TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

7 Tanda Anak Menjadi Teman yang Toxic bagi Teman di Lingkungannya

Perilaku anak yang toxic seringkali membuat orang lain lelah secara emosional dan fisik

Pexels/Monstera

Tak sedikit orangtua yang mengajarkan agar anak-anak mereka untuk mencari teman yang tepat. Karena bukan rahasia umum lagi jika pertemanan di masa-masa sekolah memiliki banyak manfaat bagi perkembangan keterampilan sosial anak.

Mama mungkin juga mengajarkan anak agar tidak pernah berurusan dengan teman-teman yang membawa dampak buruk alias toxic. Teman yang toxic ini membawa dampak negatif dan cenderung menyedot energi orang-orang di sekitarnya.

Namun tak dapat dipungkiri bahwa kebanyakan orang memang lebih mudah menilai orang lain dibanding diri sendiri. Lantas, bagaimana jika ternyata anak mama adalah satu di antara orang-orang yang beracun dan merugikan teman-teman di sekitarnya?

Inilah beberapa tanda anak adalah seseorang yang toxic atau tidak bagi lingkungan pertemanannya, kenali 7 ciri-ciri yang telah Popmama.com rangkum berikut ini yuk!

1. Banyak teman anak yang mulai menghindarinya

Unsplash/BIPIN SAXENA

Poin pertama mungkin menjadi tanda yang paling mudah Mama lihat atau sadari. Apakah teman-teman anak yang dulu sering main ke rumah kini menjadi berkurang atau tidak pernah bermain bersama lagi?

Walaupun ini bisa terjadi akibat banyak faktor, tingginya frekuensi orang yang datang dan pergi dalam, hidup anak, bukan berarti kesalahan ada pada orang tersebut. Karena, bisa jadi anak mama yang sumber masalah tersebut.

Sehingga luangkan waktu bersama untuk mengobrol dan mengintrospeksi diri. Siapa tahu, Mama mengetahui apa alasannya, yang anak tak sadari. Bagaimana pun, selalu ada alasan ketika teman anak mulai meninggalkannya.

2. Terlalu mengkritisi orang lain

Freepik/Master1305

Memiliki anak yang berpikiran kritis memang baik dalam banyak aspek kehidupan, namun apapun yang berlebihan tentu tidak baik, bukan?

Jika anak terlalu kritis pada kesehariannya di rumah, ini mungkin menjadi alasan mengapa teman-temannya mulai menghindarinya. Anak mungkin sering menghakimi pilihan hidup dan keputusan yang diambil teman-temannya.

Bersikap terlalu mengkritisi bisa meninggalkan kesan bahwa anak menunjukkan dirinya yang lebih baik daripada orang lain.

Penting untuk memberi tahu anak, bahwa setiap orang punya punya batasan sendiri tentang hidupnya. Jelaskan pada bahwa apa yang ia lakukan dapat membuat orang lain jadi terganggu hingga rendah diri, jika ia sering merendahkannya.

3. Terlalu mengatur pilihan orang lain

Freepik

Tak hanya berbahaya bagi diri sendiri, berusaha mengontrol segala hal yang bahkan di luar kendali juga dapat merusak hubungan dengan orang lain.

Kepribadian yang terlalu mengontrol ini membuat teman-teman anak mungkin merasa sesak jika berada di dekatnya. Bahkan baik disengajakan atau tidak, anak mungkin telah merapas kebahagiaan seseorang, karena ia telah membatasi temannya untuk menjadi diri sendiri.

Dengan kata lain, anak telah merampas jati diri orang lain.

4. Enggan meminta maaf dan bertanggung jawab atas kesalahannya

Freepik/Cookie-studio

Setiap manusia melakukan kesalahan, dan ini wajar selama kita dapat meminta maaf dengan tulus dan berusaha untuk tidak mengulanginya lagi. Namun, tak semua orang dapat menerima kesalahannya, dan jika anak mama termasuk anak yang toxic maka ia menjadi salah satunya.

Kebiasaan anak dalam menyikapi kesalahan yang ia buat, dapat menunjukkan dirinya termasuk teman, atau anak yang hanya memberi energi positif, ataupun sebaliknya.

Cobalah Mama perhatikan di rumah, apakah anak sering meminta maaf ketika ia melakukan kesalahan? Jika Mama merasa anak jarang atau bahkan tak pernah mengucap maaf, apalagi saat secara sadar melakukan kesalahan, maka ia termasuk teman yang toxic.

Enggan meminta maaf terlebih dahulu menandakan anak tidak mau bertanggung jawab, dan ia juga tidak menghargai orang lain.

5. Lebih berfokus pada apa yang ia dapatkan, bukan apa yang bisa diberikan

Freepik/asierromero

Kalimat take and give seringkali menjadi dasar hubungan yang positif, termasuk hubungan persahabatan. Ketika seorang remaja selalu fokus pada apa yang bisa ia dapatkan dari temannya, tanpa peduli apa yang bisa ia berikan, maka ia memiliki tanda-tanda teman yang toxic.

Anak membuat orang-orang yang bersamanya jadi lelah secara emosional bahkan fisik. Maka dari itu penting untuk mengajarkan keseimbangan. Perbanyak memberi dan memuji orang lain tanpa pamrih apapun.

Ketika kebiasaan ini mulai dibangun, tentu akan membantu anak membangun relasi yang lebih positif!

6. Tidak suka melihat temannya berhasil

Pexels/RODNAE Productions

Tanda teman yang toxic juga dapat dinilai dari caranya memperlakukan kesuksesan orang lain. Pribadi yang positif biasanya akan turut berbahagia dengan pencapaian orang lain, bahkan mempelajari kesuksesan orang tersebut.

Sebaliknya, pribadi yang negatif akan menganggap kesuksesan dari temannya tersebut tidak lebih baik dari apa yang ia miliki, bahkan merasa dengki karenanya. Jika ini salah satu kepribadian yang ada dalam diri anak mama, jangan tunda untuk segera memperbaikinya ya Ma!

7. Kerap melontarkan komentar pasif-agresif

Freepik/Pixel-shot.com

Suka berubah-ubah dalam berperilaku memang perilaku sepele, terutama bagi remaja yang sering mood swing selama masa pubertas. Namun ini tak bisa dijadikan alasan apabila anak terus mengembangkan perilaku ini jadi kebiasaan.

Saat membangun hubungan, manusia membutuhkan rasa aman dan saling percaya. Sedangkan, gaya komunikasi yang pasif-agresif ini adalah lawan dari hal tersebut, dan bisa memperkeruh sebuah situasi.

Ketika anak berbicara dengan baik dan beberapa menit kemudian menjadi terusik lalu marah-marah, hanya akan membuat orang lain bingung dengan apa maksud anak yang sebenarnya.

Sehingga penting bagi Mama dan anak untuk mencari tahu apa saja pemicu amarahnya, agar anak dapat menyampaikan dengan jelas jika memang ada seuatu yang ia sukai atau tidak disuka dari seseorang, tanpa perlu marah-marah.

Nah itulah beberapa tanda yang muncul jika anak mama adalah seseorang yang toxic. Memang sangat perlu mengajarkan anak bagaimana menghindari pengaruh negatif di lingkungannya. Namun mengajarkan anak agar tidak membawa pengaruh negatif juga tak kalah penting.

Semoga tanda-tanda di atas tidak terjadi pada anak mama, ya!

The Latest