TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Bukan Mengigau Biasa, Sleepwalking pada Anak Perlu Diwaspadai

Faktor fisik dan psikologis dapat berpengaruh pada gangguan tidur ini

Pexels.com/Sam K

Mengigau, bagi anak-anak adalah hal yang biasa. Bisa jadi seharian beraktivitas membuat tubuhnya sangat lelah sehingga di alam bawah sadarnya terbawa saat tidur. Namun, pada beberapa kasus, gangguan tidur anak tak hanya sekedar mengigau. 

Meski bukan hal yang luar biasa, anak pun bisa mengalami sleepwalking, di samping mengigau. Dilansir dari healthline.com, sleepwaking adalah sebuah gangguan tidur yang menyebabkan seseorang dapat berjalan dan melakukan perilaku kompleks saat ia tertidur nyenyak. Penderita sleepwalking selain seringkali tidak menyadari perilakunya. Biasanya ia akan sulit dibangunkan serta kemungkinan tidak mengingat kejadian yang dialaminya saat tidur. 

Jika dibandingkan dengan orang dewasa, sleepwalking lebih sering terjadi pada anak-anak terutama yang berada di rentang usia empat hingga delapan tahun. Biasanya anak akan mengalami sleepwalking sekitar satu hingga dua jam setelah ia tertidur. Kondisi ini biasanya berlangsung selama 5 hingga 15 menit.

Sleepwalking mungkin saja tidak berbahaya, Ma. Namun, Mama mungkin harus tetap mewaspadai terjadinya cedera saat anak berjalan atau beraktivitas di luar kesadaran.

Penyebab Sleepwalking pada Anak

Pixabay/James Timothy Peters

Ada berbagai faktor yang memicu sleepwalking pada anak. Mulai dari sisi psikologis atau pun fisik. Antara lain:

  • Kelelahan atau kurang tidur,
  • kebiasaan tidur yang tidak teratur,
  • stres atau kecemasan,
  • berada di lingkungan tidur yang baru,  
  • sedang sakit atau demam,
  • pengaruh obat-obatan tertentu, termasuk obat penenang, stimulan dan antihistamin,
  • memiliki sejarah keluarga yang mengalami sleepwalking.

Meskipun jarang, sleepwalking bisa terjadi juga karena kondisi-kondisi khusus yang mungkin menyertainya, misalnya saja :

  • Sleep apnea, suatu kondisi ketika seseorang berhenti bernapas dalam waktu singkat di malam hari,
  • mengalami mimpi buruk yang menakutkan saat tidur nyenyak,
  • migrain,
  • cedera kepala.

Perilaku Sleepwalking pada Anak

Pixabay.com/emrahozaras

Berjalan sambil tidur mungkin merupakan gejala yang paling umum terjadi saat anak mengalami sleepwalking. Selain itu, ada perilaku lain dari sleepwalking yang dapat Mama amati:

  • Duduk di tempat tidur dan mengulangi gerakan tertentu,
  • bangun dan berjalan di sekitar rumah,
  • berbicara atau mengigau saat tidur,
  • tidak menanggapi ketika diajak bicara,
  • buang air kecil di tempat yang tidak seharusnya,
  • melakukan rutinitas, seperti membuka dan menutup pintu secara berulang kali.
     

Menangani Sleepwalking pada Anak

Untuk menangani sleepwaking, sebaiknya konsultasikan anak ke dokter untuk mendapatkan diagnosa yang tepat. Sebagai tahapan awal, dokter akan mencari tahu adanya kemungkinan terjadinya sleepwalking yang dialami oleh anggota keluarga lainnya. 

Selain itu, jika ternyata dokter mencurigai masalah tidur lain seperti sleep apnea, kemungkinan anak akan menjalani sejumlah pemeriksaan fisik seperti pengukuran detak jantung, gelombang otak, laju pernapasan, ketegangan otot, gerakan mata dan kaki, dan tingkat oksigen dalam darah. 

Secara umum, sleepwalking pada anak tidak memerlukan pengobatan atau perawatan khusus. Apalagi gangguan tidur ini umumnya akan menghilang saat anak memasuki usia remaja. Namun, saat Mama mengetahui anak dalam kondisi ini, segera tuntun kembali si Kecil kembali ke tempat tidurnya untuk menghindari cedera atau hal lain yang berbahaya.

Baca Juga:

The Latest