Selama ini, pap smear menjadi salah satu cara paling umum untuk melakukan skrining kanker serviks. Kini, ada opsi lain yang lebih praktis dan mudah yaitu IVA test. Seperti apa tesnya?
IVA test adalah salah satu cara mudah dan sederhana untuk mendeteksi dini kanker serviks. Cara ini dinilai lebih aman dan efektif menemukan kanker serviks sejak tahap awal, dengan begitu, peluang kesembuhan pun bisa lebih tinggi.
Tes ini dianggap lebih mudah dilakukan dibanding dengan pap smear. Selain itu, harganya pun lebih terjangkau, lho. Nilai plus lainnya, hasilnya juga bisa diketahui dalam waktu yang lebih singkat sehingga penanganan lebih lanjut bisa segera diberikan.
Seperti apa detailnya? Popmama.com akan merangkumkanya untuk Mama.
Mengenal IVA Test untuk Skrining Kanker Serviks, Solusi Baru!

1. Mengenal seperti apa prosedur IVA test
Pada dasarnya, prosedur IVA test cukup sederhana dan bisa dilakukan di pelayanan kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas atau klinik. Tes ini bisa dilakukan oleh dokter spesialis ginekologi, dokter umum, bidan, maupun perawat terlatih.
Berikut adalah prosedur pemeriksaan IVA:
Dokter atau perawat akan meminta pasien untuk membuka pakaian dan berbaring di atas meja periksa dengan posisi lutut ditekuk dan paha terbuka.
Dokter akan memasukkan alat yang disebut dengan spekulum untuk membuat dinding vagina tetap terbuka, dengan begitu bagian mulut rahim bisa terlihat.
Dokter akan mengusap permukaan serviks dengan cotton bud yang telah dicelupkan ke cairan asam asetat dengan kadar 3-5%.
Hasil IVA test akan diperoleh setelah pengamatan selama 1 menit dengan melihat ada tidaknya perubahan pada area serviks yang telah dioles dengan asam asetat tersebut.
Jika tidak terjadi perubahan atau reaksi apapun terhadap permukaan serviks yang telah dioleskan, maka kondisi serviks normal atau sehat.
2. Hasil tanda IVA test
Hasil IVA positif ditandai dengan munculnya bercak putih yang bisa menjadi pertanda kehadiran sel prakanker pada serviks. Tes ini juga bisa menunjukkan jika di bagian mulut rahim mengalami peradangan atau kelainan jinak lainnya, seperti contoh, polip.
Jika hasilnya positif, dokter mungkin dapat menegakkan diagnosis dan melakukan tindakan penanganan atau biopsi pada kunjungan yang sama. Atau, mendapat rujukan ke dokter spesialis ginekologi jika melakukan tes dengan dokter umum atau bidan.
3. Syarat pemeriksaan IVA
Untuk memastikan hasil IVA test akurat, maka harus ada syarat-syarat yang mesti dipenuhi. Berikut adalah syaratnya:
Tidak sedang haid.
Tidak sedang hamil.
Sudah pernah melakukan hubungan seksual.
Tidak melakukan hubungan seksual selama 24 jam sebelum menjalani pemeriksaan.
4. Berapa akurasi dari IVA test?
Pada umumnya, hasil dari berbagai studi menunjukkan bahwa tingkat akurasi IVA test sebagai deteksi dini awal kanker serviks cukup baik. Kemampuan identifikasi tes ini untuk hasil yang positif sekitar 62,5%-96%.
Dibandingkan dengan pap smear, tentu angka ini lebih tinggi. Karena tingkat akurasi pap smear untuk hasil positif ada di angka 10-75%.
Sementara itu, kemampuan IVA test untuk mengidentifikasi hasil negatif yang benar adalah 32,5-98,8%, sedangkan spesifitas pap smear lebih tinggi yaitu antara 42-100%.
Semua kembali lagi pada pribadi masing-masing. Pastikan untuk memilih yang paling nyaman, ya.
Jangan takut, karena skrining kanker serviks memang dianjurkan untuk dilakukan setidaknya sekali pada perempuan di usia 35-40 tahun. Jika memungkinkan, lakukan tes 5 tahun sekali pada perempuan berusia 35-55 tahun atau 3 tahun sekali pada perempuan berusia 25-60 tahun.