”Satu hal yang perlu ditekankan selalu adalah HPV is not sexual transmitted disease, tidak selalu. Secara ilmiah sangat bisa ditransmisikan melalui hubungan seksual, tapi HPV virus yang ramah, jabatan tangan saja HPV bisa ditularkan. Bisa juga saat di toilet atau gym center,” jelas dr. Tofan ditemui dalam acara Diseminasi Nasional Hasil Proyek Percontohan Skrining Kanker Leher Rahim di Kementerian Kesehatan RI pada Selasa, (27/1/2026).
Penting Diketahui, Kena Virus HPV Bukan Berarti Terkena Kanker Serviks

- HPV tidak selalu ditularkan melalui hubungan seksual
- Punya HPV bukan berarti kena kanker serviks
- Jenis HPV yang sebabkan kanker dan kutil pada bagian tubuh
Human Papillomavirus atau HPV merupakan infeksi virus yang seringkali menyerang manusia. Terdapat lebih dari 100 jenis virus HPV yang bisa menyebabkan kutil, infeksi hingga bisa menyebabkan kanker. Secara global kanker serviks menempati urutan keempat jenis kanker yang paling sering terjadi pada perempuan.
Beberapa jenis HPV genital lebih sering menyerang perempuan dan sebagian besar infeksi virus ini menjadi penyebab utama kanker leher rahim atau serviks. Dengan kata lain, HPV tidak serta-merta dapat menyebabkan kanker serviks ya, Ma, namun bisa juga menyebabkan infeksi pada bagian tubuh lainnya seperti tangan maupun tenggorokan.
Selain itu, HPV juga tidak hanya disalurkan melalui hubungan seksual, namun bisa terjadi akibat kontak pada gagang pintu atau saat berjabatan tangan misalnya.
Beberapa ahli menyebut bahwa meski HPV dikatakan sebagai penyebab utama kanker serviks, sejumlah faktor lain seperti, gaya hidup hingga sistem imun yang lemah dapat memengaruhi munculnya sel kanker pada mulut rahim.
Berikut ini Popmama.com merangkum sejumlah informasi mengenai pentingnya mengetahui virus HPV dan bagaimana HPV bisa menyebabkan kanker serviks. Disimak ya!
1. HPV tidak selalu ditularkan melalui hubungan seksual

Human Papillomavirus atau HPV menjadi penyebab utama sebagian besar kasus kanker leher rahim. Dilansir Cancer Council, kanker serviks juga dapat terjadi disebabkan oleh faktor lainnya seperti kurangnya memerhatikan kebersihan diri. Sehingga HPV tidak selalu dikategorikan sebagai Sexual Transmitted Disease (STD) atau infeksi menular seksual.
Hal serupa juga dijelaskan oleh Dr. dr. Tofan Widya Utami, Sp.OG(K)Onk dari HOGI (Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia), bahwa HPV sangat bisa terinfeksi melalui hubungan seksual maupun melalui kontak langsung seperti berjabatan tangan.
2. Punya HPV bukan berarti kena kanker serviks

Lebih lanjut, dr. Tofan meluruskan pemahaman mengenai HPV dan hubungannya dengan kanker serviks. Meski HPV sangat mudah menular melalui kontak fisik non-aktivitas seksual, HPV yang tertular tidak dapat menyebabkan kanker serviks, namun dari kontak langsung tersebut seseorang bisa terkena penyakit lain seperti manusia akar, kutil kelamin atau kutil tangan.
“HPV yang terpapar saat kita berada di toilet atau gym center misalnya, tidak serta merta menjadi kanker serviks. Karena untuk menjadi kanker, dia perlu intens sampai di serviks kita. Serviks kita tujuh sampai 8 senti dari liang vagina. Perlu untuk dibedakan ya, memiliki HPV bukan berarti terkena kanker serviks,” jelas dr. Tofan.
3. Jenis HPV yang sebabkan kanker dan kutil pada bagian tubuh

Seperti yang dijelaskan oleh dr. Tofan, HPV sangat mudah menular. Terutama HPV dapat menyerang kulit, area genital dan tenggorokan.
Beberapa infeksi HPV dapat menyebabkan kutil pada area tangan maupun pada kelamin, namun jika HPV menyerang area genital, ini dapat menyebabkan pertumbuhan sel abnormal pada leher rahim dan berkembang jadi kanker serviks.
HPV yang bisa berkembang jadi kanker umumnya adalah tipe 16 dan 18 yang menyebabkan 70% kanker serviks secara global, dilansir dari World Health Organization.
Selain itu ada juga yang dapat menyebabkan kanker anus, kanker penis, kanker tenggorokan, vagina dan vulva.
Sedangkan HPV pada area kelamin bisanya disebabkan oleh tipe 6 dan 11, yang dapat juga menyebabkan kutil pada bagian tubuh lainnya, dan biasanya akan menyebabkan gatal.
4. HPV genital bisa memburuk jika punya masalah kesehatan dan gaya hidup kurang sehat

