"Hipersalivasi itu memang normal pada saat hamil. Tetapi harus menjaga supaya pada saat meludah itu, di tempat yang memang sopan dan cara meludahnya pun juga sopan," ujar dr. Keven dalam unggahan video di Instagram pribadinya, @dokterkeven.
Apakah Normal Sering Ngeludah saat Hamil? Ini Kata Dokter

Sering meludah saat hamil umumnya normal akibat hipersalivasi, yaitu produksi air liur berlebih, yang dapat dipengaruhi perubahan estrogen, mual, atau hiperemesis gravidarum.
Meski biasanya tidak berbahaya, hipersalivasi dapat mengganggu aktivitas dan memicu dehidrasi, bau mulut, bibir kering, sulit berbicara, serta iritasi kulit sekitar mulut.
Penanganan disesuaikan penyebabnya, termasuk menjaga kebersihan mulut dan konsultasikan dengan dokter, segera periksa bila disertai sulit bernapas atau menelan, demam, nyeri dada, atau kelemahan otot.
Selama hamil, tubuh mama mengalami banyak perubahan. Selain mual, muntah, atau perubahan nafsu makan, sebagian ibu hamil juga mengeluhkan air liur yang terasa lebih banyak dari biasanya. Akibatnya, Mama mungkin jadi lebih sering meludah karena merasa mulut terus dipenuhi air liur.
Kondisi ini tentu membuat sebagian ibu hamil bertanya-tanya, apakah sering meludah saat hamil termasuk hal yang normal atau justru perlu diwaspadai?
Agar Mama lebih memahami kondisi ini, berikut Popmama.com telah merangkum penjelasannya untuk Mama.
Table of Content
Apakah Normal Sering Ngeludah saat Hamil?

Sering meludah saat hamil umumnya terjadi karena hipersalivasi, yaitu kondisi ketika produksi air liur menjadi lebih banyak dari biasanya. Menurut dr. Keven Pratama Manas Tali, Sp.OG, kondisi ini memang dapat terjadi selama kehamilan.
Meski begitu, dr. Keven mengingatkan bahwa hipersalivasi bukan berarti ibu hamil boleh meludah sembarangan. Cara dan tempat saat meludah tetap perlu diperhatikan.
dr. Keven juga menegaskan agar ibu hamil tetap menjaga etika meskipun mengalami produksi air liur yang berlebihan.
"Jadi, jangan menganggap bahwa hamil ini terus jadi hipersalivasi, terus bisa meludah dimana saja dan kemana saja. Jadi, bukan seperti itu ya. Tetap harus menjaga etika, menjunjung tinggi etika,” tegasnya.
Penyebab Hipersalivasi saat Hamil

Pada ibu hamil, hipersalivasi dapat dipicu oleh perubahan kadar hormon estrogen yang terjadi selama kehamilan. Kondisi ini juga lebih sering dialami oleh ibu hamil yang mengalami hiperemesis gravidarum atau bentuk morning sickness yang lebih berat.
Selain itu, rasa mual yang sering muncul selama kehamilan dapat membuat ibu hamil lebih jarang menelan. Akibatnya, air liur lebih banyak berkumpul di dalam mulut sehingga Mama merasa perlu terus meludah.
Selain faktor kehamilan, hipersalivasi juga dapat dipicu oleh beberapa kondisi lain, seperti:
- Trauma atau cedera pada rahang.
- Terpapar racun.
- Sariawan.
- Gigi berlubang.
- Menggunakan gigi palsu.
- Mengonsumsi obat penenang.
- Infeksi pada rongga mulut.
- Infeksi serius, seperti tuberkulosis dan rabies.
- Refluks asam lambung.
Dampak Hipersalivasi yang Bisa Dirasakan Ibu Hamil

Meski pada dasarnya tidak berbahaya, hipersalivasi tetap bisa menimbulkan beberapa keluhan yang membuat aktivitas sehari-hari menjadi kurang nyaman.
Produksi air liur yang berlebihan dapat membuat mulut terus terasa penuh, membuat Mama lebih sering meludah, atau terasa sulit menelan. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi ini juga dapat menyebabkan beberapa keluhan lain, seperti:
- Dehidrasi.
- Kesulitan merasakan makanan.
- Bau mulut.
- Bibir kering.
- Kesulitan berbicara.
- Kerusakan hingga infeksi pada kulit di sekitar mulut.
Cara Mengatasi Hipersalivasi saat Hamil

Penanganan hipersalivasi akan disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. Pada banyak kasus, kondisi ini dapat membaik setelah penyebab utamanya ditangani.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membantu mengatasi hipersalivasi meliputi:
- Menjaga kebersihan mulut dengan menyikat gigi secara teratur, menggunakan obat kumur antiseptik, dan memeriksakan gigi secara rutin.
- Menggunakan obat-obatan yang diresepkan dokter, seperti glycopyrrolate, untuk membantu mengurangi produksi air liur.
- Menjalani terapi wicara untuk membantu meningkatkan kontrol otot mulut dan proses menelan.
- Pada kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan suntikan botulinum toxin (Botox) ke kelenjar ludah untuk membantu mengurangi produksi air liur.
- Operasi dapat menjadi pilihan, meski tindakan ini jarang dilakukan dan umumnya dipertimbangkan jika penyebab hipersalivasi tidak dapat diatasi dengan cara lain.
Karena penyebab hipersalivasi bisa berbeda pada setiap orang, penting bagi Mama untuk berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan diagnosis dan penanganan yang sesuai.
Kapan Hipersalivasi saat Hamil Perlu Diperiksakan ke Dokter?

Hipersalivasi saat hamil umumnya tidak berbahaya. Namun, Mama sebaiknya segera mencari pertolongan medis apabila kondisi ini terasa sangat berat atau disertai gejala lain yang mengganggu.
Beberapa tanda yang perlu segera diperiksakan ke dokter, yaitu:
- Kesulitan bernapas.
- Kesulitan menelan.
- Demam.
- Nyeri dada.
- Kelemahan otot.
Pemeriksaan oleh dokter diperlukan agar penyebab hipersalivasi dapat diketahui dan Mama mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi yang dialami.
Nah, itulah penjelasan mengenai apakah normal sering ngeludah saat hamil. Semoga informasi ini membantu, ya, Ma!










-vY6cY3n4v06nL1ywwwoBLzO7ZwIeraQL.png)










