TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Pola Asuh yang Membahagiakan Anak di Masa Pandemi Menurut Psikolog

Si Kecil juga harus tetap bahagoa di tengah kondisi seperti ini, Ma

Pexels/Ksenia Chernaya

Di tengah kondisi pandemi seperti sekarang ini, tentu banyak orang mengalami perubahan yang berarti dalam hidupnya. Tak hanya orang dewasa, anak-anak pun juga turut merasakannya, Ma.

Meski masih mewabahnya pandemi Covid-19, memberikan anak masa kecil yang bahagia dan sehat tentunya tetap perlu menjadi perhatian khusus bagi setiap orangtua.

Hal ini bisa dilakukan dengan pola asuh yang baik dan benar sesuai usia si Kecil. Lantas, bentuk pola asuh seperti apa sih yang tepat diterapkan di masa pandemi ini?

Dok. Pribadi

Untuk membahas lebih lanjut, kali ini Popmama.com akan merangkum materi pembahasan yang telah disampaikan Utari Krisnamurthi, M.Psi., Psikolog, Psikolog Klinis sekaligus Co-founder Podcast Celoteh Mesra dalam Kulwapp Popmama Online Class pada Sabtu (31/7/21).

Penasaran apa saja yang bisa Mama lakukan untuk membuat anak tetap bahagia di masa pandemi ini? Yuk, simak rangkuman berikut ini, Ma!

1. Berhenti sejenak untuk refleksi diri

Freepik/lookstudio

Dalam paparannya, Utari menjelaskan bahwa di kondisi pandemi seperti sekarang ini sangat wajar bila setiap orangtua merasa mudah marah, kesal, dan juga lelah dalam menghadapi anak.

Tak heran jika perasaan tersebut memengaruhi bagaimana orangtua memberikan respon terhadap anak. Untuk itu, Utari menyarankan untuk berhenti sejenak dari kepenatan tersebut dan cobalah merefleksi diri.

"Mungkin kita jadi jauh lebih mudah murah ketika sedang lelah dan harus menghadapi anak. Malah jadi mudah memberikan respon yang membuat anak takut dan memunculkan emosi negatif juga. Nah mari ktia berhenti sejenak dan merefleksi diri ya, Ma," ujarnya.

2. Memenuhi kebutuhan dasar manusia

Freepik

Kunci dari anak hidup bahagia adalah dengan memenuhi 4 kebutuhan dasar manusia. Dalam paparannya, Utari menjelaskan bahwa 4 kebutuhan dasar tersebut antara lain:

  1. Fisik (makan, tidur, rumah, finansial)
  2. Psikologis (pikiran, perasaan, perilaku)
  3. Spiritual (bimbingan, keyakinan, nilai)
  4. Emosional (dicintai, dihargai, diterima)

Pada anak, jika kebutuhan dasar di atas tidak dipenuhi maka mereka akan merasa tidak aman dan tidak dilindungi. Utari menyebutkan, seiring berjalannya waktu hal ini akan membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri dan insecure.

"Anak akan tumbuh tidak percaya diri dan insecure karena kebutuhan dasarnya tidak terpenuhi dari kecil," jelasnya.

3. Self awarness

Freepik/Racool-studio

Cara yang bisa Mama lakukan untuk membuat anak tetap bahagia adalah dengan mengembangkan self awarness atau kesadaran diri terkait perubahan dalam diri, emosi, pikiran, perilaku dan pemicu munculnya hal negatif dalam diri kita.

"Pahami dan sayangi diri kita agar dapat memahami dan menyanyangi orang lain dengan lebih baik, itu salah satu motonya," ujar Utari.

Adapun cara untuk melatih self awareness melalui mindfulness yang bisa Mama lakukan adalah dengan beberapa cara berikut:

  • Teknik Grounding

Mama dan anak akan mencoba mengaktifkan indera dalam tubuh untuk bisa kembali ke masa tenang di masa kini. Inilah cara efektif untuk melatih mindfullness. Ingat kembali hal yang bisa mama lihat, rasakan, dengarkan, hirup, dan kecap sesuai dengan masing-masing kemampuan indera yang Mama miliki.

  • Atur Napas

Psikolog Utari juga menjelaskan bahwa selain teknik grounding, Mama juga bisa melakukan latihan pernapasan 4-7-8. Teknik ini bisa dilakukan bersama anak ketika anak sedang cranky atau mengeluarkan emosi-emosi negatif lainnya.

Caranya adalah dengan menghembuskan napas selama 4 detik, tahan selama 7 detik, lalu hembuskan selama 8 detik. Ulang sampai Mama dan anak merasa lebih tenang.

  • Wheel of Emotion

Selanjutnya adalah wheel of emotion, atau teknik di mana Mama mengajarkan pada anak untuk mengenali emosi apa yang sedang mereka rasakan. Nggak hanya senang dan sedih, tetapi juga bisa menjelaskan alasan senang dan sedihnya karena apa. 

4. Komunikasi asertif

Freepik/pch.vector

Cara lain adalah melakukan komunikasi asertif atau berkomunikasi dengan jelas, tegas, dan penuh empati. Memberikan validasi dan pengertian, kemudian sampaikan apa yang kita harapkan kepada anak.

Melalui komunikasi asertif, maka nantinya anak juga akan belajar untuk menyampaikan apa saja yang mereka butuhkan dengan cara yang lebih sopan dan jelas.

Dok. Utari Krisnamurthi, M.Psi., Psikolog

Komunikasi asertif melakukan tiga tahapan yakni menyebutkan apa yang dirasakan, misalnya "Aku merasa sedih, Ma."

Lalu selanjutnya menyebutkan alasan dan sejak kapan ia sedih, misalnya anak akan menyebutkan, "Aku sedih karena mainan aku rusak waktu kemarin bermain." Baru setelahnya anak akan merespon apa yang ia butuhkan misalnya dengan, "Aku ingin mainan pengganti yang baru boleh nggak, Ma?"

5. Manfaat self awareness dan komunikasi asertif

Freepik/tarachadz

Dari kedua cara di atas, berikut 4 manfaat dari penerapan pola asuh self awarness dan komunikasi asertif pada anak. Berikut yang dijabarkan oleh Utari, antara lain:

  1. Emotional Intelegience: anak akan menyadari emosinya, orangtua juga akan menyadari pemicu dan hal yang bisa dilakukan untuk mengatur emosi
  2. Self leadership: anak menjadi lebih mendiri, orangtua mampu mengatur prioritas antara pribadi dan anak
  3. Conflict resolution: orangtua dapat menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, anak tidak trauma
  4. Self esteem: adanya rasa percaya diri tinggi antara orangtua dan anak, kemudian hubungan orangtua dan anak juga semakin baik

"Kalau mau bahagia keduanya, berarti kita menjalankan kegiatan secara berkesinambungan juga dengan anak kita dan sambil mengajarkan pada anak bagaimana caranya jadi manusia yang lebih sehat secara fisik dan mental," tutup Utari.

Itu tadi pola asuh yang bisa Mama terapkan agar anak tetap bahagia, tidak hanya di masa pandemi, tetapi juga seumur hidupnya. Semoga informasinya bermanfaat dan bisa Mama terapkan pada anak di rumah ya!

Baca juga:

The Latest