- Pendarahan vagina yang hebat
- Nyeri hebat dan kram rahim
- Keputihan atau bau vagina yang tidak biasa
- Cairan vagina yang bocor
- Kekhawatiran tentang kesehatan emosional
- Stres atau kecemasan seputar keintiman
11 Tantangan Seks saat Hamil dan Cara Mengatasinya

- Artikel membahas berbagai tantangan seksual yang umum dialami ibu hamil, mulai dari perubahan fisik, emosional, hingga penurunan atau peningkatan gairah selama masa kehamilan.
- Ditekankan pentingnya komunikasi terbuka antara pasangan untuk menjaga kenyamanan dan keintiman, termasuk menyesuaikan posisi, menggunakan pelumas aman, serta mengeksplorasi bentuk keintiman non-penetratif.
- Para ahli menyarankan ibu hamil segera berkonsultasi dengan dokter jika muncul gejala seperti pendarahan hebat, nyeri intens, atau kekhawatiran emosional terkait aktivitas seksual.
Seks selama kehamilan bisa terasa sangat berbeda dari seks sebelum kehamilan. Ibu hamil mungkin akan menghadapi beberapa tantangan yang tidak terduga.
Bagaimanapun, tubuh ibu hamil mengalami transformasi yang signifikan untuk menumbuhkan dan membawa janin, dan itu dapat memicu sensasi baru—baik fisik maupun emosional—yang mungkin memerlukan beberapa penyesuaian pada rutinitas normal Mama di kamar tidur.
Meskipun pasang surut kehidupan seks adalah hal yang normal, beberapa perubahan yang terjadi selama kehamilan dapat membuat ibu hamil keluar dari zona nyaman—secara harfiah dan kiasan.
Popmama merangkum tantangan seks saat hamil cara mengatasinya masalah seks kehamilan agar tidak mengganggu hubungan Mama dengan suami.
1. Ibu hamil sering merasa tidak menarik

Beberapa ibu hamil merasa sangat seksi selama kehamilan, tetapi itu tidak selalu terjadi. Kehamilan membawa banyak perubahan tubuh yang dapat membuat Mama merasa sedikit kehilangan jati diri, seperti kembung, keringat berlebihan, dan penambahan berat badan.
Tubuh perempuan mengalami begitu banyak perubahan selama kehamilan. Penting untuk mengingatkan diri sendiri tentang hal ini untuk menormalkan perubahan tubuh dan perasaan yang menyertainya.
Untuk mengatasi hal ini, fokuslah pada hal-hal yang membuat Mama merasa nyaman dan percaya diri dengan tubuh mama sendiri. Seperti merawat rambut atau kuku dan mengenakan pakaian dalam yang menarik.
Rutinitas perawatan diri dan melakukan hal-hal yang membuat Mama merasa nyaman—seperti pemotretan kehamilan—dapat membantu.
Yang terpenting, terbukalah kepada suami tentang perasaan Mama. Mereka mungkin masih menganggap Mama sangat menarik, dan mendengar kata-kata penyemangat dari mereka dapat membantu memberikan sedikit kepastian.
Selain itu, jangan lupa untuk mengubah cara Mama berbicara kepada diri sendiri. Rangkul kebaikan dan keanggunan dalam pembicaraan Mama kepada diri sendiri.
2. Ibu hamil mengalami peningkatan keputihan

Berkat peningkatan aliran darah, estrogen, dan progesteron, tubuh mama menghasilkan lebih banyak keputihan selama kehamilan. Hal ini mungkin membuat Mama merasa lebih, yah, "lembap" di area kewanitaan.
Keputihan mungkin bukan gejala kehamilan favorit Mama, tetapi keputihan sebenarnya memiliki tujuan yang sangat penting: Membantu menghilangkan bakteri yang dapat membahayakan ibu hamil dan janin.
Keputihan adalah cara alami vagina untuk membersihkan dirinya sendiri. Meski tidak nyaman, Mama harus menghindari penggunaan douching, karena dapat mengganggu keseimbangan pH alami vagina.
Untuk merasa lebih nyaman, pertimbangkan untuk menggunakan panty liner organik tanpa pewarna, serta pakaian dalam katun yang bernapas dan pakaian longgar.
Jika keputihan berlebih mengganggu di kamar tidur, mungkin hindari tidur di ranjang sama sekali dan pilih seks di kamar mandi—hanya berhati-hatilah agar tidak terpeleset, karena pusat gravitasi Mama berubah selama kehamilan.
3. Ibu hamil mengalami pembengkakan dan sensitivitas ekstra

