Apa Risiko Mama yang Terkena Virus Roseola saat Hamil? 

Tidak berbahaya, tapi tetap perlu waspada

9 Mei 2021

Apa Risiko Mama Terkena Virus Roseola saat Hamil 
Pexels/Amina Filkins

Kehamilan selalu diikuti dengan perubahan fisik dan emosional yang kerap kali membuat Mama terkejut. Umumnya ibu hamil sangat peka terhadap apapun yang terjadi pada tubuh, termasuk jika muncul ruam disertai demam. 

Jika hal itu terjadi, maka waspadalah, karena bisa jadi itu adalah roseola. Apa itu virus roseola, dan bagaimana dampak roseola pada kehamilan? Popmama.com akan membantu memberikan informasinya untuk Mama.

Apa Itu Roseola?

Apa Itu Roseola
Pixabay/nastya_gepp

Roseola adalah infeksi virus ringan yang menyebabkan demam tinggi mendadak, dan biasanya diikuti dengan ruam. Walaupun lebih sering menyerang anak-anak, namun ada beberapa kasus di mana orang dewasa juga terserang virus ini.

Pada umumnya virus ini tidak berbahaya dan bisa sembuh sendiri. Namun balita yang terjangkit cenderung rewel karena rasa tidak nyaman.

Dalam berbagai konteks, penyakit ini memiliki penyebutan yang berbeda sesuai dengan gejalanya, antara lain:

  • Demam tiga hari, karena penyakit ini menyebabkan demam tinggi, lebih dari 39 derajat celcius, yang berlangsung antara 3-7 hari.
  • Ruam tiga hari. Sebagaimana disebutkan di atas, roseola menyebabkan ruam yang tidak berbahaya dan berlangsung selama 1-3 hari. Ruam tersebut terdiri dari bintik-bintik merah muda atau merah pucat yang muncul ketika ditekan. Gejala ini tidak muncul pada semua orang, tetapi umumnya akan muncul saat demam berakhir.
  • Roseola infantum. Penyakit ini paling sering terjadi pada anak-anak antara usia 6 sampai 12 bulan, dengan 90% kasus terjadi pada anak di bawah dua tahun.

Roseola sendiri disebabkan oleh salah satu dari dua virus dari family herpes, yaitu human herpesvirus 6 (HHV 6) dan human herpesvirus 7 (HHV 7). Roseola akibat HHV 6 adalah yang paling umum, sedangkan kasus kedua terbilang jarang ditemui.

Seberapa Mudah Penularannya?

Seberapa Mudah Penularannya
Unsplash/engin akyurt

Roseola adalah salah satu jenis penyakit menular, namun dengan tingkatan yang tidak terlalu tinggi. Meski demikian, virus roseola bisa menyebar dengan mudah melalui tetesan kecil cairan saat orang yang terinfeksi bersin, batuk, atau meninggalkan bekas air liur pada permukaan sebuah benda.

Virus roseola lebih mudah menyerang anak-anak karena mereka belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang sempurna. Meski demikian, tingkat penularannya bisa dibilang sama antara anak-anak dan dewasa.

Jika seseorang terkena roseola saat dewasa, maka orang tersebut memiliki peluang yang sama untuk menularkan pada orang lain melalui tetesan dari sistem pernapasan dan air liur seperti kasus roseola pada anak-anak.

Bedanya, orang dewasa umumnya lebih peka sehingga ketika gejala muncul mereka akan berusaha untuk menghentikan infeksi dengan melakukan tindakan pencegahan standar.

Tindakan sederhana seperti menutup mulut saat batuk, menjauhkan diri dari orang lain, dan memakai masker bisa membantu menekan angka penularan.

Editors' Picks

Gejala Penyakit Roseola pada Orang Dewasa

Gejala Penyakit Roseola Orang Dewasa
Freepik
Ilustrasi

Sebagaimana disebutkan di atas, penyakit ini lebih banyak menyerang anak-anak. Sementara itu, karena kebanyakan orang dewasa terkena roseola saat masih anak-anak, kecil kemungkinan mereka akan mendapatkannya untuk kedua kalinya.

Kalaupun terjadi, gejalanya relatif ringan dan tidak berbahaya. Berikut beberapa di antaranya:

  • Demam,
  • kehilangan nafsu makan,
  • sakit tenggorokan,
  • pilek,
  • bengkak kelenjar getah bening,
  • ruam roseola.

Mungkinkah Ibu Hamil Terpapar Roseola?

Mungkinkah Ibu Hamil Terpapar Roseola
Freepik

Kebanyakan kasus roseola terjadi saat masih anak-anak, sehingga tubuh sudah membentuk antibodi untuk melawan infeksi kedua. Dengan demikian, kemungkinan terpapar roseola saat hamil sangat rendah.

Faktanya, ada satu kasus seorang perempuan hamil dengan roseola pada tahun 1992. Namun hasil studi kasus tersebut bahkan tidak dapat menemukan laporan roseola sebelumnya dalam kehamilan.

Dampak Roseola pada Ibu Hamil

Dampak Roseola Ibu Hamil
Flickr/lunar caustic

Ketika berbicara tentang bagaimana roseola memengaruhi bayi, ada beberapa pendapat di antara para peneliti. Satu studi menunjukkan bahwa roseola mungkin memiliki kaitan dengan kecacatan pertumbuhan.

Sebuah tambahan studi mendukung hal ini, dan menunjukkan fakta bahwa HHV 6 dapat memengaruhi perkembangan neurologis bayi. Meski demikian, selama 10-15 tahun terakhir penelitian terkait hal ini masih belum cukup untuk mendukung pendapat tersebut.

Apa yang Harus Dilakukan jika Terpapar Roseola saat Hamil?

Apa Harus Dilakukan jika Terpapar Roseola saat Hamil
Unsplash/Omar Lopez

Langkah paling utama yang harus dilakukan adalah mendiskusikannya dengan dokter. Ingat-ingat juga kemungkinan bahwa Mama pernah terpapar roseola saat masih muda.

Namun, jika Mama termasuk di antara sedikit orang dewasa yang tidak mengalaminya, maka sedikit kemungkinannya si Kecil akan terpapar virus ini. Sehingga dapat disimpulkan bahwa, kemungkinan seseorang terpapar virus roseola selama kehamilan atau ketika dewasa sangat minim.

Itulah informasi terkait roseola saat hamil. Semoga informasi ini bermanfaat ya, Ma.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.