Perjuangan Vior Melahirkan, Sempat Ingin Persalinan Normal Berujung Caesar

- Vior dan Vincent resmi menyambut kelahiran anak pertama mereka, Vinica Riviora Kosasih, pada 28 November 2025 setelah melalui proses persalinan yang penuh perjuangan.
- Sejak awal kehamilan, Vior bertekad melahirkan normal dan mempersiapkan diri secara fisik serta mental, namun pembukaan tidak berkembang meski sudah diinduksi.
- Demi keselamatan ibu dan bayi, dokter akhirnya memutuskan operasi caesar setelah proses induksi gagal dan posisi bayi belum ideal untuk persalinan normal.
Kabar bahagia hadir dari Nita Vior dan Vincent Rivaldy Kosasih yang kini secara resmi menjadi seorang orangtua. Vior melahirkan buah hati pertamanya pada pada tanggal 28 November 2025 dan diberi nama Vinica Riviora Kosasih. Itu merupakan suatu momen yang dipenuhi emosi dan pastinya menjadi pengalaman yang tak akan terlupakan seumur hidupnya.
Namun, di balik kebahagiaan tersebut terdapat kisah perjuangan yang cukup berat selama proses melahirkan. Seperti banyak ibu lainnya, Vior sudah merancang segalanya sejak awal kehamilan. Ia berharap untuk melahirkan secara alami dan telah mempersiapkan diri dengan baik, baik dari segi fisik maupun mental.
Berbagai usaha dilakukannya untuk merealisasikan harapannya untuk melahirkan secara normal. Mulai dengan rutin berolahraga hingga menjalani latihan-latihan dasar supaya tubuhnya siap untuk proses persalinan. Bahkan, ketakutannya pada bedah caesar menjadi salah satu alasan utama mengapa ia memilih untuk melahirkan secara normal.
Akan tetapi, saat hari persalinan tiba, persalinan yang Vior inginkan tidak berjalan sesuai rencana. Pembukaan tak kunjung berkembang meski sudah diinduksi, sementara bayi di dalam kandungannya juga belum masuk panggul seperti yang diharapkan.
Lewat ceritanya, termasuk dalam perbincangannya di kanal YouTube Densu, Vior dan Vincent mengungkap bahwa kondisi tersebut membuat dokter akhirnya menyarankan operasi caesar demi keselamatan dirinya dan sang bayi.
Lalu, seperti apa sebenarnya perjalanan Vior dari yang awalnya ingin melahirkan normal hingga akhirnya harus menjalani operasi caesar? Popmama.com sudah merangkum ceritanya di bawah ini.
Table of Content
1. Sejak awal, Vior sudah ingin lahiran normal karena takut caesar

Sejak awal masa kehamilannya, Vior telah memiliki tekad yang kuat untuk melahirkan dengan cara normal. Pilihan ini dibuat bukan tanpa alasan, Ma. Ia mengungkap dirinya memiliki kecemasan yang cukup besar terhadap tindakan operasi caesar, terutama saat membayangkan bagaimana prosedurnya berlangsung.
Bagi Vior, hal yang paling menakutkan adalah prosedur suntikan di area punggung saat proses bius. Ia juga sempat mendengar beragam kisah darimedia sosial tentang ketidaknyamanan yang bisa dirasakan setelah menjalani operasi caesar.
“Tadinya udah latihan normal, udah jongkok-jongkok, udah olahraga, karena aku takut lahiran caesar,” kata Vior. Ia bahkan mengaku lebih memilih untuk menahan rasa sakit saat persalinan normal, karena menurutnya rasa sakit itu bersifat sementara.
Perasaan ini sebenarnya cukup dapat dipahami oleh banyak ibu. Ketakutan terhadap operasi sering kali membuat wanita hamil lebih yakin untuk memilih metode persalinan normal, terutama jika sejak awal kehamilan tidak menunjukkan adanya masalah.
Dari sini terlihat bahwa pilihan Vior bukan sesuatu yang diambil secara mendadak. Ia sudah memiliki pola pikir yang jelas sejak awal dan sungguh-sungguh mempersiapkan diri agar dapat melewati proses persalinan normal sesuai dengan harapannya.
2. Berbagai persiapan dilakukan Vior demi mewujudkan persalinan normal

Keinginan Vior untuk melahirkan secara normal nggak cuma sebatas niat, lho. Vior telah memulai persiapan jauh sebelum hari H agar tubuhnya siap menghadapi proses melahirkan.
Vior secara teratur melakukan berbagai jenis latihan fisik sederhana yang diyakini dapat memperlancar proses kelahiran, seperti olahraga ringan dan latihan squat. Pendekatan ini sering dilakukan oleh perempuan hamil untuk membantu membuka panggul dan meningkatkan kekuatan tubuh menjelang melahirkan.
Tidak hanya dari segi fisik, Vior juga sudah mempersiapkan mentalnya untuk menjalani proses melahirkan secara normal. Ia bahkan berusaha mengikuti semua petunjuk dari dokter agar peluang untuk melahirkan secara normal tetap ada.
Dalam podcast Denny Surmargo, suaminya, Vincent Kosasih, juga mengungkapkan bahwa sejak awal mereka sudah bersepakat untuk memprioritaskan melahirkan secara alami.
“Nah jadi dari awal mindsetnya udah normal pokoknya,” kata Vincent.
Persiapan yang dilakukan ini membuktikan bahwa Vior tidak setengah-setengah dalam menjalani proses kehamilannya. Ia telah berusaha seoptimal mungkin guna mewujudkan kelahiran sesuai dengan harapan yang ia inginkan.
3. Mendekati HPL, bayi Vior belum juga masuk panggul dan kontraksi belum terasa

