TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Anak Mama Kecanduan Game? Sembuhkan dengan 9 Cara ini, Ma

Apa yang harus Mama lakukan agar si Anak tak melulu bermain game sepanjang hari?

Pixabay/StartupStockPhotos

"Sekarang kan sudah libur. Aku kan sudah belajar terus waktu sekolah kemarin." Kalimat bisa jadi salah satu alasan yang keluar dari mulut si Anak agar bisa mengakses game kesukaanya, baik di komputer maupun di ponsel.

Namun, bisa jadi hal ini lama-lama mulai mengkhawatirkan. Si Anak misalnya bermain seharian tanpa henti, bahkan mencoba sebisa mungkin mengesampingkan waktu makan atau mandi di tengah kesibukannya dengan komputer.

Mama harus tahu, bahwa Mama tidak sendirian. Berdasarkan studi yang dilakukan oleh laman NPD, sebuah lembaga survei di AS, sebanyak 91 persen dari anak-anak AS berusia 2 hingga 17 tahun gandrung pada video game. 

Para pembuat game mencoba menjadikan permainannya sebagai "candu" karena permainan ini memicu sistem "reward" pada otak, hingga akhirnya membentuk perilaku sang anak.

Bahkan, studi yang dilakukan oleh Ofir Turel dari California State University menunjukkan melalui serangkaian pemindaian MRI, bahwa video game ini memiliki efek yang mirip dengan penggunaan obat-obatan terlarang atau alkohol di otak anak. Bedanya, bagian "pengendalian diri" pada anak yang kecanduan game, masih lebih baik.

Penyebab Anak Kecanduan Game

Pixabay/Olichel Adamovich

Mengapa anak mama bisa kecanduan main game? Ini alasannya:

  • Game online yang melibatkan banyak pemain dalam waktu realtime akan membuat anak Mama tenggelam dalam permainan karena pembuat game akan membuat si Anak mencari hal-hal yang dibutuhkan dalam permainan, seperti tanpa berkesudahan. 
  • Selain itu, pemain juga "dijebak" untuk menyelesaikan misi dalam waktu bermain yang lumayan lama. Ada game yang bisa jadi membutuhkan bahkan lebih dari 40 jam seminggu untuk menyelesaikan misinya. 
  • Hal yang lebih menjebak anak, adalah elemen sosial yang membuatnya sulit berhenti. Game sosial yang dimainkan beramai-ramai ini memuaskan pemainnya dalam hal merasa kompeten, merasa berkuasa, dan yang paling menentukan adalah: merasa terhubung antara satu pemain dengan pemain lainnya. 
  • Anak Mama bisa jadi merasa "harus bermain game online" karena teman-teman di dunia mayanya ini membutuhkan dia untuk memenangkan permainan.

Efek Buruk Bermain Game

Pixabay/iamyouwere

Jika anak Mama sudah masuk ke dunia game dalam waktu yang cukup lama, bisa jadi Mama mulai menyadari efek samping yang nuncul ada pada anak Mama. Misalnya seperti: 

  • Selalu ingin kembali bermain, dan kesal jika tidak bisa bermain.
  • Lupa waktu hingga kurang tidur.
  • Penggunaan mouse berlebih membuat tangannya sakit, mata juga bisa terasa perih, mengalami migrain, dan sakit punggung.
  • Tidak lagi bermain bersama teman atau bahkan keluarga. Walaupun kebanyakan game online bersifat sosial, keterampilan sosial yang bisa dipelajari anak amatlah sedikit karena tak berhadapan langsung dengan temannya.
  • Game tersebut menjadi pusat perhatian anak dengan selalu membicarakannya, atau ia jadi termotivasi oleh game tersebut.
  • Menelantarkan hobi yang kini tak lagi disentuhnya sejak bermain game online.
  • Tak peduli lagi apakah ia sudah mandi, makan, minum, atau belum.

Bahkan, pada tahap yang parah, hal ini akan mengarah ke depresi, kecemasan, dan ADHD.

Jadi, Mama, ini yang dapat Mama lakukan untuk mengatasi anak yang kecanduan game:

1. Jelaskan bahwa kehidupan nyata lebih penting dibanding game

Pixabay/edsavi30

Mama perlu menjelaskan kepada si Anak, bahwa game hanyalah hiburan. Jelaskan pula bahwa game bukanlah pusat kehidupannya. Mama perlu memaparkan kepadanya, bahwa pada usia sekarang ini, kemenangan di kehidupan nyata, lebih penting. Seperti mendapatkan nilai bagus atau mendapatkan uang. Katakan bahwa hal-hal ini lebih penting dibandingkan mendapatkan kemenangan dalam game.

2. Tetapkan waktu bermain yang wajar

Pixabay/Congerdesign

Mama juga harus tegas dalam menangani anak yang sudah kecanduan bermain game. Katakan bahwa ia boleh bermain setidaknya satu jam pada saat hari sekolah. Perbolehkan ia bermain dua hingga tiga jam total pada saat hari libur. Hal ini masih dianggap wajar sebagai rentang waktu anak dalam bermain.