Individu yang terpapar virus HPV tertama pada bagian genital memiliki risiko paling besar untuk mengalami kanker leher rahim jika memiliki beberapa masalah kesehatan seperti imun tubuh lemah hingga pada gaya hidup yang tidak sehat.
Melansir Cancer Council, berikut beberapa kondisi yang dapat memicu berkembangnya kanker serviks:
Merokok
Paparan zat kimia berbahaya dalam rokok meningkatkan risiko kanker. Perokok memiliki risiko dua kali lipat terkena kanker serviks dibandingkan yang tidak merokok.
Penggunaan pil KB jangka panjang
Konsumsi pil kontrasepsi dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko kanker serviks. Risiko ini akan berangsur menurun setelah penggunaan dihentikan.
Kehamilan berulang
Perempuan yang pernah menjalani tiga kali atau lebih kehamilan cukup bulan memiliki risiko lebih tinggi, kemungkinan karena paparan HPV yang lebih sering.
Sistem imun yang lemah
Kondisi seperti infeksi HIV atau penggunaan obat yang menekan sistem kekebalan tubuh dapat meningkatkan risiko kanker serviks.
Riwayat keluarga
Memiliki anggota keluarga dengan kanker serviks meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami penyakit ini.
Riwayat aktivitas seksual
Mulai berhubungan seksual di usia muda, memiliki banyak pasangan seksual, atau berhubungan dengan pasangan yang terinfeksi HPV dapat meningkatkan risiko.
Infeksi klamidia
Infeksi bakteri ini cukup umum dan dapat menimbulkan masalah pada sistem reproduksi. Riwayat klamidia juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker serviks.
Pola makan buruk
Kurangnya konsumsi buah dan sayur dapat meningkatkan risiko kanker leher rahim.
5. Skrining DNA HPV deteksi dini kanker serviks

WHO menganjurkan agar perempuan setidaknya melakukan skrining yang bertujuan untuk mendeteksi dan mencegah kanker serviks. Tes berbasis DNA HPV ini terbukti lebih efektif dalam mencegah kanker serviks dibandingkan dengan metode Pap smear.
Skrining berbasis DNA HPV ini telah dilakukan di Indonesia dengan wilayah percontohannya adalah Surabaya dan Sidoarjo.
Dari studi implentasi yang dilakukan tersebut, DNA HPV terbukti efektif bagi para perempuan untuk mendeteksi, mencegah dan mendapatkan pengobatan lebih cepat.
Masih melansir dari WHO, oleh karena itu, di samping vaksinasi nasional terhadap HPV pada anak perempuan dan laki-laki, WHO merekomendasikan agar negara-negara memastikan pengujian berbasis DNA secara berkala untuk HPV guna mengidentifikasi perempuan yang memiliki atau berisiko terkena prakanker serviks.
Sekadar informasi, di Indonesia sendiri DNA HPV merupakan tes kesehatan gratis ya.
6. Kapan sebaiknya vaksin HPV dilakukan?

Pemberian vaksin HPV dianjurkan dimulai sejak anak berusia 9 tahun ya Pa, Ma, dan wajib untuk laki-laki dan perempuan. Vaksinasi adalah cara terbaik untuk mencegah infeksi HPV baik infeksi.
Dilansir dari Centers for Disease Control and Prevention berikut ketentuannya:
Anak berusia 9-14 tahun sebelum aktif secara seksual.
Jika belum mendapatkan vaksin pada rentang usia tersebut, direkomendasikan hingga individu berusia 26 tahun.
Vaksin HPV tidak dianjurkan untuk individu yang berusia lebih dari 26 tahun, kecuali atas rekomendasi dari dokter.
Vaksin HPV tidak dianjurkan selama kehamilan.
Namun perlu diingat, bahwa vaksin HPV untuk mencegah infeksi virus yang baru, bukan untuk mengobati infeksi atau penyakit HPV yang sudah ada. Vaksin ini bekerja lebih baik jika diberikan sebelum terpapar HPV.


















