Menghitung gerakan sebanyak 10 kali dalam periode waktu tertentu sangat efektif untuk mendeteksi secara dini jika ada perubahan pola perilaku janin yang memerlukan penanganan medis segera.

6. Melakukan pemeriksaan USG untuk cek air ketuban

6. Melakukan pemeriksaan USG untuk cek air ketuban.jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Saat berkonsultasi ke rumah sakit setelah melewati tanggal HPL, dokter pasti akan melakukan pemeriksaan USG atau Ultrasonografi. Dokter akan fokus memantau volume cairan amnion atau air ketuban sebagai salah satu langkah utamanya.

Dokter Nirwan menerangkan langkah klinis kedua yang harus diambil lewat jalur medis yaitu memeriksa kondisi volume air ketuban melalui USG.

"Kedua adalah USG untuk melihat jumlah air ketuban," jelas dr. Nirwan.

Berdasarkan studi literatur kesehatan reproduksi, seiring bertambahnya usia kehamilan di atas 40 minggu, fungsi plasenta dapat mengalami penurunan yang berisiko mengurangi volume air ketuban. Jika hasil USG menunjukkan cairan ketuban masih melimpah dan jernih, maka si Kecil dipastikan masih aman.

7. Menjalani pemeriksaan CTG (kardiotokografi)

7. Menjalani pemeriksaan CTG (kardiotokografi).jpg
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI

Selain USG, dokter akan menyarankan prosedur pemeriksaan yang bernama CTG (Kardiotokografi). Pemeriksaan ini dilakukan untuk merekam denyut jantung janin dan keaktifan otot rahim secara akurat.

Dokter Nirwan menguraikan pemeriksaan klinis ketiga yang tidak kalah penting untuk menilai kondisi kesejahteraan jantung si Kecil.

"Ketiga adalah pemeriksaan CTG untuk menilai pola detak jantung janin," tambah dr. Nirwan.

Melansir informasi dari Queensland Health, pemeriksaan CTG sangat akurat untuk mendeteksi apakah janin mengalami kondisi distres atau tidak akibat kekurangan suplai oksigen. Grafik CTG yang menunjukkan hasil reaktif dan normal menandakan jantung si Kecil berdetak dengan prima, sehingga tidak ada alasan untuk terburu-buru melakukan tindakan darurat.

Jika seluruh rangkaian pemeriksaan di atas menunjukkan hasil yang memuaskan, Mama tidak perlu terburu-buru cemas meminta tindakan operasi. Selama kondisi rahim dan janin dinyatakan aman oleh dokter, tubuh Mama masih diberikan waktu secara alami untuk memulai proses persalinannya sendiri dalam pengawasan medis yang ketat.

Dokter Nirwan pun menegaskan bahwa kelonggaran waktu masih bisa diberikan asalkan semua indikator kesehatan terpenuhi.

"Ketika ketiga hal itu baik, gerakan janin baik, jumlah air ketuban baik dan CTG nya baik, maka kehamilan bisa kok ditunggu sampai 42 minggu atau 2 minggu lebih dari HPL," pungkasnya di akhir video edukasi tersebut.

Nah, sekarang sudah tidak panik lagi kan, Ma, setelah tahu jawaban dari HPL sudah lewat tapi bayi belum lahir, harus apa? Apakah Mama punya pengalaman serupa saat menanti kelahiran si Kecil yang lewat dari tanggal HPL?

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Onic Metheany
EditorOnic Metheany

Related Articles

See More