Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Tema Pekan Menyusui 2026: Perkuat Dukungan Menyusui untuk Ibu & Bayi

Tema Pekan Menyusui 2026: Perkuat Dukungan Menyusui untuk Ibu & Bayi
Freepik.com/pikisuperstar
Intinya Sih
  • Pekan Menyusui Sedunia diperingati setiap pekan pertama Agustus, dengan tema 2026 yang menekankan penguatan praktik menyusui terbukti efektif dan berkelanjutan.
  • Pemenuhan hak anak mendapat ASI hingga dua tahun membutuhkan dukungan bersama dari pemerintah, lingkungan setempat, serta orang-orang terdekat ibu.
  • Kemajuan teknologi memudahkan ibu mengakses informasi menyusui, tetapi tidak semua informasi valid atau cocok diterapkan untuk setiap orang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Dalam rangka memeringati Pekan Menyusui Sedunia yang berlangsung setiap pekan pertama bulan Agustus, WHO membuat tema yang menyokong keberlangsungan, yaitu memperkuat praktik yang telah terbukti efektif. 

Memastikan seorang anak bisa mendapatkan hak ASI selama 2 tahun lamanya merupakan tugas banyak pihak. Semua tidak bisa terwujud tanpa dukungan dari pemerintah, pihak setempat, dan orang terdekat. 

Namun dengan kemajuan teknologi, para ibu lebih mudah mendapatkan ilmu baru tentang menyusui yang belum tentu valid dan tepat dilakukan untuk semua orang. 

Untuk itu, tema Pekan Menyusui Sedunia tahun ini menekankan pada keberlangsungan yang stabil. Seperti apa tema besar tahun ini? Popmama.com akan menjabarkannya untuk Mama. 

1. Tema Pekan Menyusui Sedunia 2026

Pexels.com/RDNE Stock project
Pexels.com/RDNE Stock project

Pekan Menyusui Sedunia jatuh pada tanggal 1-7 Agustus 2026. Tema tahun ini adalah "Menyusui untuk Awal Kehidupan yang Berkelanjutan - Perkuat Praktik yang Telah Terbukti Efektif".

Tahun ini, UNICEF dan WHO di Indonesia mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat berbagai intervensi yang telah terbukti efektif dalam melindungi, mempromosikan, dan mendukung praktik menyusui. Hal ini jadi pengingat bahwa investasi berkelanjutan dalam menyusui merupakan investasi bagi kesehatan ibu dan anak, sekaligus bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia sebagai pondasi menuju Indonesia Emas 2045, demikian dilansir dari situs WHO. 


2. Cakupan capaian pemberian ASI eksklusif di Indonesia

Pexels.com/Jonathan Borba
Pexels.com/Jonathan Borba

Kabar baiknya, Indonesia memiliki kemajuan yang cukup signifikan dalam meningkatkan cakupan pemberian ASI eksklusif pada bayi usia 0-5 bulan, dari 52% pada 2017 menjadi 66,4 persen pada tahun 2024. 

Capaian ini telah melampaui target global Majelis Kesehatan Dunia sebesar minimal 60% pada 2030. Kemajuan ini didukung oleh penguatan kebijakan, investasi berkelanjutan dalam peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader masyarakat, serta integrasi dukungan menyusui kedalam layanan rutin kesehatan ibu dan anak. 

3. Rencana besar ke depan

Pexels.com/RDNE Stock project
Pexels.com/RDNE Stock project

Nantinya, upaya berkelanjutan tetap diperlukan untuk mempertahankan capaian ini, menutup kesenjangan yang masih ada, dan memastikan setiap ibu menyusui, di manapun mereka tinggal, memperoleh akses terhadap layanan dan dukungan yang berkualitas. 

"Mendukung praktik menyusui juga berarti berinvestasi pada masa depan Indonesia dengan membangun generasi yang lebih sehat, tangguh, dan mampu mencapai potensi terbaiknya," ujar perwakilan UNICEF Indonesia, Maniza Zaman dalam situs WHO. 


4. Menyusui adalah investasi masa depan

Ffreepik.com/freepik
Ffreepik.com/freepik

Lebih lanjut, Maniza Zaman mengatakan kalau, menyusui adalah tanggung jawab bersama, baik itu keluarga, tenaga kesehatan, pemberi kerja, komunitas, dan pemerintah. Semua itu memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang membuat para ibu merasa mendapatkan informasi, dukungan, dan dorongan untuk menyusui. 

Menyusui juga merupakan salah satu intervensi paling efektif untuk menyelamatkan kehidupan anak. bayi yang tidak mendapatkan ASI memiliki risiko meninggal sebelum usia 1 tahun hingga 14 kali lebih tinggi dibandingkan bayi yang memperoleh ASI eksklusif selama 6 bulan pertama dalam hidupnya. 

Di Indonesia, praktik menyusui yang tidak optimal diperkirakan menyebabkan hilangnya hampir 5,8 juta poin IQ pada anak setiap tahunnya, dengan dampak jangka panjang terhadap capaian pendidikan, produktivitas, dan pendapatan di masa depan. 


5. Sebagai bentuk kasih sayang dan perlindungan paling berharga

Freepik.com/freepik
Freepik.com/freepik

Menurut dr N Paranietharan, perwakilan WHO untuk Indonesia, menyusui merupakan salah satu bentuk kasih sayang dan perlindungan paling berharga yang bisa diberikan seorang ibu pada anaknya. Namun, seorang ibu tidak bisa menjalaninya seorang diri. 

"Setiap ibu berhak memperoleh dukungan yang dapat dipercaya, layanan kesehatan berkualitas, serta perlindungan dari praktik pemasaran pengganti ASI yang tidak tepat. Dengan kepemimpinan yang kuat dan aksi bersama, kita dapat memastikan setiap anak memperoleh awal kehidupan yang paling sehat dan kesempatan untuk tumbuh secara optimal," lanjut dr, N Paranietharan. 

Melalui peringatan Pekan Menyusui Sedunia tahun ini, UNICEF dan WHO di Indonesia menyerukan penguatan upaya untuk melindungi dan mendukung praktik menyusui, termasuk melalui implementasi dan penegakan kebijakan serta regulasi Indonesia yang telah kuat. Sehingga, para ibu dan keluarga bisa memperoleh manfaat secara optimal dari berbagai bentuk perlindungan dan dukungan yang tersedia. 

Semangat mengASIhi!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More