Fakta Medis & Agama: Musim Hujan Waktu yang Tepat untuk Program Hamil
Terapi hujan bahkan telah dijelaskan di dalam Al-Qur'an, lho!
22 Juni 2021
Follow Popmama untuk mendapatkan informasi terkini. Klik untuk follow WhatsApp Channel & Google News
Setiap pasangan suami istri pasti mendambakan lahirnya seorang bayi dalam kehidupan rumah tangga mereka. Sayangnya, terkadang meskipun sudah menikah bertahun-tahun, mereka masih belum dikaruniai keturunan untuk melengkapi kebahagiannya.
Berbagai usaha pun sudah dilakukan agar cepat hamil. Namun, apakah kamu pernah mencoba terapi hujan? Terapi ini hanya memanfaatkan air hujan ketika hujan turun.
Dipercaya, doa dan keinginan yang kamu panjatkan kepada Allah SWT saat musim hujan bisa terkabulkan. Sebagaimana Allah SWT berfirman:
“Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”
(Q.S Nuh : 10-12).
Ayat di atas menjelaskan, bahwa kamu dianjurkan agar banyak beristigfar dan mengambil manfaat dari hujan, yakni dengan cara mandi hujan dan minum air hujan.
Mengapa demikikan? Pasalnya, manusia adalah makhluk organik yang tercipta dari tanah dan tanah akan subur dengan air hujan. Dianjurkan pula kepada kaum muslimin yang sulit memiliki keturunan untuk mandi hujan dan minum air hujan.
Selain itu, alangkah baiknya saat hujan kamu memperbanyak berdoa, termasuk berdoa meminta keturunan karena di situlah waktu yang mustajab. Rasulullah bersabda:
“Carilah doa yang mustajab pada tiga keadaan, bertemunya dua pasukan, menjelang salat dilaksanakan, dan saat hujan turun”
(Imam Syafi’i dalam Al Umm dan Al Baihaqi dalam Al Ma’rifah dari Makhul secara mursal).
Begitu pula dalam hadis dari Sahl bin Sa’d, beliau berkata bahwa Rasulullah bersabda:
“Dua doa yang tidak akan ditolak, doa ketika azan dan doa ketika turunnya hujan”
(HR. Al Hakim dan Al Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadis ini hasan).
Nah, setelah mengetahui firman Allah dan sabda Rasulullah, tentunya kamu semakin yakin dengan terapi hujan ini, bukan? Tak hanya dari segi agama, dari segi medis pun membutikan bahwa musim hujan adalah waktu yang tepat untuk melakukan program hamil.
Penasaran bagaimana caranya? Berikut ulasan lengkap dari Popmama.com yang wajib kamu ketahui dan praktikan!
Editors' Pick
1. Tata cara melakukan terapi hujan
Selain berusaha dalam segi medis, yakni meminum obat, berolahraga, hingga mengonsumsi makanan sehat, kamu juga perlu berusaha dari sisi agama. Salah satu hal yang dapat kamu lakukan adalah terapi hujan.
Berikut beberapa langkah yang dilakukan saat terapi hujan:
- Berdoa memohon keberkahan dan penuh harap kepada yang Maha Kuasa.
- Sediakan wadah untuk menampung air hujan (siapkan wadah yang memiliki permukaan lebar atau besar).
- Mandi hujan dilakukan setelah 15 sampai 30 menit dari hujan pertama turun ke tanah.
- Simpan wadah di tempat yang terbuka dan lumayan tinggi, agar tidak terkena cipratan air hujan dari tempat lain.
- Jika sudah merasa cukup dan mulai terasa dingin, segeralah berhenti.
- Air yang sudah ditampung, diminum langsung oleh kamu dan pasangan.
Perlu ingat bahwa cara apapun itu harus kalian kembalikan lagi kepada Allah SWT. Sebagai umat muslim yang beriman, kamu hanya bisa berusaha dan berdoa, selebihnya Allah yang menentukan.
2. Fakta bahwa pembuahan lebih banyak terjadi di bulan-bulan dengan suhu rendah
Dr. Grunebaum menuliskan bahwa studi yang dilakukan oleh Engle dan Shelesnyak pada 1934 melaporkan bila frekuensi perempuan mengalami gangguan menstruasi lebih tinggi pada bulan-bulan musim panas.
Sementara, survei lain melaporkan jumlah perempuan yang keguguran mengalami peningkatan juga pada bulan-bulan musim panas, namun saat suhunya lebih hangat.
Studi lebih baru dengan tema serupa di Hong Kong menemukan bahwa pembuahan lebih banyak terjadi pada bulan-bulan dengan suhu rendah, yaitu Desember hingga Februari. Sementara, tingkat pembuahan pada bulan-bulan lainnya sekitar 30 persen lebih rendah.
Berdasarkan berbagai temuan penelitian tersebut, dr. Grunebaum meyakini peluang terjadinya kehamilan lebih besar bila pasangan mempertimbangkan antara perubahan iklim dan program hamil.