Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Ibu Hamil Tidak Boleh Pindah Rumah, Mitos atau Fakta?
Maginific/Freepik
  • Secara medis, ibu hamil boleh pindah rumah asalkan kondisi tubuh sehat, aktivitas fisik dijaga, dan tidak memaksakan diri agar terhindar dari kelelahan serta stres berlebih.
  • Kepercayaan tradisional yang melarang ibu hamil pindah rumah tidak memiliki dasar ilmiah, karena belum ada bukti medis bahwa hal tersebut berdampak buruk pada kehamilan.
  • Penelitian menunjukkan pindah rumah di trimester pertama bisa meningkatkan risiko kelahiran prematur dan BBLR, sehingga disarankan dilakukan pada trimester kedua dengan bantuan orang lain.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Masih banyak orang percaya bahwa ibu hamil sebaiknya tidak pindah rumah karena dianggap bisa membawa pengaruh buruk bagi kehamilan maupun proses persalinan. Kepercayaan ini cukup sering ditemui dalam budaya tradisional dan diwariskan turun-temurun di masyarakat.

Namun, dari sisi medis, pindah rumah saat hamil sebenarnya tidak sepenuhnya dilarang. Hal yang perlu diperhatikan justru kondisi tubuh ibu, tingkat stres, dan aktivitas fisik selama proses pindahan berlangsung. 

Berikut Popmama.com rangkum penjelasan lengkapnya.

1. Secara medis, ibu hamil sebenarnya boleh pindah rumah

Magnific/gpointstudio

Tidak ada aturan secara medis yang menyebut ibu hamil dilarang pindah rumah. Selama kondisi kehamilan sehat dan aktivitas fisik tetap dijaga, pindahan tetap bisa dilakukan dengan aman. Namun, proses pindahan sering kali memicu kelelahan fisik dan stres emosional yang cukup besar, sehingga ibu hamil perlu lebih berhati-hati.

Selain itu, perubahan rutinitas dan lingkungan juga dapat memengaruhi kondisi tubuh selama kehamilan. Karena itu, penting untuk memastikan ibu tetap mendapatkan istirahat cukup dan tidak memaksakan diri selama proses pindahan berlangsung.

2. Kepercayaan lama banyak yang melarang ibu hamil pindah rumah

Magnific/pressfoto

Dalam beberapa budaya tradisional, misalnya Primbon Jawa, pindah rumah saat hamil dipercaya dapat mengganggu “energi” ibu dan calon bayi. Ada juga anggapan bahwa pindahan dapat membuat persalinan menjadi lebih sulit atau membawa kesialan bagi keluarga.

Meski begitu, kepercayaan tersebut tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat. Sampai saat ini belum ada penelitian medis yang membuktikan bahwa pindah rumah secara spiritual dapat memengaruhi keselamatan kehamilan atau kondisi janin.

3. Apakah ada risiko jika pindah rumah di awal kehamilan?

Magnific/pressfoto (ibu hamil pindah rumah)

Sebuah penelitian dari University of Washington menemukan adanya kaitan antara pindah rumah di trimester pertama dengan peningkatan risiko kelahiran prematur dan berat badan lahir rendah (BBLR). Penelitian terhadap lebih dari 100 ribu ibu hamil tersebut menunjukkan bahwa perpindahan tempat tinggal di awal kehamilan dapat meningkatkan stres biologis dan mengganggu kesinambungan perawatan medis.

Selain itu, aktivitas berat selama proses pindahan juga dapat memperburuk kondisi tubuh ibu hamil. Karena itu, jika pindahan tidak bisa dihindari, ibu disarankan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter kandungan untuk memastikan kondisi kehamilan tetap aman.

4. Aktivitas fisik saat pindahan yang bisa berbahaya bagi ibu hamil

Unsplash/CDC)

Saat hamil, tubuh memproduksi hormon relaxin yang membuat ligamen dan sendi menjadi lebih longgar. Kondisi ini membuat ibu lebih rentan mengalami nyeri punggung, cedera otot, hingga sakit panggul jika mengangkat barang terlalu berat.

Selain risiko cedera, perubahan pusat gravitasi tubuh selama kehamilan juga membuat ibu lebih mudah kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Karena itu, ibu hamil sebaiknya tidak ikut mengangkat kardus atau memindahkan perabot berat selama proses pindahan.

5. Trimester kedua dianggap waktu paling aman untuk pindahan

Magnific/senivpetro

Jika pindahan memang harus dilakukan, banyak tenaga kesehatan menyebut trimester kedua sebagai waktu yang relatif paling nyaman bagi ibu hamil. Pada fase ini, morning sickness biasanya mulai berkurang dan energi tubuh cenderung lebih stabil dibanding trimester pertama maupun trimester akhir.

Agar lebih aman, ibu hamil juga disarankan menggunakan bantuan pasangan, keluarga, atau jasa pindahan profesional supaya tidak terlalu lelah. Yang paling penting, jangan memaksakan diri dan tetap prioritaskan kesehatan ibu serta janin selama proses pindahan berlangsung.

Jadi, pindah rumah saat hamil bukanlah larangan mutlak. Namun, ada beberapa risiko kesehatan yang memang perlu diperhatikan agar kondisi ibu dan bayi tetap aman selama proses pindahan.

Editorial Team

Related Article