Selain itu, batasi waktu permainannya dengan ketat. Misalnya tak lebih dari jam 9 malam. Pastikan Mama mematuhi peraturan yang Mama buat. Jika Mama sesekali memberinya kesempatan untuk bermain lebih karena kasihan misalnya, bisa jadi anak lama-lama akan menyepelekan Mama dan enggan mematuhi peraturan yang dibuat.

3. Berikan game sebagai reward

Pixabay/Arek Socha

Mama bisa mulai membiasakan anak untuk bermain game saat ia mendapatkan nilai sesuai kesepakatan. Atau bisa juga saat ia sudah selesai melakukan semua tugasnya dalam pekerjaan rumah, atau selesai membantu pekerjaan Mama. Jika hal itu dilanggar, tegaskan bahwa ia hanya boleh bermain game pada saat akhir minggu misalnya. Atau kurangi jamnya jika ia melanggar peraturan.

4. Bantu anak mengingat waktu serta membatasinya

Pixabay/Nile

Game seperti ini biasanya didesain agar pemainnya memang melupakan waktu dan tenggelam di dalamnya. Tuntutannya untuk mengejar level misalnya, bisa jadi membuat pemainnya merasa baru satu jam bermain, padahal ia telah menghabiskan waktu tiga jam.

Jadi, bisa saja si Anak memang lupa dengan perjanjian rentang waktu yang telah disepakati bersama Mama. Mama bisa mengingatkan si Anak seberapa lama ia telah bermain. Hal ini membantu anak untuk men-save permainannya. Selain anak juga terbantu dalam menjaga waktu, Mama juga jadi tahu seberapa lama ia bermain.

Jika Mama tak mau repot mengingatkan si Anak, gunakan timer atau alarm. Ini bisa membantu untuk mengingatkan seberapa lama dia bermain. Atur komputer untuk berada pada mode otomatis mati pada waktu yang telah disepakati jika memungkinkan.

Tentukan game apa yang Mama perbolehkan ia untuk bermain. Menurut laman Raises Smart Kid, Mama juga bisa menggunakan software Cold Turkey Blocker yang bisa didapatkan secara cuma-cuma di internet. Dengan software ini Mama bisa membatasi agar anak tak mengunduh game sesuka hati di komputer.

5. Letakkan komputer di tempat yang terlihat

Pixabay/Monoar Rahman Rony

Jangan biarkan komputer berada di kamarnya ya, Ma. Letakkan komputer di ruang keluarga misalnya. Atau di sudut rumah tempat semua orang bisa melihat komputer tersebut. 

Dengan demikian anak akan sadar bahwa ia selalu berada dalam pengawasan orang lain. Mama juga bisa lebih mudah mengingatkannya jika ia terlalu tenggelam dalam permainannya.

6. Kenalkan anak pada kegiatan yang menyenangkan

Pixabay/Free-Photos

Agar perhatiannya teralih dari game, cobalah mengenalkan anak pada kegiatan lain. Misalnya kegiatan olahraga seperti masuk ke dalam klub renang, bermain bola. Atau ajak ia bermain sepeda dan berlari. 

Kegiatan lain seperti membelikan buku kesukaannya agar ia banyak membaca, juga bisa Mama lakukan. Dorong ia agar bermain musik, atau biarkan ia banyak bermain dengan teman-teman sebanyanya di taman.

7. Ajak anak berdiskusi tentang masa depannya

Pixabay/Sasint

Coba Mama diskusikan, apa cita-citanya di masa depan. Sadarkan ia bahwa ia butuh berusaha dengan belajar keras untuk menggapai cita-citanya. 

Bahkan jika Anak ingin menjadi programmer game, atau bahkan professional gamer, jelaskan bahwa ia juga butuh untuk sukses dalam sekolahnya agar dengan mudah melangkah menuju cita-citanya tersebut. 

Karena tentu saja ia membutuhkan keterampilan, dan pekerjaan yang menghasilkan banyak uang untuk mendukung apa yang ia inginkan. Yakinkanlah ia bahwa belajar keras di sekolah adalah jalan yang harus ia tempuh terlebih dahulu agar sukses di masa depan kelak.

8. Mama juga harus berkaca

Pixabay/Free-Photos

Ini hal yang terpenting. Mama bisa jadi kewalahan menghadapi anak yang kecanduang dengan game. Namun, sebelum Mama mengeluh soal kebiasaan anak dalam bermain game, Mama harus berkaca pada diri sendiri. Tanya diri Mama apakah Mama juga terlalu banyak menghabiskan waktu dengan ponsel? Apakah sang Papa juga terlalu sibuk dengan kegiatannya sendiri? 

Baca juga:

The Latest