Bahaya Konsumsi Makanan Olahan untuk Ibu Hamil, Ketahui Sejak Promil!

- Penelitian menunjukkan konsumsi makanan ultra-proses selama kehamilan dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur hingga 11% untuk setiap kenaikan 10% asupan kalori dari jenis makanan ini.
- Makanan ultra-proses yang tinggi garam dan lemak tidak sehat dikaitkan dengan meningkatnya risiko tekanan darah tinggi serta preeklamsia pada ibu hamil.
- Asupan tinggi makanan ultra-proses berpotensi menyebabkan bayi lahir dengan ukuran lebih kecil dan memicu peradangan yang mengganggu metabolisme tubuh ibu selama kehamilan.
Saat sedang hamil, menjaga pola makan memang bukan hal yang mudah, ya, Ma. Di tengah rasa mual, nafsu makan yang naik turun, hingga keinginan makan yang serba praktis, camilan kemasan atau fast food sering jadi pilihan paling cepat.
Padahal, tanpa disadari, makanan tersebut termasuk dalam kategori ultra-processed food (UPF) atau makanan ultra-proses. Jenis makanan ini biasanya sudah melalui banyak tahapan pengolahan dan mengandung tambahan seperti gula, garam, lemak tidak sehat, hingga bahan aditif.
Sebuah studi yang dirangkum oleh US Right to Know (USRTK) menemukan bahwa konsumsi makanan ultra-proses selama kehamilan berkaitan dengan meningkatnya risiko berbagai komplikasi. Bahkan, rata-rata lebih dari setengah asupan kalori harian ibu hamil dalam studi tersebut berasal dari UPF, lho, Ma.
Contoh makanan ultra-proses yang sering dikonsumsi sehari-hari antara lain mie instan, nugget, sosis, keripik kemasan, biskuit manis, minuman bersoda, hingga fast food seperti burger dan ayam goreng.
Lalu, dari penelitian tersebut, apa saja sih risiko yang perlu Mama waspadai? Berikut Popmama.com kasih rangkumannya!
1. Meningkatkan risiko kelahiran prematur

Sering mengonsumsi makanan ultra-proses selama hamil dapat meningkatkan risiko bayi lahir prematur.
Penelitian menunjukkan bahwa setiap peningkatan 10% asupan kalori dari makanan ultra-proses berkaitan dengan kenaikan risiko kelahiran prematur hingga sekitar 11%. Bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu tentu lebih rentan mengalami gangguan kesehatan, mulai dari masalah pernapasan hingga tumbuh kembang.
2. Meningkatkan risiko tekanan darah tinggi hingga preeklamsia

Makanan ultra-proses umumnya tinggi garam dan lemak tidak sehat, yang dapat memengaruhi tekanan darah selama kehamilan.
Dalam studi tersebut, konsumsi UPF yang lebih tinggi juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko gangguan hipertensi dalam kehamilan, termasuk preeklamsia. Bahkan, setiap peningkatan konsumsi UPF juga berkaitan dengan kenaikan risiko gangguan tekanan darah sekitar 5%.
Kondisi ini tentu tidak bisa dianggap sepele karena dapat membahayakan kesehatan ibu sekaligus janin.
3. Berisiko menyebabkan bayi lahir dengan ukuran lebih kecil

Tidak hanya berdampak pada ibu, pola makan selama kehamilan juga berpengaruh pada kondisi bayi.
Konsumsi makanan ultra-proses yang tinggi dikaitkan dengan risiko bayi lahir dengan ukuran lebih kecil dari usia kehamilan (small-for-gestational-age). Kondisi ini bisa menjadi tanda bahwa pertumbuhan janin tidak optimal selama di dalam rahim.
4. Memicu peradangan dan mengganggu metabolisme tubuh

Di balik rasanya yang lezat, makanan ultra-proses dapat memicu peradangan (inflamasi) dalam tubuh.
Para peneliti menjelaskan bahwa hal ini bisa terjadi karena kombinasi berbagai faktor, seperti kandungan aditif, rendahnya nutrisi penting, hingga gangguan pada hormon dan bakteri baik di usus. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan metabolisme dan berdampak pada kesehatan kehamilan secara keseluruhan.
Dalam jangka panjang, peradangan yang terjadi terus-menerus bahkan berpotensi memengaruhi perkembangan janin, termasuk kemungkinan perubahan epigenetik.
Pada akhirnya, menentukan pilihan makanan saat hamil memang penuh tantangan. Di satu sisi, makanan praktis terasa lebih mudah dijangkau. Namun di sisi lain, kualitas nutrisi tetap jadi hal penting yang tidak boleh diabaikan.
Mulai dari sekarang, Mama bisa mencoba lebih selektif dalam memilih makanan dan memperbanyak konsumsi makanan segar yang lebih bernutrisi.
Jadi, sudahkah Mama lebih memperhatikan apa yang dikonsumsi setiap hari selama kehamilan?


















