TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Mama Harus Tahu: Penyebab Sikap Agresif pada Anak dan Penanganannya

Cari tahu pengertian, penyebab, tanda-tanda dan apa yang harus dilakukan Mama bila anak agresif

c1.staticflickr.com

Apakah anak mama sering marah-marah, memukul, atau berteriak penuh emosi? Bisa jadi anak mama menunjukkan perilaku agresif. Tentu saja, marah adalah salah satu emosi yang harus dipelajari dan diungkapkan. Namun, marah berlebihan tidak baik untuk kehidupan masa depan anak. 

Mengeluarkan emosi itu penting, namun bertindak agresif adalah salah. 

Berikut Popmama.com akan merangkum penjelasan tentang agresivitas pada anak mulai dari pengertian, tanda-tanda anak mengalami agresif, penyebab, dan cara menanganinya.

1. Pengertian agresif

focusonthefamily.com

Menurut Myers seorang penulis Amerika dan pembuat tes kepribadian (MBTI), menjelaskan perilaku agresif sebagai perilaku fisik atau lisan yang disengaja dengan maksud untuk menyakiti dan merugikan orang lain.

Sementara menurut Davidoff seorang penulis buku psikologi, menyatakan bahwa perilaku agresif adalah setiap tindakan makhluk hidup yang ditujukan untuk menyerang dan menyakiti makhluk lainnya baik itu secara verbal maupun non verbal.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa agresif adalah semua tindakan atau perilaku, baik secara fisik maupun verbal, yang dilakukan secara sengaja dan terencana dengan tujuan untuk menyakiti, merusak, menyengsarakan orang lain.

2. Apakah agresif merupakan bawaan atau perilaku yang dipelajari?

Freepik/pressfoto

Perilaku agresif merupakan bawaan atau dipelajar masih menjadi perdebatan para psikolog. Menurut Sigmund Freud dan Konrad Lorenz, perilaku agresi merupakan bawaan dari lahir. Para psikolog tersebut berpendapat bahwa perilaku agresi merupakan salah satu insting atau dorongan dari dalam diri manusia.

Sedangkan menurut teori pembelajaran sosial yang dicetuskan oleh Albert Bandura, perilaku agresif muncul karena dipelajari. Manusia cenderung mengamati dan meniru perilaku orang lain. Jika perilaku yang diamatinya baik dan menghasilkan respon positif maka seseorang akan meniru perilaku tersebut, begitu juga sebaliknya. Jadi, perilaku agresif merupakan perilaku yang ada pada diri seseorang karena seseorang tersebut meniru perilaku orang lain.

Masih menjadi tanda tanya apakah perilaku agresif merupakan bawaan atau sesuatu yang dapat dipelajari. Disini banyak ahli yang menyukai jalan tengah, sehingga mereka berpendapat bahwa perilaku agresif muncul karena dipelajari dan ada juga faktor bawaan.

3. Tanda-tanda anak menjadi agresif

kid101.com Adik, Kakak, jangan bertengkar terus dong!

Mama harus hati-hati bila anak menunjukkan tanda-tanda di bawah ini:

  • Anak sering kehilangan kesabaran dan ketika kehilangan kesabaran ia menjadi sangat marah,
  • Anak menjadi mudah tersinggung atau impulsif dan kesulitan untuk tetap fokus,
  • Anak mudah frustrasi,
  • Anak sering menyerang secara fisik atau terlibat dalam perkelahian,
  • Anak sering mengganggu, argumentatif, dan cemberut,
  • Anak berprestasi buruk di sekolah,
  • Anak tidak dapat berpartisipasi dengan baik di kelas atau kegiatan terorganisir lainnya,
  • Anak kesulitan untuk berteman,
  • Anak berdebat atau berkelahi terus-menerus dengan anggota keluarga dan tidak akan menerima otoritas orangtua,
  • Anak sering menantang otoritas dan menolak untuk mematuhi aturan yang diberikan,
  • Anak tidak bertanggung jawab atas kelakuan buruknya dan selalu menyalahkan orang lain.

4. Penyebab anak menjadi agresif

(ilustrasi) IDN Times / Sukma Shakti

Berikut adalah penyebab anak menjadi agresif:

  1. Mendapat perilaku kekerasan dari orangtua atau teman sebayanya. Anak suka meniru perilaku orang sekitarnya, sehingga apabila ia mendapat perilaku kekerasan otomatis ia akan meniru perilaku tersebut.
  2. Kesulitan atau perselisihan keluarga. Anak-anak dapat bertindak menjadi agresif apabila terjadi masalah di keluarga atau keluarga sedang mengalami kesulitan. Seperti, keluarga yang tiba-tiba bangkrut, orangtua yang selalu bertengkar, saudara yang selalu mengganggu anak, dll. Jika anak mengalami hal ini tentunya anak cenderung akan mengeluarkan perilaku agresifnya, terlebih lagi apabila ada anggota keluarga yang berperilaku agresif.

  3. Gangguan belajar. Jika anak mama memiliki masalah yang membuatnya sulit untuk membaca, menulis, atau memahami bahasa lisan, ia mungkin melampiaskan frustrasinya secara fisik.

