TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Tips dan Trik Sukses Homeschooling a la Penulis Kusumastuti

Metode pendidikan alternatif dalam mendidik anak dari rumah nggak selamanya buruk, Ma

Pexels/Gustavo Fring

Metode pendidikan alternatif di mana orangtua memilih mendidik anaknya di rumah daripada di sekolah formal dikenal dengan sebutan homeschooling.

Melalui homeschooling, Mama dapat menentukan sendiri metode atau sistem mengajar seperti apa yang bisa diajarkan untuk anak sesuai dengan minat, kemampuan, dan gaya belajar anak mama.

Menurut penulis Kusumastuti dalam Kuliah WhatsApp bersama Popmama Community yang membahas seputar homeschooling untuk anak, dirinya menjelaskan bahwa homeschooling bisa dilakukan sendiri oleh orangtua atau seorang pengajar yang datang ke rumah.

"Atau zaman sekarang, bisa guru-guru online," tambahnya.

Melalui paparannya, Kusumastuti juga menjelaskan bagaimana menjalankan homeschooling yang sukses untuk anak-anak. Penasaran, Ma? Yuk, simak rangkuman yang sudah Popmama.com siapkan berikut ini.

1. Memahami metode homeschooling

Unsplash/Jerry Wang

Bagi para Mama yang berniat memberikan pendidikan pada anak-anak melalui homeschooling, pertama yang perlu diketahui adalah metode dalam pembelajaran tersebut. Sebab menurut paparan Kusumastuti, metode homeschooling itu sangat luas, Ma.

Berikut metode homeschooling yang bisa Mama ketahui:

  • Klasik: awal mula sejarah homeschooling, yang mana sudah berada sejak bertahun-tahun lamanya dengan menekankan metode pemikir melalui disiplin, membaca, memahami melalui logika, analisa, dan diskusi.
  • Charlotte Mason: metode ini mengajarkan anak untuk bernalar dengan memahami gagasan atau ide yang dibungkus dengan fakta menjadi kisah yang mengilhami.
  • Maria Montessori: metode yang lebih mengajarkan kemandirian ini membantu anak untuk aktif mandiri dengan menentukan pilihan, mempunyai kepribadian, serta kemampuan sendiri.
  • Waldorf: selanjutnya metode yang mengajarkan anak untuk mencintai alam untuk berpikir bebas, kreatif, spiritualis, moralis. Jadi, lebih belajar ke alam tanpa adanya metode teknologi, Ma.
  • Tradisional: ini adalah metode yang dilakukan di rumah dengan orangtua sebagai pengajar dengan mengikuti kurikulum dan rutinitas sekolah yang disesuaikan dengan kondisi rumah.
  • Unschooling: ini merupakan metode pembelajaran yang bebas karena berbasis minat, anak tidak akan dipaksa untuk mempelajari hal-hal yang tidak mereka sukai.
  • Unit Studies: belajar per tema, di mana anak akan diajarkan membahas satu tema secara mendalam dari berbagai sisi ilmu sesuai level pendidikan anak.
  • Electic: metode ini cukup fleksibel, Ma. Sebab metode ini dipadukan dengan berbagai metode homeschooling dan juga dipadukan dengan skeolah formal. Namun tetap disesuaikan dengan kemampuan, gaya belajar, serta minat anak mama.
  • Roadschooling/Worldschooling: metode ini mengenalkan dunia sebagai tempat belajar dan aplikasinya langsung dalam kehidupan anak yang disesuaikan dengan kondisi tempat belajar.
  • Natural/Relax Learning: sesuai minat seperti electic, campuran berbagai metode, hanya minat anak sebagai fokus utamanya.

2. Tentukan yang mana yang cocok untuk orangtua dan anak

livestrong.com

Setelah memahami ragam metode homeschooling yang ada, selanjutnya Mama bisa menentukan metode mana yang cocok digunakan untuk anak dan orangtua.

Kusumastuti menjelaskan, sebelum menentukan metode mana yang cocok, kita perlu mempertimbangkan dari sisi orangtua terlebih dahulu melalui pertanyaan-pernyataan diiantaranya adalah dengan mengetahui sistem kurikulum yang ada di tempat tinggal Mama, mengetahui prioritas yang Mama dan Papa harapkan ke depannya, berapa jumlah anak dan anggaran yang mampu disediakan untuk pendidikan anak, berapa banyak waktu dan tenaga yang mampu diberikan, serta berapa lama Mama dan Papa bisa konsisten dalam mendidik anak.

Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, barulah Mama bisa melihat dari sisi anak mama itu sendiri. Umumnya kita perlu mengetahui seberapa jauh kemampuan anak terlebih dahulu, apa saja minat anak, karakter mereka bagaimana, kemampuan bersosialisasi dengan saudara dan teman lainnya juga perlu diketahui, serta mengetahui bagaimana gaya belajar anak misalnya melalui metode mendengar, melihat, menulis, atau menyentuh.

Dari pertanyaan antara sisi orangtua dan anak di atas, Mama bisa menarik kesimpulan metode homeschooling mana yang sekiranya cocok untuk diajarkan kepada anak.

3. Melatih anak dengan berbagai aktivitas angka di kehidupannya

Freepik/Karlyukav

Metode alternatif pendidikan anak melalui homeschooling umumnya dilakukan di dalam rumah, sehingga orangtua juga perlu melatih kemampuan anak dengan berbagai aktivitas yang sesuai dengan usianya.

