7 Bahaya Sinar UV untuk Ibu Hamil, Bisa Memicu Melasma

- Paparan sinar UV berlebih dapat memecah kadar asam folat dalam tubuh yang penting untuk mencegah cacat janin.
- Hormon kehamilan membuat kulit sangat sensitif sehingga sinar UV mudah memicu flek hitam (melasma) dan memperburuk stretch mark.
- Risiko dehidrasi dan overheating akibat panas matahari dapat memicu kontraksi dini dan membahayakan janin.
Mendapatkan asupan vitamin D dari sinar matahari pagi memang sangat disarankan untuk kesehatan tulang mama dan janin. Namun, Mama perlu ekstra hati-hati.
Paparan sinar matahari yang berlebihan, terutama sinar Ultraviolet (UV) di siang hari yang terik, ternyata menyimpan bahaya tersendiri bagi ibu hamil.
Saat hamil, kulit dan tubuh mama mengalami perubahan fisiologis yang membuat sensitivitas terhadap sinar UV meningkat drastis. Bahayanya tidak hanya berdampak pada kecantikan kulit, tetapi juga bisa memengaruhi kesehatan janin dalam kandungan.
Nah, berikut Popmama.com telah merangkum beberapa bahaya sinar UV untuk ibu hamil.
Yuk Ma, simak penjelasannya agar lebih waspada!
Deretan Bahaya Sinar UV untuk Ibu Hamil
1. Memicu melasma atau topeng kehamilan

Ini adalah musuh utama kulit mama yang sedang hamil. Perubahan hormon yang drastis membuat sel-sel pigmen kulit (melanosit) mama menjadi sangat reaktif. Paparan sinar UV sedikit saja dapat memicu produksi melanin berlebih yang menyebabkan munculnya bercak-bercak cokelat atau abu-abu di wajah.
Kondisi ini disebut chloasma atau melasma, sering juga dijuluki "topeng kehamilan". Bercak ini biasanya muncul di pipi, dahi, hidung, dan dagu. Jika terus terpapar matahari tanpa perlindungan sunscreen, bercak ini bisa menjadi permanen dan sangat sulit dihilangkan bahkan setelah melahirkan.
2. Mengurai kadar asam folat dalam tubuh

Bahaya yang satu ini sering kali tidak disadari. Beberapa studi ilmiah menunjukkan bahwa paparan sinar UV yang intens dan berkepanjangan dapat memecah atau menurunkan kadar asam folat (folat) di dalam darah.
Padahal, asam folat adalah nutrisi paling krusial di trimester pertama untuk mencegah cacat tabung saraf (spina bifida) pada janin.
Jika Mama terlalu sering berjemur di siang bolong tanpa perlindungan, risiko defisiensi folat bisa meningkat, yang tentu berbahaya bagi perkembangan saraf bayi.
3. Meningkatkan risiko dehidrasi

Sinar UV yang terik tentu membawa suhu panas. Mama yang sedang hamil memiliki suhu tubuh basal yang lebih tinggi. Berada di bawah sinar matahari langsung akan membuat mama lebih cepat berkeringat dan kehilangan cairan tubuh.
Dehidrasi pada ibu hamil bukanlah hal sepele. Kurangnya cairan dapat mengurangi volume air ketuban dan memicu kontraksi palsu (Braxton Hicks) bahkan kontraksi persalinan prematur.
Selain itu, dehidrasi berat bisa membuat aliran darah ke plasenta menjadi kurang optimal.
4. Memicu overheating atau heatstroke

Selain dehidrasi, bahaya paparan panas matahari adalah overheating atau peningkatan suhu inti tubuh secara ekstrem. Janin di dalam kandungan tidak memiliki kemampuan untuk mendinginkan tubuhnya sendiri dan sangat bergantung pada suhu tubuh mama.
Jika suhu tubuh mama naik terlalu tinggi (hipertermia) akibat sengatan matahari, hal ini bisa berdampak buruk pada perkembangan otak janin. Kondisi ini juga bisa menyebabkan mama pingsan karena pembuluh darah melebar drastis dan tekanan darah menurun tiba-tiba.
5. Memperburuk tampilan stretch mark

Banyak yang belum tahu bahwa sinar matahari adalah musuh bagi stretch mark. Sinar UV dapat merusak serat kolagen dan elastin di lapisan kulit. Padahal, kolagen sangat dibutuhkan untuk menjaga elastisitas kulit perut yang sedang meregang.
Jika stretch mark yang baru muncul (berwarna merah atau ungu) terpapar sinar UV, proses penyembuhannya akan terganggu.
Bekas regangan tersebut bisa berubah warna menjadi lebih gelap dan mencolok, serta lebih sulit memudar nantinya dibandingkan stretch mark yang terlindungi dari matahari.
6. Kulit lebih mudah terbakar

Kulit ibu hamil cenderung lebih tipis dan sensitif karena peregangan dan hormon. Hal ini membuat kulit mama lebih rentan mengalami sunburn atau terbakar matahari dibandingkan saat tidak hamil.
Luka bakar akibat matahari tidak hanya perih dan membuat kulit mengelupas, tetapi juga bisa menyebabkan peradangan sistemik di tubuh.
Stres oksidatif akibat radang ini tentu tidak baik untuk kesehatan ibu hamil.
7. Meningkatkan risiko kanker kulit

Meskipun ini termasuk risiko jangka panjang, namun ibu hamil perlu waspada.
Selama kehamilan, sistem kekebalan tubuh mama sedikit menurun, yang bisa membuat mekanisme perbaikan sel kulit terhadap kerusakan DNA akibat sinar UV menjadi kurang efisien.
Selain itu, tahi lalat yang sudah ada di tubuh mama mungkin akan berubah bentuk atau membesar karena hormon. Paparan UV berlebih bisa memperparah perubahan ini dan meningkatkan risiko keganasan sel kulit di kemudian hari.
Itulah beberapa bahaya sinar UV untuk ibu hamil yang wajib diwaspadai.
Jadi, pastikan Mama selalu memakai topi lebar, baju tertutup, dan tabir surya (sunscreen) fisik yang aman saat harus beraktivitas di luar ruangan.
FAQ Sinar UV dan Ibu Hamil
| Kapan waktu aman untuk ibu hamil berjemur? | Waktu terbaik untuk mendapatkan vitamin D tanpa risiko UV yang berbahaya adalah di pagi hari, sebelum pukul 10.00. Cukup berjemur selama 10-15 menit saja. |
| Jenis sunscreen apa yang aman untuk ibu hamil? | Pilihlah physical sunscreen atau mineral sunscreen yang mengandung Titanium Dioxide atau Zinc Oxide. Hindari chemical sunscreen yang mengandung Oxybenzone karena dikhawatirkan dapat menyerap ke aliran darah dan memengaruhi hormon. |
| Apakah baju bisa melindungi perut dari sinar UV? | Bisa, namun tergantung jenis bahannya. Baju berwarna gelap atau yang memiliki label UPF (Ultraviolet Protection Factor) lebih efektif menahan sinar UV agar tidak menembus ke kulit perut mama dibandingkan kaos tipis berwarna terang. |


