Bagi beberapa calon ibu, peningkatan aliran darah ke daerah panggul membuat mereka lebih sensitif dengan cara yang sangat, sangat baik (lebih banyak orgasme).
Namun bagi sebagian orang, sensitivitas tersebut dapat membuat hubungan intim terasa tidak nyaman dan bahkan menyakitkan. Jika itu terjadi pada Mama, cobalah mengubah posisi untuk melihat apakah itu membantu.
Mama juga dapat mencoba menggunakan pelumas berbahan dasar air, tetapi jika tidak berhasil, tidak apa-apa untuk tidak berhubungan intim dan menggunakan bentuk keintiman yang lebih lembut.
Ada beberapa hal menyenangkan lain yang dapat Mama lakukan dengan suami yang tidak melibatkan penetrasi. Mama juga dapat membangun keintiman dengan cara lain, seperti meminta suami untuk memijat kaki mama. Ini juga dapat membantu mengatasi kaki yang bengkak.
4. Payudara yang nyeri membuat seks tidak nyaman

Meskipun payudara ibu hamil mungkin terlihat sangat montok saat ini, jika terasa nyeri saat suami menyentuhnya, ketahuilah bahwa Mama tidak sendirian.
Payudara ibu hamil mulai bersiap untuk memproduksi ASI sejak awal kehamilan, dan peningkatan aliran darah ke dada—terutama selama trimester pertama—dapat membuat payudara terasa nyeri dan sensitif.
Komunikasikan dengan suami tentang apa yang tidak boleh disentuh. Suami mungkin harus menahan diri (dan Mama mungkin menginginkan lebih sedikit gerakan) untuk sementara waktu.
Apa pun masalahnya, itu tidak akan berlangsung selamanya. Banyak calon ibu mendapati rasa nyeri hilang pada trimester kedua.
Sebagai alternatif, pijatan payudara dari suami mungkin merupakan bentuk keintiman yang dapat membantu meredakan beberapa rasa sakit dan nyeri. Namun, berhati-hatilah untuk menghindari stimulasi puting susu di akhir kehamilan karena dapat meningkatkan risiko persalinan prematur.
5. Kelelahan kehamilan membuat mengantuk

Kelelahan kehamilan adalah hal yang nyata, dan istirahat adalah prioritas selama kehamilan. Meskipun Mama dapat melakukan hal-hal seperti memiliki rutinitas tidur yang konsisten, makan dengan baik, dan berolahraga untuk meningkatkan tingkat energi, Mama mungkin tidak memiliki energi ekstra untuk di kamar tidur.
Untuk mengatasi hal ini, ingatlah bahwa hubungan lebih penting daripada aktivitas. Pertimbangkan bentuk keintiman yang tidak membutuhkan banyak energi, seperti berpelukan di tempat tidur atau bermesraan di sofa.
6. Suami tidak tertarik untuk berhubungan intim

Banyak suami takut berhubungan seks selama kehamilan karena mereka takut hal itu dapat membahayakan janin atau menyebabkan persalinan.
Tetapi jika suami tidak tertarik pada seks akhir-akhir ini, itu juga bisa karena mereka sedang tidak mood. Kunci untuk kedua situasi ini adalah komunikasi yang jujur.
Bicaralah dengan suami. Bersikaplah terbuka dan berikan empati dan kasih sayang pada pengalaman mereka. Mama juga harus mengajak mereka ke kunjungan dokter agar mereka dapat mengajukan pertanyaan apa pun.
Kunci untuk membantu suami mengatasi kecemasan adalah dengan membicarakannya dan melakukannya perlahan. Mama juga dapat menjelajahi bentuk keintiman lainnya.
7. Perut membesar dan menghalangi

Jika perut yang membesar membuat posisi favorit sedikit kurang menyenangkan, pertimbangkan untuk mengubahnya.
Pada akhirnya, posisi terbaik adalah posisi yang paling nyaman bagi ibu hamil dan suami. Selain itu, Mama juga dapat menggunakan alat keintiman yang aman atau kenikmatan diri bersama untuk beradaptasi.
Tentu saja, seiring perut membesar, Mama mungkin akan kesulitan mengabaikan kehadiran bayi—dan itu bisa membuat segalanya sedikit tidak nyaman. Tenang saja, bayi tidak akan tahu apa yang terjadi—mereka hanya tahu Mama bergerak-gerak.
8. Ibu hamil mengalami libido yang menurun