  4. Masalah neurologis. Terkadang kerusakan atau ketidakseimbangan kimiawi di otak menyebabkan perilaku agresif. Jika mama khawatir tentang hal ini, alangkah baiknya mama berkonsultasilah dengan dokter anak dan pertimbangkan untuk berbicara dengan spesialis.

  5. Gangguan perilaku. Hampir separuh dari seluruh anak yang didiagnosis dengan attention deficit / hyperactivity disorder (ADHD) juga memiliki perilaku agresif. Anak-anak ini membutuhkan perawatan khusus untuk dapat berprestasi di sekolah, berteman, atau menerima perintah dari orangtua mereka.

  6. Trauma emosional. Kekerasan dalam rumah tangga atau pelecehan seksual dapat menciptakan kecemasan, ketakutan, kemarahan, dan depresi yang berat. Seorang anak yang tidak memiliki tempat untuk melampiaskan emosinya ini dapat mengekspresikannya dengan tinjunya. Selain itu, anak-anak yang terpapar dengan kekerasan atau pelecehan di rumah atau di lingkungan sekitar mereka lebih cenderung berperilaku agresif daripada anak-anak lain.

  7. Paparan acara televisi dan film kekerasan. Sebagian besar ahli percaya bahwa menyaksikan kekerasan di layar dapat menimbulkan agresi sementara pada anak-anak. Sebaiknya mama memantau apa yang anak akan tonton, agar menghindari anak dari perilaku agresif.

  8. Permainan kekerasan. Zaman sekarang banyak permainan yang menunjukkan aksi kekerasan, seperti GTA (Grand Theft Auto), Mafia, Sleeping Dog, dll. Tugas mama disini adalah mengontrol anak dalam memilih mainan yang anak mainkan. Jangan sampai anak mempraktikkan apa yang ia mainkan sampai ke dunia nyata ya, Ma.

5. Apa yang harus mama lakukan?

pinterest.com

Untuk dapat menangani anak yang berperilaku agresif ini yang harus mama lakukan:

  • Hal pertama yang harus mama lakukan adalah mama tidak boleh menunjukkan perilaku agresif di depan anak. Dalam usianya yang masih kecil anak sangat suka meniru perilaku orangtuanya sehingga jika mama marah-marah, melempar barang, membentak, dan menunjukkan perilaku agresif lainnya maka anak kemungkinan besar akan meniru perilaku tersebut.
  • Segera nasehati jika anak melakukan kesalahan. Jangan tunggu sampai anak memukul kakaknya untuk ketiga kalinya untuk mengatakan, "Oke, itu sudah cukup!" Anak harus segera tahu kapan ia melakukan kesalahan. Hentikan apa yang anak lakukan, dan minta anak untuk duduk bersama dengan mama. Pegang atau sentuh dia dengan cara yang penuh kasih sayang. Setelah beberapa menit kedamaian, diskusikan secara singkat apa yang terjadi.

  • Diskusikan apa yang terjadi dengan tenang. Dengan tenang dan lembut tinjau kembali keadaan yang menyebabkan perilakunya yang agresif. Minta dia untuk menjelaskan apa yang memicu itu. Tekankan bahwa sangat normal memiliki perasaan marah tetapi tidak baik untuk menunjukkannya dengan memukul, menendang, atau menggigit. Sarankan cara yang lebih baik untuk menunjukkan kemarahannya misalnya, dengan mengungkapkan emosinya ("Saya merasa sangat marah karena mama mengambil bola basket saya") atau dengan berjalan menjauh dari situasi atau orang yang membuatnya kesal, sehingga ia memiliki waktu untuk menenangkan diri dan memikirkan apa yang harus dilakukan.

  • Disiplin secara konsisten. Sebisa mungkin, setiap anak menunjukkan perilaku agresif tanggapi dengan cara yang sama. Seiring waktu, respons mama yang konsisten  akan menetapkan pola yang akan dikenali oleh anak. Akhirnya, anak akan mengenali pola ini dan mengantisipasi konsekuensi sebelum bertindak.

  • Ajarkan anak pengendalian diri yang baik. Tekankan bahwa pengendalian diri adalah keterampilan yang ia perlukan untuk berhasil dan disukai di masa depan. Jika anak mengalami kesulitan dalam hal ini, mama mungkin harus menghadiahinya setiap kali anak berhasil mengendalikan emosinya. 

  • Ajarakan anak untuk bertanggung jawab. Jika anak merusak barang seseorang, ajarlan anak untuk memperbaiki atau mengantinya dengan uang saku yang ia peroleh. Ingatkan kepada anak bahwa ini bukan hukuman melainkan konsekuensi karena ia merusak barang orang lain.

  • Ajarkan alasan moral untuk tidak bertindak agresif. Beri tahu anak bahwa bertingkah secara fisik tidak benar karena menyakiti orang lain. Untuk mengembangkan empati dan etika, dia membutuhkan mama untuk menjabarkan beberapa prinsip seperti tindakan yang ia lakukan akan mempengaruhi orang lain.

Apakah Mama sudah lebih paham tentang perilaku agresif pada anak? Jika sudah, ayo mulai ajarkan anak untuk mengurangi perilaku agresifnya ya, Ma.

Baca juga:

The Latest