Kenali 10T, Rangkaian Pemeriksaan Antenatal Care Selama Masa Kehamilan

Sudah tahu 10T sebagai rangkaian pemeriksaan antenatal care nggak nih, Ma?

7 Agustus 2019

Kenali 10T, Rangkaian Pemeriksaan Antenatal Care Selama Masa Kehamilan
Freepik/wavebreakmedia_micro

Kesehatan ibu hamil perlu dijaga dengan baik karena akan berpangaruh terhadap janin di dalam kandungannya. Bahkan ada pedomannya tersendiri untuk menjaga kesehatan selama masa kehamilan, sehingga ibu hamil membutuhkan program pelayanan kesehatan bernama antenatal care. 

Perlu Mama ketahui bahwa antenatal care disarankan oleh ibu hamil agar melakukan kunjungan secara berkala minimal 4 kali.

Pertama sebelum usia kehamilan memasuki 4 bulan, kemudian sekitar bulan ke-6 sebanyak 2 kali pertemuan. Lalu usia kehamilan saat sudah memasuki bulan ke-8 dan 9. Yuk Ma, simak penjelasan Popmama.com berikut ini.

Apa itu Antenatal Care? 

Apa itu Antenatal Care 
Freepik/Pressfoto

Antenatal care adalah sebuah istilah kesehatan yang mengacu pada program pelayanan kesehatan ibu hamil, sehingga bisa ditangani oleh tenaga medis secara lebih profesional. Di Indonesia berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan RI tahun 2009, antenatal care dikenal dengan rumus 10 T sebagai sebuah standar yang telah ditetapkan sebagai pedoman rumah sakit dan puskesmas setempat. 

Antenatal care bertujuan sebagai pemeriksaan selama masa kehamilan dengan bantuan dokter atau bidan untuk mengoptimalkan kesehatan mental serta fisik ibu hamil. Perlu diketahui juga bahwa antenatal care dapat memberikan manfaat positif untuk kesehatan ibu hamil, seperti: 

  • Meminimalisir atau menghindari risiko komplikasi yang terjadi selama masa kehamilan atau persalinan.
  • Membantu ibu hamil lebih mengoptimalkan masalah kesehatan mental serta fisiknya. 
  • Mempersiapkan seorang Mama untuk menjalani masa nifas dan pemberian ASI secara eksklusif. 

Untuk Mama yang ingin mengetahui lebih banyak informasi mengenai 10T sebuah pemeriksaan dari antenatal care, kali ini Popmama.com telah merangkumnya. 

Disimak ya, Ma! 

1. Catat hasil setiap kali melakukan timbang berat badan dan ukur tinggi badan

1. Catat hasil setiap kali melakukan timbang berat badan ukur tinggi badan
Freepik/Jcomp

Perlu diketahui bahwa menimbang berat badan serta mengukur tinggi badan ibu hamil menjadi salah satu pemeriksaan yang dilakukan dalam pertemuan pertama saat antenatal. Pengukuran ini dilakukan untuk memantau perkembangan tubuh ibu hamil secara konsisten. 

Dokter pun akan bertugas untuk mencatat hasil setiap kali menimbang berat badan serta mengukur tinggi badan selama masa kehamilan. Hasil pengukuran nantinya akan digunakan oleh dokter untuk menjadi sebuah acuan apabila terjadi masalah selama hamil seperti kehamilan dengan obesitas atau mengalami bengkak saat kehamilan kembar. 

Sebagai bekal pengetahuan perlu diketahui bahwa seorang ibu hamil memiliki pertambahan berat badan sekitar 0,5 kg setiap bulannya di trimester pertama. Lalu, berat ibu hamil di trimester kedua dan ketiga bertambah lagi hingga 0,5 kg setiap minggunya.

Kemudian di akhir kehamilan, ibu hamil akan mengalami pertambahan berat badan sekitar 20 hingga 90 kg dari berat badan sebelum hamil. Kondisi pertambahan berat badan ini dianggap normal dan idealnya harus terjadi, sehingga bisa dinyatakan sehat serta berkembang sesuai tahapan. 

2. Memeriksa tekanan darah secara rutin

2. Memeriksa tekanan darah secara rutin
Pixabay/mohamed_hassan

Saat antenatal care berlangsung, maka dokter kandungan juga melakukan pemeriksaan tekanan darah atau tensi. Pemeriksaan ini termasuk wajib seperti pengukuran berat badan dan tinggi badan sebelumnya. 

