TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Bukan Memukul, ini 8 Cara Mendisiplinkan Anak yang Lebih Efektif

Memukul justru bisa membuat anak tumbuh jadi individu yang agresif

Freepik/gpoInstudio

Memukul adalah salah satu topik pengasuhan yang banyak diperdebatkan. Sementara sebagian besar dokter anak dan pakar pengasuhan anak tidak merekomendasikan pemukulan, sebagian besar orangtua di seluruh dunia mengaku memukul anak-anak mereka.

Bagi beberapa orangtua, memukul atau mengancam dengan memukul adalah cara tercepat dan paling efektif untuk mengubah perilaku anak. Dan itu sering berhasil dalam jangka pendek. Namun, penelitian menunjukkan hukuman fisik memiliki konsekuensi jangka panjang bagi anak-anak.

Apa dampak buruk memukul anak? dan apa cara lain untuk mendisiplinkan anak

Berikut Popmama.com akan membahas delapan cara untuk mendisiplinkan anak tanpa menggunakan hukuman fisik seperti memukul, di bawah ini. Baca terus ya!

Apa Dampak Buruk Dari Memukul Anak?

Freepik/Pixabay

Hukuman fisik seperti memukul anak seringkali dipilih oleh orangtua karena menyebabkan kepatuhan langsung, namun para peneliti telah menemukan bahwa perubahan perilaku mungkin hanya bersifat jangka pendek.

Faktanya, penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, hukuman fisik tidak efektif dan bahkan dapat menyebabkan masalah perilaku memburuk dari waktu ke waktu. Misalnya, memukul anak meningkatkan perilaku agresif.

Sebuah penelitian tahun 2012 dalam jurnal Canadian Medical Association Journal menemukan bahwa anak-anak yang dipukul lebih mungkin untuk memukul orang lain. Alasannya, hukuman fisik mengajarkan anak-anak untuk memecahkan masalah dengan kekerasan.

Ini juga dapat menyebabkan intimidasi, kekerasan dalam berhubungan, dan perilaku bermasalah lainnya yang bergantung pada kontrol atau kekuasaan atas orang lain.

Ada fakta lainnya, yaitu pada penelitian di tahun 2013 dalam jurnal Child Development Perspective menunjukkan bahwa memukul, menyebabkan anak tidak belajar bagaimana membuat pilihan yang lebih baik. Dan akhirnya, memukul tidak bisa menjadi pencegah perilaku buruk anak.

Hukuman fisik juga merusak hubungan antara anak-anak dan orangtua. Kepercayaan, stabilitas, keselamatan, dan keamanan adalah kunci untuk membantu anak mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk mengelola perilaku mereka.

Sedangkan, hukuman fisik seperti memukul dapat mengikis hubungan itu dan membuat pengelolaan perilaku menjadi lebih sulit.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, ada banyak cara lain untuk mendisiplinkan seorang anak tanpa dengan memukul. Berikut beberapa diantaranya:

1. Time-out

Freepik/freepik

Memukul anak-anak karena perilaku buruk, terutama yang disebabkan akibat agresi, mengirimkan pesan yang beragam. Anak akan bertanya-tanya mengapa orangtua boleh memukulnya, tetapi ia tidak boleh memukul saudaranya.

Menempatkan anak pada konsekuensi time-out bisa menjadi alternatif yang jauh lebih baik. Time-out adalah sebuah cara mendisiplinkan anak dengan menyuruhnya di satu area rumah, apakah itu di sudut ruang tamu atau di kamar, dan tidak ada interaksi apapun atau kegiatan apapun.

Cara ini akan mengajarkan anak sedikit tentang introspeksi diri terhadap perilakunya yang salah. Ketika dilakukan dengan benar, time-out juga mengajarkan anak bagaimana menenangkan diri, yang merupakan keterampilan hidup yang berguna.

Kemudian ketika waktu time-out selesai, anak akan mulai belajar mengatur diri sendiri, mengekspresikan emosinya dengan tepat, dan membuat pilihan yang berbeda di masa depan.

2. Kehilangan hak istimewa

Freepik/Alf061

Kehilangan hak istimewa bisa berarti tidak membiarkan anak menyaksikan televisi, bermain ponsel, atau tidur lebih cepat. Tujuannya bukan untuk menghukum anak agar patuh, tetapi untuk membantunya belajar membuat pilihan yang lebih baik untuk masa depan.

Tentu saja, ini membutuhkan latihan ya Ma. Sehingga, untuk mencegah anak membuat pilihan yang buruk, jelaskan bahwa konsekuensinya adalah hilangnya hak istimewa.

Jelaskan kapan hak istimewa dapat diperoleh kembali. Biasanya, 24 jam cukup lama untuk mengajari anak belajar dari kesalahannya.

Sehingga Mama mungkin dapat berkata, "Kamu tidak boleh nonton TV sepanjang hari, tetapi kamu boleh nonton lagi besok jika bisa merapikan mainan saat pertama kali Mama minta."

