Berjemur Demi Kesehatan, Hindari Risiko Sunburn saat Hamil

Berjemur itu sehat, tapi jangan sampai melupakan hal-hal penting ini demi kesehatan kehamilan Mama

31 Maret 2021

Berjemur Demi Kesehatan, Hindari Risiko Sunburn saat Hamil
Freepik/lifeforstock

Sinar matahari merupakan sumber vitamin D alami yang dengan mudah bisa kita dapatkan, tanpa perlu mengeluarkan biaya. Cukup dengan berjemur setiap pagi di bawah sinar matahari, Mama telah mendapatkan asupan vitamin D yang dibutuhkan untuk tubuh mama dan janin dalam kandungan. Apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini, berjemur sangat disarankan, minimal 15 menit setiap harinya.

Meski berjemur di bawah sinar matahari disarankan untuk memenuhi kebutuhan vitamin D harian, faktanya berjemur di bawah sinar matahari tidak bisa sembarangan. Bagi ibu hamil, ada risiko yang harus diketahui jika terlalu lama terpapar pancaran sinar matahari. Mulai dari dehidrasi hingga kulit terbakar atau sunburn.

Berikut ini Popmama.com merangkum risiko terlalu lama terpapar sinar matahari pada ibu hamil, beserta tindakan pencegahannya:

Risiko di Balik Aktivitas Berjemur Sinar Matahari bagi Ibu Hamil

Risiko Balik Aktivitas Berjemur Sinar Matahari bagi Ibu Hamil
Freepik/lifeforstock

Ketika hamil, kulit tubuh menjadi sensitif dan mudah terbakar di bawah sinar matahari. Ini dikarenakan hormon yang meningkat lebih daripada biasanya. Sel yang memproduksi pigmen pun menjadi lebih aktif sehingga kulit menjadi lebih mudah mengalami belang saat terpapar sinar matahari.

Alih-alih kulit menjadi kecokelatan sehat, Mama bisa mengalami bintik-bintik bahkan melasma berupa bercak abu-abu kecokelatan yang biasanya muncul di sekitar pipi. Risiko-risiko ini semakin diperparah dengan fakta bahwa kehamilan mengubah sistem kekebalan tubuh sehingga semakin tinggi potensi untuk mengalami kanker kulit jika tidak dilakukan tindakan pencegahan. 

Meskipun begitu, bukan berarti Mama sama sekali tidak boleh terpapar sinar matahari lho. Berikut ini Popmama.com sampaikan beberapa tindakan pencegahan terhadap sunburn dan risiko lain dari berjemur sinar matahari pada ibu hamil yang dapat dilakukan:

1. Melindungi tubuh dari paparan sinar matahari langsung

1. Melindungi tubuh dari paparan sinar matahari langsung
Pexels/negativespace

Mungkin Mama sudah sangat familiar dengan penggunaan tabir surya sebagai pelindung dari risiko buruk sinar matahari. Tetapi, tabir surya saja tidak cukup. Mama perlu melakukan tindakan pencegahan lebih dengan mengenakan topi, penutup tubuh, atau pun kacamata hitam saat berkegiatan di bawah sinar matahari yang menyengat. 

Editors' Picks

2. Hindari matahari di jam-jam sibuk

2. Hindari matahari jam-jam sibuk
Freepik/cookie_studio

Jika memungkinkan, usahakan menghindari sinar matahari antara jam 10 pagi hingga jam 2 siang. Rentang waktu ini adalah saat sinar matahari memancar paling kuat. Jika Mama memang tak bisa menghindari berkegiatan di bawah sinar matahari pada jam-jam tersebut, pastikan melindungi diri dengan pakaian tipis yang nyaman tapi mampu menangkal serangan sinar matahari langsung atau gunakan payung.

3. Tutupi bagian perut

3. Tutupi bagian perut
Pexels/leah-kelley-50725

Mungkin Mama tergoda membuat sesi foto hamil di tempat terbuka yang menunjukkan perut mama. Boleh-boleh saja. Tetapi alangkah lebih bijak jika mengenakan pakaian yang tetap menutupi bagian perut tatkala mengambil foto di bawah paparan sinar matahari. Perut yang terekspos langsung sinar matahari juga dapat membuat linea nigra, atau garis kehamilan di perut, menjadi semakin gelap.

4. Pilih tabir surya dengan bijak

4. Pilih tabir surya bijak
Freepik/Fabrikasimf

Penggunaan tabir surya bukan sekadar ada untuk menghalangi paparan sinar matahari langsung ke tubuh kita. Melainkan juga harus mempertimbangkan beberapa hal terkait bahan pembuatnya. 

Biasanya, tabir surya menghalangi sinar UV dengan menggunakan salah satu dari tiga bahan ini, yaitu oksibenzon, seng oksida, atau titanium dioksida. Dari ketiga bahan tersebut, oksibenzon merupakan bahan yang harus dihindari ibu hamil. Tidak seperti seng oksida dan titanium dioksida, yang hanya melapisi bagian atas kulit, oksibenzon diserap ke dalam kulit dan sering digunakan untuk membantu bahan kimia lain menyerap ke dalam kulit, yang akhirnya masuk ke aliran darah.

5. Aplikasikan gel lidah buaya

5. Aplikasikan gel lidah buaya
Pixabay/Rosina-Sch

Lidah buaya dipercaya memiliki kemampuan untuk mendinginkan dan menenangkan kulit yang terbakar sinar matahari. Oleskan pada area yang terdampak, menggunakan gel lidah buaya. Lebih baik jika Mama punya gel lidah buaya yang alami dan disimpan di lemari es. Gel lidah buaya bagus untuk semua jenis luka bakar atau iritasi kulit.

6. Tetap tenang

6. Tetap tenang
Freepik/olezhkalina

Sengatan sinar matahari biasanya terjadi hanya pada lapisan kulit. Kecil kemungkinan bayi dalam kandungan terpengaruh olehnya. Jadi, tetaplah tenang dan ambil tindakan pertolongan dengan segera berlindung di tempat yang teduh dan aplikasikan gel pendingin. Gel lidah buaya, misalnya. 

Hal lain yang perlu diperhatikan terkait paparan sinar matahari dalam waktu lama adalah masalah seperti overheat (kepanasan) atau dehidrasi. Apalagi setelah terpapar sinar matahari dalam waktu lama kemudian Mama mengalami demam, segera hubungi dokter. 

Semoga informasi ini bermanfaat dalam menjaga kesehatan diri selama kehamilan ya, Ma. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.