- menjulurkan lidah
- mengoordinasikan upaya pernapasan yang lebih kompleks
- membuka rahang
- menggerakkan mulut
- menggetarkan dagu
Apakah Bayi Bisa Menangis saat Masih di Dalam Kandungan?

- Penelitian menunjukkan janin mungkin bisa 'menangis' di dalam kandungan, meski tanpa suara karena belum bersentuhan dengan udara.
- Studi Selandia Baru menemukan janin usia 24 minggu dapat melakukan gerakan menyerupai tangisan seperti membuka mulut dan menggetarkan dagu.
- Selain berlatih menangis, janin juga merespons sentuhan dan suara ibu, menunjukkan kemampuan awal untuk bereaksi terhadap rangsangan eksternal.
Saat hamil, Mama pasti bertanya-tanya—saat si Kecil berguling, meninju, dan menendang—apa sebenarnya yang terjadi di dalam rahim.
Para ilmuwan juga penasaran, dan mereka telah mempelajari perilaku janin di dalam rahim selama beberapa dekade. Berkat kemajuan teknologi, lebih banyak yang diketahui tentang apa yang terjadi di dalam rahim daripada sebelumnya.
Setelah bayi lahir, menangis adalah salah satu cara bayi untuk berkomunikasi. Nah, apakah keterampilan menangis ini telah dipelajarinya sejak janin ada di dalam kandungan? Apakah bayi bisa menangis saat masih di dalam kandungan? Bila Mama penasaran, yuk, simak ulasan Popmama berikut ini untuk mengetahui jawabannya.
Apakah Bayi Bisa Menangis saat Masih di Dalam Kandungan?

Setelah lahir, salah satu cara bayi untuk berkomunikasi adalah dengan menangis. Tapi, dari mana keterampilan menangis ini diperoleh oleh si Kecil? Apakah ia mempelajarinya saat berada di dalam kandungan?
Jawabannya adalah: Mungkin saja janin menangis ketika berada di dalam kandungan, meskipun tidak seperti yang Mama bayangkan.
Untuk mendengar tangisan bayi yang sebenarnya, Mama harus menunggu sampai di ruang persalinan.
Mari kita lihat apa yang terjadi yang tidak dapat Mama dengar atau lihat.
Untuk memahami apakah janin benar-benar "menangis" di dalam rahim, penting untuk mempertimbangkan apa yang membentuk perilaku menangis, bukan hanya suara khasnya.
Bayi tidak dapat terdengar menangis sampai mereka bersentuhan dengan udara, bukan cairan. Jadi, para ilmuwan bergantung pada studi perilaku fisik dan respons kompleks yang menyebabkan tangisan.
Pada tahun 2005, para peneliti Selandia Baru melakukan salah satu studi paling berpengaruh tentang janin yang menangis di dalam rahim, dengan menyediakan video USG dari apa yang mereka tafsirkan sebagai janin yang menangis.
Mereka memecah tangisan menjadi beberapa langkah, atau serangkaian gerakan tubuh dan pernapasan (bukan hanya suara) untuk memastikan bahwa janin tersebut menangis.
Sebelum studi ini, hanya empat keadaan perilaku janin yang telah terbukti ada, termasuk keadaan tenang, aktif, tidur, dan terjaga. Namun, temuan tersebut mengungkapkan keadaan baru, yaitu keadaan perilaku menangis.
Perilaku Menangis Janin

Pada usia 20 minggu, sebuah studi di Selandia Baru mengungkapkan bahwa janin dapat melakukan semua tindakan yang diperlukan untuk menangis, termasuk:
Janin yang diamati menangis di dalam rahim berusia 24 minggu ke atas.
Studi yang sama melaporkan bahwa satu-satunya tangisan yang terdengar oleh dunia luar terjadi selama fenomena yang sangat langka yang disebut vagitus uterinus.
Ini melibatkan janin yang menangis di dalam rahim selama operasi di mana udara diizinkan masuk ke rahim, menunjukkan bahwa tangisan pertama yang terdengar hanya terjadi selama transisi ke dunia luar.
Janin Berlatih Menangis

Pada dasarnya, janin sedang berlatih menangis — sebut saja pemanasan untuk hal yang sebenarnya. Studi yang disebutkan di atas menggunakan suara untuk mengejutkan janin guna mencapai respons menangis, menghindari apa pun yang dapat menyebabkan rasa sakit. Bahkan setelah itu, janin menangis kurang dari 15-20 detik, jadi tidak ada sesi menangis berjam-jam yang terjadi di dalam rahim mama
Para ilmuwan umumnya sepakat bahwa janin dapat merasakan sakit pada trimester ketiga, meskipun ada beberapa perdebatan tentang kapan tepatnya hal ini dimulai. Studi tentang tangisan hanya menunjukkan bahwa bayi dapat memproses sesuatu sebagai stimulus negatif dan bereaksi terhadapnya sesuai dengan itu.
Pada titik ini belum ada bukti bahwa janin sedih, kembung, atau bereaksi terhadap keadaan tidak nyaman lainnya, tetapi para ilmuwan belum sepenuhnya yakin.
Cara Lain Janin Merespons

Mungkin bermanfaat untuk fokus pada hal-hal menyenangkan yang terjadi di dalam sana daripada mengkhawatirkan episode tangisan singkat. Mama bahkan dapat mengontrol kemampuan Mama untuk membantu janin merasa aman.
Sebuah studi tahun 2015 menunjukkan bahwa janin merespons sentuhan dan suara mamanya, yang semakin membuktikan bahwa Mama harus berbicara, bernyanyi, membaca, dan berkomunikasi dengan janin di dalam rahim.
Para ilmuwan menjelaskan bahwa janin menunjukkan lebih banyak gerakan ketika seorang mama meletakkan tangannya di perutnya. Terlebih lagi, janin dalam kandungan bahkan mungkin menjadi lebih tenang ketika Mama berbicara kepadanya dengan suara yang menenangkan.
Selain itu, janin trimester ketiga menunjukkan lebih banyak perilaku pengaturan diri, seperti menguap, perilaku istirahat seperti menyilangkan tangan, dan menyentuh diri sendiri ketika Mama berbicara atau menyentuh perutnya (dibandingkan dengan janin trimester kedua).
Janin juga mampu tersenyum dan berkedip di dalam kandungan.
Jadi abaikan orang-orang yang pesimis yang berpikir janin tidak dapat mendengar Mama atau merespons sentuhan Mama. Berbincanglah dengan janin tentang apa pun yang Mama inginkan, nyanyikan lagu, dan sentuh perut mama sepuasnya.
Meskipun benar janin dapat menangis saat berada di dalam kandungan, ia tidak mengeluarkan suara, dan itu bukan sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Tangisan latihan janin termasuk meniru pola pernapasan, ekspresi wajah, dan gerakan mulut bayi yang menangis di luar kandungan.
Mama tidak perlu khawatir bahwa janin kesakitan. Mengembangkan kemampuan untuk bereaksi terhadap rangsangan negatif adalah keterampilan yang oleh para ilmuwan digambarkan sebagai berguna di kemudian hari, ketika tangisan bayi pasti akan menarik perhatian Mama.
Selain menangis, janin dapat merespons secara fisik terhadap sentuhan atau suara ibu, jadi luangkan waktu untuk menyentuh perut mama dan berbicara kepada si Kecil.
Semoga informasi ini bisa menjawab rasa penasaran Mama.












-oRNeTStOatgcjn5yVSXKAM2D8gE0ueSd.jpg)