Tekanan darah yang normal berada di angka 110/80 hingga 140/90 mmHg. Perlu diwaspadai ketika hasil tekanan darah menunjukkan angka lebih dari 140/90 mmHg karena ibu hamil lebih rentan berisiko mengalami gangguan kehamilan. 

Beberapa dampak buruk akibat kondisi ini yaitu dapat menyebabkan  preeklampsia dan eklampsia. Kedua permasalahan yang bisa terjadi selama masa kehamilan dapat mengancam kehamilan karena tekanan darah tinggi (hipertensi). Kalau kondisinya sudah begini, sebaiknya perlu rutin berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan solusi yang tepat. 

3. Melakukan pengukuran tinggi fundus uteri untuk menentukan usia kehamilan

3. Melakukan pengukuran tinggi fundus uteri menentukan usia kehamilan
kveller.com

Menentukan usia kehamilan bisa dilakukan dengan memeriksa dan mengukur tinggi fundus uteri. Perlu diketahui bahwa tinggi puncak rahim dalam sentimeter (cm) akan disesuaikan dengan usia kehamilan. 

Ukuran puncak rahim bisa dikatakan normal apabila sesuai dengan tabel ukuran fundus uteri, namun ada toleransi perbedaan ukuran sekitar 1-2 cm. Bila saat pengukuran rahim diketahui terjadi perbedaan lebih kecil sekitar 2 cm dari usia kehamilan, maka ini bisa menjadi tanda bahwa ada kemungkinan pertumbuhan janjn mengalami gangguan. 

4. Melakukan skrining status imunisasi tetanus dan pemberian imunisasi tetanus toksoid (TT)

4. Melakukan skrining status imunisasi tetanus pemberian imunisasi tetanus toksoid (TT)
Pixabay/Hioahelsefag

Kesehatan selama masa kehamilan memang perlu diperhatikan agar pertumbuhan dan perkembangan janin tetap sehat. Sebelum melakukan imunisasi tetanus toksoid, Mama perlu menjalani proses skrining untuk mengetahui dosis serta status imunisasi tetanus toksoid yang telah diperoleh sebelumnya. 

Selain itu, Mama perlu mengetahui juga bahwa imunisasi tetanus toksoid akan semakin efektif ketika dilakukan minimal 2 kali dengan jarak antar imunisasi berkisar 4 minggu. 

Vaksin TT (Tetanus Toksoid) dilakukan sebanyak 5 kali dengan selang waktu yang berbeda-beda, seperti: 

  • TT1 : dilakukan pada saat kunjungan pertama (sedini mungkin pada saat kehamilan
  • TT2 : dilakukan 4 minggu setelah TT1
  • TT3 : dilakukan 6 bulan setelah TT2
  • TT4 : dilakukan 1 tahun setelah TT3
  • TT5 : dilakukan 1 tahun setelah TT4

Editors' Picks

5. Pemberian tablet zat besi untuk rutin dikonsumsi

5. Pemberian tablet zat besi rutin dikonsumsi
Pixabay/Stevepb

Kebutuhan zat besi selama masa kehamilan memang diperlukan agar pertumbuhan dan perkembangan si Kecil bisa semakin optimal. Untuk itu, dokter pun akan memberikan resep berupa tablet zat besi agar bisa dikonsumsi setiap hari oleh ibu hamil. 

Secara umum, zat besi yang diberikan oleh dokter biasanya berjumlah minimal 90 tablet dan maksimal dikonsumsi satu tablet saja setiap harinya selama hamil. 

Walau harus dikonsumsi secara rutin, namun perlu diperhatikan untuk tidak mengonsumsi tablet zar besi bersamaan dengan kopi atau teh karena dapat menganggu penyetapan zat besi ke dalam tubuh. Perlu berhati-hati agar tidak mengganggu kesehatan selama hamil ya, Ma.

6. Pengukuran status gizi untuk mencegah dampak buruk pada kelahiran bayi

6. Pengukuran status gizi mencegah dampak buruk kelahiran bayi
Freepik/lesterman

Pengukuran status gizi selama masa kehamilan perlu dilakukan sejak ini agar dapat mendetekai adanya kekurangan gizi. Untuk meminimalisir dampak buruk ke depannya, maka dokter akan melakukan pengukuran status gizi. 