3. Mengabaikan perilaku buruk anak yang ringan

Freepik

Pengabaian selektif bisa lebih efektif daripada memukul. Namun ini tidak berarti Mama harus melihat ke arah lain jika anak melakukan sesuatu yang berbahaya atau tidak pantas. Tapi Mama bisa mengabaikan perilaku anak ketika ia mencari perhatian.

Saat anak mencoba mendapatkan perhatian dengan merengek atau mengeluh, jangan berikan perhatian itu padanya. Lihatlah ke arah lain, berpura-pura tidak dapat mendengarnya dan tidak menanggapi.

Kemudian, ketika anak menawarkan untuk merubah perilaku baik, kembalikan perhatian Mama kepadanya. Seiring waktu, anak akan belajar bahwa perilaku sopan adalah cara terbaik untuk memenuhi kebutuhannya.

4. Mengajarkan keterampilan baru

Freepik/Racool-studio

Salah satu masalah utama ketika orangtua memukul anak adalah, bahwa hal itu tidak mengajarkan anak bagaimana berperilaku lebih baik. Memukul anak karena ia bersikap agresif, tidak akan mengajarinya cara menenangkan diri saat kembali marah lagi.

Sebaliknya, si Kecil akan mendapat manfaat dari belajar bagaimana memecahkan masalah, dan mengelola emosi, ketika orangtua mengajarkan keterampilan tersebut. Ini tentunya dapat sangat mengurangi masalah perilaku.

Sebaiknya gunakan disiplin yang ditujukan untuk mengajar, bukan menghukum.

5. Memberikan konsekuensi logis

Freepik/Wavebreakmedia

Konsekuensi logis adalah cara yang tepat untuk membantu anak-anak yang berjuang dengan masalah perilaku tertentu. Konsekuensi logis secara khusus juga terkait dengan perilaku buruk. Misalnya, jika balita tidak mau makan malam, maka jangan biarkan ia makan camilan sebelum tidur.

Atau jika anak menolak untuk merapikan mainannya, jangan biarkan ia bermain dengan mainan tersebut selama sisa hari itu.

Menghubungkan konsekuensi langsung ke masalah perilaku, membantu anak melihat bahwa pilihannya memiliki konsekuensi langsung. Selain itu, konsekuensi logis juga mengajarkan anak tentang sebab-akibat, bahwa perilaku buruknya dapat menyebabkan konsekuensi tertentu.

6. Konsekuensi alami

Pixabay/publicdomainpictures

Berbeda dengan konsekuensi logis yang ditentukan oleh orangtua sendiri, konsekuensi alami memungkinkan anak-anak untuk belajar dari kesalahannya sendiri.

Misalnya, jika anak mengatakan ia tidak mau memakai jaket saat musim hujan, biarkan ia keluar dan kedinginan, asalkan aman untuk melakukannya.

Gunakan konsekuensi alami ketika Mama berpikir anak dapat belajar dari kesalahannya sendiri. Namun penting untuk memantau situasinya, untuk memastikan bahwa anak tidak akan mengalami bahaya nyata.

7. Memberikan hadiah pada perilaku baik

Freepik/Prostooleh

Alih-alih memukul anak karena perilakunya yang salah, berikan si Kecil hadiah untuk perilakunya yang baik. Misalnya, jika anak sering bertengkar dengan saudara kandungnya, buatlah sistem penghargaan untuk memotivasi mereka agar bisa berkumpul dengan lebih baik.

Memberikan hadiah untuk berperilaku positif dapat mengubah perilaku buruk anak dengan cepat. Hadiah membantu anak untuk fokus pada apa yang perlu ia lakukan untuk mendapatkan hak istimewa, daripada menekankan perilaku buruk yang seharusnya dihindari.

Hadiah tidak perlu selalu memberikan barang-barang mewah, namun Mama bisa memberikan hadiah yang sederhana seperti membuat makanan favorit anak, memberikan hidangan penutup, atau memberikan satu hari untuk tidak lebih terlambat dari biasanya.

8. Memuji perilaku baik anak

Freepik

Cegah masalah perilaku dengan menangkap perilaku baik anak. Misalnya, ketika anak bermain baik dengan saudaranya, tunjukkan dan katakan, "Kamu melakukannya dengan baik, Mama suka ketika kamu bisa berbagi dan bergiliran dengan kakak/adikmu hari ini."

Ketika ada beberapa anak di dalam ruangan, berikan perhatian dan pujian pada anak-anak lainnya yang mengikuti aturan dan berperilaku baik. Kemudian, ketika saudara atau teman anak mulai berperilaku, beri mereka pujian dan perhatian juga.

Namun pastikan bahwa pujian  yang diberikan tidak berlebihan. Berikan pujian dengan penegasan apa perilaku positif anak yang harus diulang, agar anak mengerti bahwa bersikap baik adalah perilaku terpuji yang disenangi oleh orang lain.

Nah itulah beberapa cara mendisiplinkan anak tanpa harus dengan memukulnya. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan agar orangtua, guru, dan pengasuh menahan diri, agar tidak menggunakan segala jenis hukuman fisik pada anak-anak, termasuk memukul.

Memukul juga menunjukkan bahwa hukuman fisik tidak efektif dalam jangka panjang dan mengarah pada hasil negatif.

The Latest