Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Melahirkan Normal setelah Caesar, Apa Saja Risikonya?
Popmama.com/Bernika Nathania/AI
  • VBAC memungkinkan persalinan normal setelah operasi caesar, tetapi keputusan perlu mempertimbangkan riwayat operasi, kondisi ibu dan bayi, serta potensi komplikasi selama persalinan.

  • VBAC yang tidak berhasil dapat meningkatkan risiko perdarahan serius, kebutuhan transfusi darah, infeksi, dan operasi caesar darurat dibandingkan VBAC berhasil atau caesar ulang terencana.

  • Robekan rahim terjadi pada kurang dari 1% kasus VBAC, namun dapat membahayakan ibu dan bayi, termasuk risiko kekurangan oksigen; konsultasi dokter dan pemantauan medis penting.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernah melahirkan lewat operasi caesar bukan berarti Mama tidak bisa mencoba persalinan normal di kehamilan berikutnya. Proses ini dinamakan sebagai Vaginal Birth After Cesarean (VBAC), atau persalinan melalui vagina setelah sebelumnya melahirkan dengan operasi caesar.

Meski begitu, ada beberapa risiko yang perlu dipahami sebelum memutuskan menjalani VBAC. Proses ini termasuk proses yang perlu banyak pertimbangan, seperti riwayat operasi caesar sebelumnya, kondisi kesehatan Mama dan si Kecil, hingga kemungkinan komplikasi selama persalinan.

Nah, lalu apa saja risiko melahirkan normal setelah caesar yang perlu diketahui? Berikut Popmama.com rangkum penjelasannya. Yuk, disimak!

Perdarahan dan Transfusi Darah

Popmama.com/Bernika Nathania/AI

Salah satu risiko saat mencoba persalinan normal setelah caesar adalah perdarahan serius, terutama jika upaya VBAC tidak berhasil dilakukan, hingga bisa sampai diperlukannya transfusi darah.

Dilansir dari Mayo Clinic, VBAC yang berhasil umumnya berkaitan dengan risiko komplikasi kesehatan yang lebih rendah dibandingkan operasi caesar ulang. Sebaliknya, upaya VBAC yang tidak berhasil bisa meningkatkan risiko komplikasi, termasuk perdarahan serius yang mungkin memerlukan transfusi darah.

Robekan Rahim (Uterine Rupture)

Popmama.com/Bernika Nathania/AI

Risiko selanjutnya berhubungan dengan risiko perdarahan tadi, yaitu robekan rahim atau Uterine Rupture. Kondisi ini terjadi saat bekas sayatan operasi caesar di dinding rahim terbuka kembali selama persalinan.

Mayo Clinic juga menjelaskan kalau risiko robekan rahim tergolong jarang, yaitu terjadi pada kurang dari 1% perempuan yang mencoba proses VBAC ini. Meski tergolong jarang, kondisi ini tetap bisa membahayakan untuk kondisi Mama dan si Kecil.

Membutuhkan Operasi Caesar Darurat

Popmama.com/Bernika Nathania/AI

Nah, jika robekan dalam rahim terjadi, dokter perlu untuk melakukan operasi caesar darurat. Tindakan ini diperlukan saat muncul komplikasi selama persalinan atau kondisi yang mengharuskan si Kecil segera dilahirkan.

Dilansir dari Mandaya Hospital Group, VBAC yang tidak berhasil dan berakhir dengan operasi caesar darurat memiliki risiko komplikasi lebih tinggi, seperti perdarahan berat, infeksi, hingga kebutuhan transfusi darah, dibandingkan VBAC yang berhasil atau operasi caesar ulang yang sudah direncanakan.

Kekurangan Oksigen pada si Kecil

Popmama.com/Bernika Nathania/AI

Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) menyebutkan kekurangan oksigen akibat robekan rahim bisa meningkatkan risiko komplikasi serius pada bayi, termasuk cedera otak. Meski begitu, risiko ini tergolong rendah. 

Walaupun tergolong rendah, pemantauan kondisi bayi selama persalinan dan kesiapan tenaga medis untuk melakukan tindakan darurat sangat penting demi menjaga keselamatan Mama dan si Kecil. 

Selain berdampak pada Mama, ternyata komplikasi saat VBAC juga bisa memengaruhi kondisi si Kecil. Jadi, Mama perlu memahami manfaat dan risiko metode persalinan ini.

Konsultasikan rencana VBAC dengan dokter kandungan agar kondisi Mama, riwayat operasi caesar, dan kesehatan bayi bisa diperhatikan. Dengan pemantauan yang sesuai serta fasilitas kesehatan yang memadai, dokter bisa membantu menentukan metode persalinan yang paling aman bagi Mama dan si Kecil.

Curated For You

Editorial Team

Related Article