TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

7 Jenis Pemeriksaan untuk Bayi Baru Lahir

Untuk memastikan kondisi kesehatannya, bayi baru lahir perlu menjalani berbagai jenis pemeriksaan

Freepik/wirestock

Pada hari pertama bayi lahir, ia akan terlihat dalam kondisi yang baik dan sehat, namun kita tidak dapat mengetahui secara pasti kondisi kesehatannya. Oleh karena itu, untuk memastikannya, bayi baru lahir perlu melakukan pemeriksaan secara khusus.

Pemeriksaan ini ditujukan untuk mengetahui kondisi kesehatan bayi secara menyeluruh dan untuk memastikan bahwa seluruh anggota tubuhnya bekerja dengan baik.

Ada sejumlah serangkaian pemeriksaan yang perlu dilalui oleh bayi baru lahir, Ma. Di bawah ini Popmama.comtelah rangkumdari beragam sumber 7jenis pemeriksaan untuk bayi baru lahir. Apa saja?

1. Pemeriksaan antropometri

Freepik/PV Productions

Menurut Kementerian Kesehatan, antropometri adalah metode yang digunakan untuk menilai ukuran, proporsi, dan komposisi tubuh manusia.

Pemeriksaan antropometri pada bayi baru lahir meliputi penghitungan berat dan tinggi badan, bentuk dan lingkar kepala, leher, mata, hidung, serta telinga bayi.

Pemeriksaan ini ditujukan untuk untuk mendeteksi ada atau tidaknya kelainan pada anggota tubuh bayi baru lahir.

Tak hanya itu, pemeriksaan antropometri ini juga bisa dilakukan sebagai pemantauan terhadap status gizi dan kesehatan fisik bayi baru lahir.

 

2. Pemeriksaan fisik

Freepik/freestockcenter

Pada bayi baru lahir, pemeriksaan lain yang perlu dilakukan adalah pemeriksaan fisik. Pemeriksaan ini harus dilakukan segera setelah lahir untuk diketahui apakah bayi memiliki kelainan pada anggota tubuh atau tidak.

Dikutip dari laman National Health Service, pemeriksaan fisik pada bayi perlu dilakukan dalam 72 jam setelah bayi lahir.

Pemeriksaan fisik pada bayi umumnya meliputi pemeriksaan bentuk dan lingkar perut, pemeriksaan organ-organ di dalam perut seperti hati, lambung, dan usus hingga lubang anus.

Selain itu, dokter juga akan memeriksa tangan dan kaki bayi serta melakukan pemeriksaan pada organ kelamin bayi.

 

3. Pemeriksaan jantung dan paru-paru

Unsplash/Robina Weemeijer

Jantung dan paru-paru merupakan organ vital pada manusia, sehingga kedua organ ini perlu diperiksa dan dipastikan dapat bekerja dengan baik begitu bayi lahir.

Pada pemeriksaan jantung, dokter akan memantau detak dan suara jantung bayi menggunakan stetoskop.

Sementara pada pemeriksaan paru-paru, dokter akan memeriksa laju pernapasan, pola pernapasan, dan mengevaluasi fungsi pernapasan bayi.

4. Pemeriksaan pendengaran

Freepik/ jcomp

Pemeriksaan selanjutnya yang perlu dilakukan setelah bayi lahir adalah pemeriksaan pendengaran. Tes ini perlu dilakukan sesegera mungkin untuk mengetahui apakah bayi memiliki gangguan pada pendengarannya atau tidak.

Pemeriksaan ini umumnya paling cepat dilakukan saat bayi berusia dua hari dan paling lambat ketika usianya sudah satu bulan.

Pemeriksaan pendengaran ini dapat dilakukan dengan dua cara, Ma. Cara pertama dengan tes Automated Auditory Brainstem Response (AABR). Tes ini dilakukan dengan mengukur aktivitas gelombang otak bayi saat merespons bunyi.

Sedangkan cara yang kedua adalah tes Otoacoustic Emissions (OAE), tes ini dilakukan dengan mengukur gelombang suara di telinga bagian dalam saat bayi merespons bunyi.

Apabila setelah dilakukan pemeriksaan dokter menemukan masalah, dokter akan melakukan penanganan dan perawatan dengan tepat.

5. Pemeriksaan tiroid

Freepik/Uthaiphoto

Setelah 48 hingga 72 jam bayi lahir, perlu dilakukan pemeriksaan tiroid, Ma. Dikutip dari Ikatan Dokter Anak Indonesia atau IDAI, pemeriksaan ini perlu dilakukan untuk mengetahui apakah kelenjar tiroid pada bayi berfungsi baik atau tidak.

Jika kelenjar tiroid tidak berfungsi, maka hormon tiroid yang dihasilkan pun tidak akan mencukupi kebutuhan tubuh. Saat bayi kekurangan hormon tiroid, hal ini bisa sangat menghambat tumbuh kembang bayi.

Pemeriksaan tiroid biasanya dilakukan dengan mengambil sampel darah. Darah yang telah diambil kemudian akan diuji di laboratorium untuk mengukur dua hormon yang menunjukkan seberapa baik tiroid bekerja, yaitu tiroksin (T4) dan hormon perangsang tiroid (TSH).

 

6. Pemeriksaan mata

Freepik

Pemeriksaan mata merupakan salah satu pemeriksaan yang perlu dilakukan oleh bayi baru lahir. Tes ini dilakukan untuk mengetahui apakah bayi memiliki kelainan pada mata seperti infeksi, katarak, dan glaukoma.

Pada bayi yang lahir secara prematur, tes mata ini dilakukan untuk mengetahui apakah bayi mengalami retinopati prematuritas (ROP) atau tidak. ROP merupakan penyakit mata yang dapat terjadi pada bayi yang lahir prematur atau memiliki berat badan kurang dari 1,36 kg saat lahir.

7 Pemeriksaan darah

Freepik/rawpixel.com

Tes darah perlu dilakukan pada bayi yang baru lahir untuk dapat mengetahui apakah ada kondisi atau gangguan kesehatan yang langka dan serius atau tidak.

Tes darah pada bayi baru lahir umumnya dilakukan 24 hingga 48 jam setelah bayi dilahirkan. Pemeriksaan darah ini dilakukan menusuk tumit bayi untuk mendapatkan beberapa tetes darah.

Darah yang telah diambil selanjutnya dikumpulkan pada kertas khusus dan diperiksa di laboratorium. Jika tes darah ini menunjukkan hasil tertentu, dokter akan menyarankan agar bayi mendapatkan tes darah lanjutan.

Itu tadi 7 jenis pemeriksaan untuk bayi baru lahir. Semoga bermanfaat!

Baca juga:

The Latest