Untuk usia balita 0-3 tahun, Mama bisa mengajarkan anak untuk mengenal angka dan kosa kata melalui menghitung bahan belanja makanan. Misal Mama membeli daun bawang, kenalkan pada anak bahwa itu yang dinamakan daun bawang, serta beritahu anak berapa ikat total daun bawang yang ada. 

Melalui aktivitas sederhana ini, Kusumastuti mengajak para Mama untuk membiarkan anak memegang daun bawang itu agar ia dapat mengamati dan memahami sambil belajar menghitung.

Selanjutnya usia 4-6 tahun yang mana anak mulai bisa memasuki pendidikan usia dini (PAUD), biasanya konsep benda dan angkanya mulai lebih membaik, Ma. Mama bisa melakukan kegiatan serupa dengan meneruskannya jumlah bilangan yang semakin tinggi. Misalnya, ada berapa pisang di satu sisir? Ada berapa total jeruk yang dibeli dalam satu kilogram? Serta lain sebagainya.

Semakin bertambahnya usia, di usia anak yang sudah menginjak 7-10 tahun atau memasuki usia pendidikan Sekolah Dasar (SD), Mama bisa memberikan anak alat ukur seperti penggaris, timbangan, dan gelas ukur untuk meminta mereka mengukur benda-benda sekitarnya. Mama juga bisa mengajak anak menjawab pertanyaan yang menjelaskan bedanya konsep berat dan jumlah, seperti apakah jumlah butir telur dalam satu kilogram selalu sama atau tidak?

Dengan mengajarkan aktivitas angka yang ada dalam kehidupan sehari-harinya, ini akan bermanfaat dalam mengenalkan angka dan belajar menghitung secara alami, serta membuat anak menjadi tidak takut berhitung karena sudah terbiasa sejak dini.

4. Meneruskan melatih melalui aktivitas makanan sehat

Freepik/jcomp

Setelah mengenalkan angka dan melatih mereka belajar menghitung secara alami, selanjutnya Mama bisa melatih pendidikan anak melalui aktivitas makanan sehat.

Misalnya untuk anak usia 0-3 tahun, ajak si Kecil untuk menanam kecambah seperti tauge. Biarkan anak mengamati pertumbuhan kecambah yang ia tanam, serta biarkan anak memetik atau memanen tauge yang ia tanam setelah sudah tumbuh.

Untuk usia anak PAUD 4-6 tahun, Mama bisa mengajak anak menanam makanan sehat yang lebih kompleks cara menanamnya. Misalnya menanam daun selada di lahan sekitaran rumah atau di dalam pot. Biarkan anak menanami benih dan menyiramnya sendiri, serta biarkan mereka mengamati bagaimana selada muda tumbuh dalam waktu seminggu, lalu ajak mereka memanen selada yang telah sebulan lamanya ditanam atau sudah siap untuk dikonsumsi.

Usia 7-10 tahun, tentunya Mama bisa melakukan aktivitas yang lebih kompleks lagi. Mama bisa mengajak anak menanam sayur mayur atau bumbu dapur lainnya seperti tomat, daun bawang, terong, jenis kacang-kacangan dan sebagainya. Ajak mereka memerhatikan perbedaan tumbuh kembang setiap jenis tanaman yang telah ia tanam.

Dari mengajarkan bercocok tanam makanan sehat ini, Mama dapat memberikan manfaat pada anak diantaranya anak akan belajar biologi secara alami, mereka akan mengerti proses tumbuh tanaman terutama tanaman yang bisa ia makan, ini jug membiasakan anak untuk mau memakan sayur dari ahsil yang ia tanam sendiri.

5. Perhatikan hal-hal berikut ini

Freepik

Meski cukup waktu dan tenaga dalam mendidik anak dari rumah atau homeschooling, namun menurut yang dipaparkan Kusumastuti, beberapa hal ini kerap kali menjadi hambatan bagi para orangtua dalam memberikan pendidikan dari rumah. 

Bagaimana jika Mama atau Papa mati ide dan tidak tahu mau memberikan pendidikan seperti apa pada buah hati? Kusumastuti menjelaskan bahwa saat ini kita hidup di era teknologi yang bisa dengan mudah memilih informasi secara luas melalui internet atau juga buku parenting yang banyak dipasarkan, namun tentunya dengan memerhatikan sumber yang kredibel ya, Ma. 

Hal lainnya yang menjadi pertimbangan orangtua adalah, bagaimana jika nggak percaya diri akan kemampuan mereka mengajarkan anak? Menurut Kusumastuti, ini adalah hal yang wajar, Ma.

Cara yang bisa dilakukan jika Mama atau Papa nggak percaya diri adalah dengan belajar dari kesalahan, mencari solusi disetiap masalah, kemudian memperbaiki diri terus menerus demi buah hati. Semakin banyak anak berhasil, semkain percaya diri juga orangtua.

Jika orangtua susah waktu karena kendala bekerja dan lain sebagainya? Ini juga wajar kok, Ma. Kusumastuti menyarankan kepada para orangtua yang tidak memungkinkan memberikan homeschooling penuh kepada anaknya, mereka bisa menggunakan metode electic di mana anak mama tetap bersekolah, tetapi di rumah tetap diberikan tambahan.

Perlu diingat bahwa tak ada yang namanya perfect parenting, orangtua dan anak akan terus belajar seiring kondisi yang ada. Pastikan Mama dan Papa mampu fleksibel dan terus belajar sesuai perkembangan buah hati tercinta ya.

Semoga informasinya bermanfaat bagi para orangtua yang tertarik memberikan pendidikan homeschooling pada anaknya. Tetap semangat dalam mendidik anak-anak mama ya!

Baca Juga:

The Latest