TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Apakah Bayi Perlu Zat Besi Tambahan? Simak Faktanya!

Kekurangan asupan zat besi bisa menyebabkan anemia pada bayi, Ma

pexels/mart production

Sebagai seorang ibu, Mama tentu paham bahwa bayi memerlukan asupan nutrisi yang cukup.

Saat bayi berusia kurang dari 6 bulan, dokter tentu menyarankan untuk tidak melakukan pemberian makanan tambahan. Di usia tersebut, bayi hanya menerima asupan nutrisi dari ASI saja.

Namun setelah usianya beranjak 6 bulan, bayi baru diperkenalkan berbagai menu makanan dengan tekstur yang menyesuaikan kemampuannya.

Karenanya, Mama mungkin bingung jika saat sedang mengontrol kesehatan ke dokter, bayi justru diresepkan suplemen vitamin.

Hal tersebut mungkin akan membuat Mama berpikir, "Apakah nutrisi dari ASI saja tidak cukup?".

Nah, untuk menjawab pertanyaan Mama, berikut Popmama.com rangkumkan informasi terkait suplemen vitamin tambahan pada bayi ASI. Yuk, kita simak bersama!

Apakah ASI Mengandung Zat Besi?

pexels/sarah chai

Jika Mama bertanya-tanya apakah ASI memiliki kandungan zat besi, maka jawabannya adalah iya. Tapi, apakah kandungannya cukup untuk menutrisi bayi? Belum tentu.

"Kandungan zat besi pada ASI itu rendah. Sumber utama zat besi berasal dari simpanan zat besi bayi, yang terbentuk selama trimester ketiga kehamilan," ujar Pierrette Mimi Poinsett, MD, konsultan medis di Mom Loves Best.

Bayi baru lahir memiliki cadangan zat besi yang cukup hingga ia berusia 4-6 bulan, dengan catatan sang Ibu tidak memiliki riwayat anemia selama kehamilan.

Jadi, zat besi untuk beberapa bayi ASI mungkin tercukupi, sementara yang lainnya tidak.

Apakah Bayi Memerlukan Zat Besi Tambahan?

pexels/rodnae productions

Menurut Academy of American Pediatrics (AAP), ada dua jenis suplemen yang direkomendasikan untuk bayi ASI dalam bulan awal kehidupannya.

Pertama, suplemen vitamin D yang bisa dikonsumsi setelah kelahiran bayi. Kedua, suplemen zat besi mulai dari usia 4 bulan.

Karena itulah, bayi ASI membutuhkan suplemen zat besi setelah usianya 4 bulan. Bayi prematur, baik yang diberi ASI atau tidak, juga memerlukan suplemen ini karena ia memiliki cadangan zat besi yang lebih sedikit.

Lalu, bagaimana dengan bayi yang mengonsumsi susu formula? Bayi tersebut tidak memerlukan suplemen tambahan, dengan catatan susu formula yang diberikan sudah diperkaya dengan zat besi.

Zat Besi pada ASI Versus yang Diperlukan Bayi

pexels/rodnae productions

Kandungan zat besi pada ASI adalah 0,4 mg/L. Penulis Antioxidants menekankan bahwa kandungan zat besi tersebut, meskipun sedikit, adalah jumlah yang tepat untuk sebagian besar bayi ASI.

Bentuk zat besi pada ASI juga mudah diserap dan dimanfaatkan untuk bayi.

Namun, jika saat konsultasi dokter meresepkan suplemen tambahan, berarti zat besi yang diperoleh bayi memang tidak cukup. Namun, kondisi ini berbeda-beda setiap bayi.

Sehingga, untuk mengetahui jumlah zat besi yang dibutuhkan, Mama wajib memeriksakan bayi ke dokter terlebih dahulu.

Nah, setelah bayi sudah bisa mendapatkan asupan makanan yang kaya akan zat besi, pemberian suplemen tambahan tersebut bisa dihentikan.

Sekali lagi, tetap harus melalui persetujuan dokter ya, Ma, demi kondisi fisik terbaik buah hati.

Bagaimana jika Mama Mengabaikan Suplemen Zat Besi?

pexels/rodnae productions

Beberapa orangtua tidak melengkapi bayi mereka dengan suplemen tambahan pada rentang usia 4-6 bulan, mengingat adanya simpanan zat besi di dalam tubuh.

Namun, keputusan ini tidak bisa diambil sendiri, harus melewati konsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Menurut Linda Hanna, RNC, MSN/Ed, IBCLC, Co-Founder & Chief Nursing Officer di Mahmee, tidak apa-apa jika bayi tidak diberikan suplemen zat besi tambahan, selama berat badannya terus naik, tumbuh dengan baik, dan semua pencapaiannya sesuai dengan usia.

Namun, jika sebenarnya memerlukan asupan zat besi tambahan tetapi diabaikan oleh orangtua, akan menyebabkan anemia pada bayi di akhir tahun pertama kehidupannya.

Lalu, apakah bisa jika ibu menyusui mengonsumsi lebih banyak zat besi? Apakah bisa tersalurkan melalui ASI yang diberikan kepada bayi? Jawabannya, tidak.

Jadi, untuk mencegah bayi terkena anemia di beberapa bulan kemudian, alangkah lebih baiknya jika Mama memerhatikan asupan nutrisi bayi dan mengonsultasikannya dengan dokter setiap bulannya.

Risiko Anemia pada Bayi

pexels/rodnae productions

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, pemberian suplementasi zat besi tambahan pada bayi ASI bisa mengurangi resiko anemia di kemudian hari.

Zat besi adalah nutrisi utama yang membantu menyebarkan oksigen ke seluruh tubuh.

Jika bayi memiliki asupan zat besi yang rendah, ia akan lebih mudah kelelahan. Sehingga, asupan zat besi dan adanya resiko anemia pada bayi tidak bisa disepelekan oleh orangtua.

Jika diabaikan, risiko anemia bisa merugikan pertumbuhan dan perkembangan otak bayi.

Efek samping yang ditimbulkan pun tidak hanya terjadi saat bayi. Setelah masuk ke masa anak-anak, anemia bisa menyebabkan adanya masalah perkembangan koginitif dan perilaku yang buruk. Karenanya, penting untuk mencegah anemia sedini mungkin.

Mulai dari usia 12 bulan, dokter biasanya melakukan tes darah untuk mengetahui apakah bayi memiliki anemia.

Jika ada kecurigaan, tes darah ini bisa dilakukan lebih dini. Setelah mendapatkan diagnosa dan mendapatkan resep suplemen zat besi, pastikan Mama memberikannya sesuai anjuran dokter, ya.

Baca juga:

The Latest