Memasuki trimester akhir kehamilan, biasanya tubuh mulai menampilkan sinyal bahwa proses persalinan akan segera berlangsung. Salah satu tanda tersebut adalah posisi bayi yang bergerak turun ke area panggul serta kemunculan kontraksi yang berlangsung secara perlahan.
Namun, Vior tidak mengalami hal ini. Menjelang tanggal perkiraan kelahiran, keadaan tubuhnya justru terasa "tenang" tanpa adanya indikasi yang signifikan tentang persalinan.
Di podcast Densu, suaminya, Vincent, juga, menyampaikan bahwa posisi bayinya belum juga turun ke panggul, meskipun seharusnya hal itu mulai terjadi pada tahap kehamilan Vior.
“Harusnya udah mulai masuk panggul, tapi nggak masuk-masuk… kontraksi juga nggak ada,” jelas Vincent.
Meskipun demikian, kondisi bayi Vior dan Vincent saat dilakukan pemeriksaan dinyatakan dalam keadaan baik oleh dokter. Ini menimbulkan kebingungan di satu sisi tidak ada masalah yang serius, tetapi di sisi lain tubuh belum menunjukkan tanda-tanda siap untuk proses persalinan secara normal.
Pada titik ini, harapan untuk melahirkan dengan cara alami masih ada. Namun, keadaan ini mulai menimbulkan kekhawatiran bagi Vior dan Vincent karena waktu terus berlalu mendekati hari kelahiran.
4. Induksi jadi harapan terakhir Vior agar bisa lahiran normal

Ketika tanda-tanda persalinan belum juga tampak, dokter akhirnya menyarankan Vior untuk melakukan induksi sebagai metode untuk merangsang kontraksi. Dalam keadaan ini, Vior tetap memiliki harapan besar untuk bisa melahirkan secara alami.
Induksi pun dilakukan sebagai pilihan terakhir agar tubuhnya dapat bereaksi dan proses persalinan berjalan sesuai harapan. Vior juga berusaha tetap tenang dan mengikuti semua petunjuk dokter demi mewujudkan rencana awalnya.
“Kalau mau masuk panggul, harus diinduksi biar dirangsang,” ungkap Vior.
Namun, setelah beberapa jam berjalan, hasilnya ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Proses yang seharusnya membantu pembukaan justru berlangsung sangat lambat.
“Diinduksi 4 jam… kebuka cuma setengah senti dari nol,” kata Vincent Kosasih.
Meski begitu, induksi tetap dilanjutkan dengan harapan ada kemajuan. Pada saat ini, Vior masih mempertahankan keinginannya untuk melahirkan secara normal, meskipun situasi mulai terasa sulit.
5. Kondisi pembukaan Vior belum berkembang dan muncul pertimbangan medis

Walaupun proses induksi sudah berlangsung cukup lama, perkembangan pembukaan Vior masih sangat lambat. Setelah berjam-jam, pembukaannya baru berada di sekitar 2 cm dan tidak menunjukkan peningkatan yang berarti.
Di saat yang sama, kondisi bayi mulai jadi perhatian dokter. Ada faktor medis seperti posisi bayi yang belum sepenuhnya ideal untuk lahir normal. Selain itu, dokter juga mempertimbangkan kondisi bayi, termasuk adanya lilitan tali pusar di leher bayi. Meski detak jantung masih stabil, kondisi ini tetap perlu diwaspadai karena bisa meningkatkan risiko jika persalinan normal tetap dipaksakan.
Situasi ini membuat harapan awal untuk melahirkan normal mulai bergeser, dan fokus pun beralih pada hal yang paling penting memastikan keselamatan Vior dan buah hatinya.
6. Keputusan operasi caesar Vior demi keamanan bersama

Melihat keseluruhan kondisi Vior, mulai dari pembukaan yang tak kunjung bertambah, posisi bayi, hingga panjangnya proses induksi, dokter akhirnya menyarankan tindakan caesar. Apalagi usia kehamilan Vior sudah mendekati 40 minggu, sehingga risiko bila terus menunggu juga meningkat.
“Kalau udah nggak bisa induksi, kita langsung caesar, dokter nggak mau ambil risiko,” ujar Vincent Kosasih.
Meski sempat berharap bisa melalui proses persalinan normal, Vior akhirnya menerima keputusan tersebut dengan tenang. Bagi mereka berdua, keselamatan ibu dan bayi tetap menjadi prioritas utama, terlebih kini sang buah hati sudah lahir dengan sehat.
Kisah persalinan Vior mengingatkan bahwa rencana melahirkan bisa berubah kapan saja, tergantung kondisi medis yang muncul. Walaupun sempat mencoba mempertahankan persalinan normal, keputusan terbaik tetap dipilih demi keamanan ibu dan bayi.
Nah, kalau Mama, lebih nyaman mengikuti rencana awal atau fleksibel mengikuti kondisi di hari persalinan?


















