TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Awas! Ini 4 Masalah Pencernaan pada Bayi Beserta Cara Mengatasinya

Masalah pencernaan membuat bayi tidak nyaman dan tidak maksimal tumbuh kembangnya

Freepik

Ketika masih bayi, kemampuan anak dalam mencerna makanan masih terus berkembang dan belum sempurna.

Kondisi tersebut membuat bayi sangat rentan terhadap berbagai masalah pencernaan. Padahal, asupan makanan sangat penting untuk pertumbuhannya.

Untuk itu, sebagai orangtua, Mama perlu tahu apa saja gangguan pencernaan pada bayi yang sering terjadi dan cara mengatasinya.

Walaupun sering terjadi, gangguan pencernaan pada bayi sulit sekali diketahui.

Pasalnya, bayi yang belum bisa bicara atau kesulitan berbicara, tentu tidak dapat memberi tahu apa saja gejala yang dirasakannya dengan baik. Mereka hanya bisa menangis dan terlihat lemah.

Oleh karena itu, agar lebih jelas, berikut Popmama.com telah merangkum 4 masalah pencernaan yang sering bayi alami beserta cara mengatasinya.

1. Diare yang berpotensi menyebabkan dehidrasi

Mustbestmom.com

Usus bayi lebih sensitif dan lemah dibanding orang dewasa. Kadang, tidak semua makanan yang masuk ke perutnya bisa dicerna usus bayi sehingga mengganggu gerakan usus dan menyebabkan diare.

Selain terganggunya gerakan usus, rotavirus yang masuk ke tubuh bayi juga bisa menyebabkan diare.

Bayi yang mengalami kondisi ini biasanya menunjukkan gejala, seperti sering buang air, feses lebih encer, bayi rewel, dan terlihat lemah.

Gejala yang lebih parah biasanya ditandai dengan munculnya ruam, demam, menangis saat buang air, perdarahan dan muncul lendir pada feses serta mulut kering.

Tanpa perawatan yang tepat, bayi bisa mengalami dehidrasi. Untuk pertolongan pertama diare pada bayi, berikan larutan gula garam (oralit).

Kemudian, untuk memastikan kondisinya lakukan pemeriksaan ke dokter anak. Jangan berikan obat tanpa pengawasan dokter, dikhawatirkan akan memperburuk kondisi bayi.

Hal yang terpenting adalah meningkatkan asupan cairan, memilih makanan yang lebih lunak, serta menjaga kebersihan tubuh bayi.

2. GERD membuat bayi sering muntah

Babycenter.com

Jika bayi sering muntah terutama setiap kali habis makan, hal ini perlu ditelusuri lebih lanjut.

Bayi memiliki kemungkinan mengalami penyakit asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD).

Refluks terjadi ketika lingkaran otot antara kerongkongan dan lambung tidak berfungsi maksimal, sehingga asam lambung dan makanan dari lambung kembali ke kerongkongan.

Umumnya, hal ini terjadi karena fungsi cincin otot yang berfungsi seperti katup pada kerongkongan bagian bawah dari bayi belum sempurna.

Kabar baiknya, katup tersebut biasanya akan berfungsi sempurna mulai usia 4-5 bulan hingga usia satu tahun.

Saat itu, muntah yang dialami bayi akan berhenti. Bayi mengalami refluks juga bisa disebabkan oleh ukuran lambungnya yang masih kecil, sehingga mudah terisi penuh.

Ditemui pada acara Embrace the Joy of Motherhood, dr. Marissa T.S Pudjiadi Sp.A menyebutkan bahwa selain muntah, ada beberapa gejala lain yang mengiringi GERD pada bayi, antara lain:

  • Rasa sakit atau perih di tenggorokan dan dada bayi sehingga sering menolak menyusu atau makan.
  • Menangis saat atau setelah menyusu atau diberi makan.
  • Sering batuk ataupun batuk yang berlangsung cukup lama.
  • Gangguan pernapasan seperti tersedak, batuk, napas berbunyi atau mengi, hingga sesak napas. Jika tidak diobati, gangguan pernapasan ini bisa menyebabkan pneumonia.
  • Gangguan tumbuh kembang seperti terlambat berjalan atau berbicara. Hal ini disebabkan karena bayi tidak cukup memperoleh nutrisi yang dibutuhkan.

Untuk mengatasi GERD pada bayi, umumnya, dokter akan memberikan obat-obatan yang akan mengurangi gas dalam lambung, sekaligus obat yang akan menurunkan kadar asam lambung.

Meski demikian, beberapa penelitian menunjukkan adanya kemungkinan bahwa pemakaian obat-obatan penurun asam lambung tidak dapat sepenuhnya mengurangi terjadinya refluks pada bayi.

Pemberian obat-obatan harus sangat hati-hati pada bayi, sebab ada kemungkinan akan menimbulkan efek samping.

Selain dengan obat-obatan, pada beberapa kasus mungkin diperlukan tindakan operasi untuk mengatasi GERD.

Prosedur ini tergolong efektif namun jarang dilakukan, karena mempertimbangkan risikonya terhadap bayi.

3. Sembelit yang menyulitkan bayi BAB

medicalnewstoday.com

Selain diare, sembelit juga termasuk dalam deretan gangguan pencernaan pada bayi yang sering terjadi.

Biasanya kondisi ini terjadi saat bayi mulai mengonsumsi makanan padat. Bayi yang mengalami sembelit akan menunjukkan gejala, seperti kesakitan saat buang air, ada darah pada kotoran bayi, rewel, dan tentunya bayi jadi jarang buang air karena sulit untuk dikeluarkan.

Perubahan menu makanan bayi bisa membantu melembutkan feses, misalnya memperbanyak menu sayuran, air putih, dan juga buah.

Selain itu, Mungkin Mama juga memerlukan bantuan dokter untuk memilih obat pencahar yang cocok untuk bayi.

4. Rendahnya penyerapan usus karena intoleransi makanan

Pexels/Alex Smith

Bayi yang lahir secara prematur, memiliki berat badan yang rendah, atau memiliki cacat bawaan pada ususnya biasanya mengalami intoleransi makanan.

Artinya, ada kandungan makanan yang dianggap tubuh sebagai ancaman sehingga menimbulkan reaksi muntah atau diare setelah mengonsumsi makanan tersebut.

Untuk kondisi ini, orangtua harus benar-benar memerhatikan apa pun yang dimakan si Kecil.

Kemungkinan anak membutuhkan konsultasi dan pengobatan lebih lanjut pada dokter anak untuk mengendalikan gejala.

Nah, itulah 4 jenis masalah pencernaan yang biasa dialami pada bayi.

Semoga bermanfaat!

Baca juga:

The Latest