Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Apakah Ibu Hamil Diabetes Bisa Melahirkan Normal? Ini Faktanya
Pexels/Towfiqu barbhuiya
  • Ibu hamil dengan diabetes gestasional maupun diabetes sebelum hamil tetap berpeluang melahirkan normal bila tidak ada kontraindikasi obstetri dan kondisi ibu serta janin baik.
  • Kontrol gula darah melalui pola makan, aktivitas fisik, pemantauan, dan insulin bila diperlukan penting untuk menekan risiko makrosomia, hipoglikemia bayi, serta komplikasi persalinan.
  • Metode persalinan ditentukan dari kondisi menyeluruh, termasuk usia kehamilan, posisi dan perkiraan berat janin; operasi caesar dipertimbangkan pada indikasi medis seperti janin diperkirakan mencapai 4.500 gram.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Diabetes saat hamil dapat meningkatkan risiko komplikasi selama kehamilan maupun persalinan. Meski begitu, kondisi ini tidak selalu berarti ibu hamil harus menjalani operasi caesar, meski kebanyakan kasus ibu hamil dengan diabetes melakukan persalinan caesar untuk lebih amannya.

Namun, menurut dr. Arie Aldila P., Sp.OG, FICS, Int. Aff. RANZCOG di salah satu konten Instagram Reels KMNC Clinic @kmnc.clinic, masih ada kemungkinan ibu hamil diabetes bisa melahirkan normal. Tentunya dengan syarat yang ketat! Ini berlaku untuk diabetes melitus gestasional (DMG) atau diabetes sebelum hamil (pregestational diabetes).

Berikut Popmama.com rangkum fakta yang perlu diketahui jika ibu hamil diabetes dan sedang mempersiapkan persalinan.

1. Ibu hamil diabetes bisa melahirkan secara normal dengan syarat tertentu

Unsplash/olivialu10

dr. Arie dalam konten itu menyebut berat bayi normal saat dilahirkan adalah 2,4-4 kg. Sehingga ibu hamil yang memiliki diabetes sebaiknya menjaga dan mengontrol diabetesnya, sehingga dampaknya tidak akan besar ke janin.

“Pentingnya ibu cek diabetes pada kehamilan di usia 24-28 minggu. Diabetes pada kehamilan harus dikontrol supaya tidak berakibat banyak cukup besar ke janinnya sehingga ibu bisa melahirkan normal,” jelas dr. Arie.

Hal ini senada dengan penelitian dari berbagai jurnal luar negeri. Diabetes gestasional bukan merupakan indikasi mutlak untuk operasi caesar. 

Menurut pedoman dari National Institute for Health and Care Excellence (NICE) dan American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), persalinan pervaginam tetap dapat direncanakan apabila tidak terdapat kontraindikasi obstetri lainnya serta kondisi ibu dan janin dalam keadaan baik.

Dokter akan mempertimbangkan berbagai faktor sebelum menentukan metode persalinan, seperti usia kehamilan, perkiraan berat janin, posisi bayi, kontrol gula darah, hingga kondisi serviks menjelang persalinan.

2. Tidak semua diabetes pada kehamilan memiliki kondisi yang sama

Pexels/Klaus Nielsen

Diabetes melitus gestasional merupakan diabetes yang pertama kali muncul saat hamil, umumnya terdiagnosis pada trimester kedua atau ketiga akibat perubahan hormon kehamilan yang memengaruhi kerja insulin. Pada sebagian besar kasus, kadar gula darah akan kembali normal setelah persalinan. 

Sementara itu, diabetes sebelum hamil adalah kondisi ketika mama telah didiagnosis diabetes tipe 1 atau tipe 2 sebelum kehamilan terjadi, sehingga pengelolaan gula darah perlu dilakukan sejak awal kehamilan hingga setelah melahirkan.

Meski memiliki penyebab dan penanganan yang berbeda, ibu hamil dengan diabetes gestasional maupun diabetes yang sudah ada sebelum hamil sama-sama berpeluang melahirkan secara normal. 