Pengukuran status gizi ini dapat mengurangi kemungkinan bayi terlahir dengan berat badan yang rendah dari angka normal. Cara pengukuran status gizi ini dilakukan dengan mengukur lingkar lengan atas serta jarak pangkal bahu ke ujung siku menggunakan alat bernama pita ukur. 

Demi meningkatkan gizi selama masa kehamilan, sebaiknya tetap mengonsumsi berbagai asupan makanan dan minuman yang menyehatkan tubuh. Cari tahu juga informasi mengenai makanan yang dapat meningkatkan imunitas tubuh ya, Ma. 

7. Tes laboratorium dapat meminimalisir segala kemungkinan terhadap penyakit 

7. Tes laboratorium dapat meminimalisir segala kemungkinan terhadap penyakit 
Pixabay/PublicDomainPictures

Selama pemeriksaan antenatal, dokter umumnya akan mengambil sampel dari tubuh ibu hamil untuk keperluan tes laboratorium melalui tes rutin maupun khusus. Tes laboratorium ini tentu bermanfaat karena dapat mencangkup beberapa pemeriksaan seperti:

  • Pemeriksaan golongan darah dan rhesus
  • Pemeriksaan kadad hemoglobin
  • Pemeriksaan dengan tes HIV dan penyakit menular seksual lainnya
  • Pemeriksaan dengan tes rapid untuk malaria

Berbagai pemeriksaan ini tentu dapat membantu menjaga kesehatan ibu hamil serta janin di dalam kandungan agar semakin terjaga. 

8. Melakukan pemeriksaan terhadap presentasi janin dan denyut jantung janin

8. Melakukan pemeriksaan terhadap presentasi janin denyut jantung janin
PIxabay/DarkoStojanovic

Pemeriksaan denyut jantung biasanya dapat terjadi saat usia kehamilan telah memasuki minggu ke-16. Pemeriksaan ini sangat penting karena bisa memberitahukan kondisi terkini dari si Kecil saat masih di dalam perut. 

Beberapa manfaat yang bisa diketahui usai melakukan pemeriksaan ini yaitu dapat memantau, mendeteksi dan menghindari faktor risiko kematian prenatal saat hamil. Biasanya ini dapat terjadi karena disebabkan oleh gangguan pertumbuhan cacat bawaan, hipoksia hingga infeksi. 

9. Tatalaksana kasus selama menjalani antenatal care

9. Tatalaksana kasus selama menjalani antenatal care
Freepik/wavebreakmedia

Ma, setiap ibu hamil itu berhak mendapatkan fasilitas kesehatan yang memadai selama menjalani masa-masa kehamilan. Untuk itu, jika suatu ketika hasil tes menunjukkan ada berbagai risiko tinggi yang dapat terjadi pada janin di dalam kandungan, maka pihak rumah sakit akan menawarkan untuk segera mendapatkan tatalaksana kasus.

Melalui fasilitas kesehatan yang selalu memberikan yang terbaik. Semoga ini bisa terus memotivasi Mama selama menjalani masa-masa kehamilan hingga proses persalinan ke depannya. 

10. Temu wicara selama antenatal care perlu digunakan dengan baik

10. Temu wicara selama antenatal care perlu digunakan baik
Pixabay/DarkoStojanovic

Temu wicara atau konseling setiap kali mendapatkan kesempatan untuk kunjungan antenatal care perlu dilakukan dengan baik. Mama berhak berkonsultasi mengenai apa saja kepada pihak dokter termasuk segala keluhan yang terjadi selama masa kehamilan. 

Saat melakukan temu wicara, ibu hamil seringkali bertanya mengenai pencegahan komplikasi kehamilan, masalah kesehatan bahkan mengenai perencanaan persalinan yang diinginkan oleh ibu hamil agar tetap merasa nyaman. 

Layanan temu wicara ini  juga diperlukan untuk menyepakati rencana-rencana kelahiran, rujukan bila diperlukan, bimbingan pengasuhan bayi saat sudah terlahir dan pemakaian KB pasca persalinan.

Itulah standar minimal pemeriksaan antenatal care yang terdiri dari 10T. Semoga informasi di atas bisa bermanfaat hingga selesai menjalani kehamilan ini ya, Ma.

Baca juga: 

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!

;