Ketika Mama merasa kembung, mual, dan kelelahan, mungkin sulit untuk merasa ingin berhubungan seks sama sekali.
Bukan hal yang aneh jika libido rendah selama kehamilan karena perubahan hormon, takut keguguran, pecahnya ketuban, menyakiti janin, atau merasa tidak percaya diri dengan perubahan tubuh dan penambahan berat badan.
Komunikasi yang baik dengan suami adalah pemanasan terbaik yang bisa diharapkan oleh seseorang. Jelaskan kepada suami bahwa kurangnya gairah seks bukan karena “kurangnya cinta”.
Semua ahli mencatat bahwa cara terbaik untuk meningkatkan gairah seks selama kehamilan adalah dengan menjalin hubungan yang erat dengan pasangan melalui bentuk keintiman lain seperti berpelukan, berciuman, berdansa, berpegangan tangan, pijat, dan banyak lagi.
Fokuslah pada kedekatan emosional dan kasih sayang tanpa tekanan untuk berhubungan seks.
Dan, ingatlah, kehamilan tidak selamanya, tetapi hubungan Mama akan tetap ada. Kehamilan terasa lama, tetapi dalam skema besar sebuah pernikahan, sebenarnya tidak. Ini adalah masa di mana prioritas Mama adalah mengandung si Kecil dan kemudian pulih dari proses tersebut. Selama masa itu, keintiman terlihat dan terasa berbeda.
Cobalah untuk sedikit mengubah sudut pandang tentang seks. Cukup fokus pada kedekatan dan keintiman, dan maka segala jenis hubungan fisik akan berhasil.
9. Ibu hamil mengalami peningkatan libido

Perhatikan trimester kedua: Ini adalah saat di mana kehamilan mungkin membuat Mama lebih menginginkan seks daripada sebelum hamil. Meskipun ini bisa menjadi hal yang baik, sadarilah bahwa libido mungkin tidak sesuai dengan suami. Terkadang hal ini bisa mengintimidasi suami jika energi seksual Mama melebihi pola biasanya. Suami mungkin khawatir tidak dapat memuaskan Mama.
Jika libido ibu hamil tidak sinkron dengan suami, jangan takut untuk melakukannya sendiri. Suami selalu dapat bergabung nanti atau melibatkan diri dengan cara yang mungkin tidak lazim bagi Mama di kamar tidur.
Nikmati dengan komunikasi dan persetujuan. Kenikmatan diri dan alat bantu keintiman juga dapat membantu.
10. Ibu hamil khawatir tentang bercak darah setelah berhubungan seks

Bercak darah ringan setelah berhubungan seks adalah hal biasa selama kehamilan karena serviks lebih sensitif. Meskipun Mama harus memberi tahu dokter tentang bercak darah apa pun, semua ahli mencatat bahwa ini bukan penyebab kekhawatiran selama pendarahan tidak banyak, terus-menerus, atau menyakitkan.
Mama mungkin khawatir membahayakan janin, tetapi mereka terlindung di dalam kantung amnion dan rahim. Kecuali ibu hamil memiliki kondisi tertentu yang akan mendorong dokter ibu hamil untuk memperingatkan terhadap hubungan seks, hal itu dianggap sepenuhnya aman selama kehamilan.
11. Hubungan seks menjadi menyakitkan

Ada beberapa alasan mengapa hubungan seks mungkin menyakitkan selama kehamilan, termasuk kekeringan vagina. Terlebih lagi, posisi yang memungkinkan penetrasi lebih dalam mungkin tidak terasa nyaman saat ini.
Untuk mengatasi masalah ini, para ahli merekomendasikan untuk mencoba pelumas berbahan dasar air, serta beralih ke posisi yang menghindari penetrasi dalam.
Sekali lagi, kuncinya adalah berkomunikasi dengan suami dan memberi tahu mereka apa yang terasa nyaman, apa yang tidak, dan mengeksplorasi pilihan keintiman lainnya.
Kapan Harus Berbicara dengan Dokter?

Para ahli mencatat bahwa jika ibu hamil mengalami salah satu gejala berikut selama atau setelah berhubungan seks, ibu hamil harus menghubungi dokter:
Mama juga disarankan untuk berbicara dengan terapis seks jika kekhawatiran yang menyebabkan tekanan emosional, ketidakpuasan dalam hubungan, atau disfungsi seksual.
Seorang terapis seks dapat membantu Mama mempelajari lebih lanjut tentang gairah dan keinginan Mama, berkomunikasi tentang seks dengan suami, dan menjalani seks dengan sukses selama transisi kehidupan yang penting ini.
Hal terpenting yang perlu diingat saat berhubungan seks selama kehamilan adalah menjaga komunikasi yang jelas dengan suami untuk memastikan kebutuhan suami istri terpenuhi.
Dengarkan tubuh dan pahami bahwa kehamilan menghadirkan banyak hal baru—secara emosional, mental, dan fisik—di kamar tidur. Segala sesuatunya mungkin berbeda di atas ranjang, tetapi itu tidak masalah selama suami istri merasa nyaman untuk terbuka.
Itu tadi berbagai tantangan seks saat hamil dan cara mengatasinya, agar tidak mengganggu hubungan Mama dengan suami. Semoga bisa membantu.

