Diabetes Melitus Gestasional (DMG)

Diabetes sebelum hamil (Pregestational Diabetes)

Baru muncul atau pertama kali terdiagnosis saat hamil, biasanya pada trimester kedua atau ketiga.

Sudah menderita diabetes sebelum hamil, baik diabetes tipe 1 maupun tipe 2.

Disebabkan oleh perubahan hormon kehamilan yang membuat tubuh lebih resisten terhadap insulin.

Disebabkan oleh diabetes yang memang sudah ada sebelum kehamilan terjadi.

Pada banyak kasus, kadar gula darah kembali normal setelah melahirkan.

Diabetes tetap ada setelah melahirkan sehingga memerlukan penanganan jangka panjang.

Meningkatkan risiko terkena diabetes tipe 2 di kemudian hari.

Sudah memiliki diabetes kronis sehingga perlu kontrol gula darah seumur hidup.

Biasanya didiagnosis melalui tes toleransi glukosa (OGTT) pada usia kehamilan 24–28 minggu atau lebih awal jika berisiko tinggi.

Biasanya sudah diketahui sebelum hamil melalui pemeriksaan gula darah atau HbA1c.

3. Gula darah yang terkontrol menjadi kunci persalinan normal

Pexels/Tom Fisk

Dalam unggahan itu, dr. Arie menyebut dan menekankan gula darah yang terkontrol Ternyata ini ada kaitannya dengan persalinan yang akan dijalani ibu hamil dengan diabetes nantinya.

Ketika kadar gula darah tetap berada dalam target yang ditentukan dokter selama kehamilan, akan menguntungkan untuk ibu hamil itu sendiri. Dokter akan mengatur kontrol gula darah melalui pola makan, aktivitas fisik, pemantauan gula darah, dan penggunaan insulin bila diperlukan.

Kontrol glikemik yang baik dapat menurunkan risiko berbagai komplikasi, seperti bayi berukuran besar (makrosomia), hipoglikemia pada bayi baru lahir, hingga kebutuhan operasi caesar akibat komplikasi persalinan.

Selain itu, selama proses persalinan kadar gula darah ibu juga biasanya akan dipantau secara berkala agar tetap stabil.

4. Ukuran bayi menjadi salah satu pertimbangan metode persalinan

Pexels/Saúl Sigüenza

Salah satu komplikasi diabetes saat hamil adalah makrosomia, yaitu kondisi ketika bayi memiliki ukuran lebih besar dari rata-rata akibat paparan kadar gula darah yang tinggi selama kehamilan.

Makrosomia dapat meningkatkan risiko distosia bahu (shoulder dystocia), yaitu kondisi ketika bahu bayi tersangkut setelah kepala lahir. Oleh karena itu, dokter akan memperkirakan berat janin melalui pemeriksaan USG menjelang persalinan.

Menurut ACOG, operasi caesar elektif dapat dipertimbangkan apabila perkiraan berat janin mencapai 4.500 gram atau lebih pada ibu dengan diabetes, karena risiko distosia bahu meningkat pada kondisi tersebut.

5. Operasi caesar dilakukan bila ada indikasi medis

Pexels/Jonas Kakaroto

Sudah disebutkanya kalau tidak semua ibu dengan diabetes memerlukan operasi caesar. Namun, tindakan ini dapat direkomendasikan apabila terdapat kondisi tertentu, seperti:

  • Perkiraan berat janin sangat besar

  • Gawat janin

  • Plasenta previa

  • Posisi bayi sungsang atau melintang

  • Riwayat operasi caesar dengan indikasi tertentu

  • Komplikasi kehamilan lain seperti preeklamsia

Keputusan mengenai metode persalinan akan disesuaikan dengan kondisi ibu hamil dan janin secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan diagnosis diabetes.

Itulah informasi mengenai peluang ibu hamil dengan diabetes untuk menjalani persalinan normal. Selama kadar gula darah terkontrol dan kondisi Mama serta janin terus dipantau oleh dokter, persalinan pervaginam tetap dapat menjadi pilihan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article