TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Belajar Merencanakan Dana Pendidikan Anak di Popmama Expo 2018

Yuk, buat perencanaan keuangan mulai sekarang Ma

Popmama.com

Semua orangtua tentu ingin memberikan segala yang terbaik untuk anaknya. Mulai dari makanan terbaik, stimulasi, hingga pendidikan terbaik.

Namun, untuk bisa memberikan pendidikan terbaik, Mama harus mulai mempersiapkannya sejak dini.

Mengerti akan pentingnya persiapan dana pendidikan, Rekian Ratri Amaraviti, Financial Planner dari Unity, hadir di Popmama Expo 2018 untuk berbagi ilmunya dengan Mama semua. Menurutnya, dana pendidikan anak untuk sekolah dari SD hingga kuliah nanti memang harus dipersiapkan sejak dini.

Namun, ada saja beberapa kesalahan yang sering dilakukan orangtua dalam mempersiapkan pendidikan anak.

Mau tahu apa saja kesalahan tersebut? Simak penjelasannya di bawah ini, Ma.

Tidak menghitung dana

Freepik/freephoto

Menurut Rekian atau yang akrab disapa Kian, orangtua perlu menghitung total dana yang dibutuhkan anak untuk sekolah hingga kuliah.

Menyisihkan penghasilan saja kurang optimal, jika Mama tidak menghitung berapa dana yang dibutuhkan hingga anak jadi sarjana.

Jadi misal anak Mama saat ini masih berusia 1 tahun, maka ia akan mulai masuk kuliah di usia 17 atau 18 tahun, dan lulus kuliah sekitar usia 21 atau 22. Itu artinya, dana yang harus Mama hitung ialah biaya sekolah hingga anak lulus kuliah, sekitar 22 tahun dari sekarang.

Waktu yang terlalu lama? Memang, namun ingat biaya pendidikan juga sangat besar lho, Ma.

Tidak merencanakan sejak dini

Freepik/freephoto

Ini juga salah satu kesalahan yang sering dilakukan orangtua, yaitu tidak mempersiapkan dana pendidikan sejak dini. Jadi tidak heran ketika anak sudah mulai remaja, orangtua akhirnya kebingungan mempersiapkan dana kuliah yang begitu besar, dengan waktu yang begitu singkat. Semoga ini tidak terjadi pada Mam, ya.

Tidak memperhitungkan inflasi

Freepik/ijeab

Setelah merencanakan sejak dini dan menghitung dana, beberapa orangtua masih kewalahan mencukupi dana pendidikan (khususnya kuliah). Sebabnya? Sederhana, karena saat menghitung dana, Mama lupa memperhitungkan inflasi pendidikan.

Menurut Kian, inflasi pendidikan sangat besar lho, Ma, yaitu sekitar 10-20 persen per tahun. Jadi kalau tahun 2018 ini dibutuhkan biaya sekitar 200 juta untuk kuliah S1 di universitas swasta, 18 tahun mendatang (2036) harganya menjadi 1.112 miliar!

Investasi terlalu sedikit

Freepik/rawpixel

Ada yang bilang, lebih baik investasi sedikit, daripada tidak sama sekali. Sayangnya, akan jauh lebih baik bagi Mama dan anak jika Mama berinvestasi sesuai perhitungan dan sejak dini. Menyisihkan penghasilan demi pendidikan anak? Rasanya tidak ada yang sia-sia dari sikap cermat ini, Ma.

Tidak memperhitungkan jangka waktu

Freepik/freephoto

Selain perlu dimulai sejak dini, Mama juga harus memperhitungkan jangka waktu menabung. Misalnya Mama mulai menabung dana pendidikan sejak anak berusia 1 tahun, maka jangan lupa menghitung waktu menabung untuk anak kuliah hingga selesai (setidaknya) S1.

Diprediksi sekitar 21-22 tahun lagi.

Tidak konsisten dalam menabung atau investasi

Freepik/rawpixel

Entah karena ada keperluan yang lebih mendesak atau karena kebutuhan lainnya, namun biasanya ‘lupa’ menabung 1 kali saja bisa merusak segalanya, Ma. Dalam mempersiapkan dana pendidikan anak, Mama harus konsisten menabung. Ingat, sekali gagal menabung, itu artinya anak Mama terancam gagal menyelesaikan pendidikan hingga mendapatkan gelar sarjana. Tidak mau itu terjadi kan, Ma?

Hanya mengandalkan dana pendidikan

Freepik/rawpixel

Ada banyak produk keuangan yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan dana pendidikan si Kecil. Agar lebih aman, Mama jangan mengandalkan dana pendidikan saja, tetapi manfaat juga produk-produk keuangan tersebut.

Beberapa pilihan yang bisa Mama coba misalnya tabungan pendidikan berjangka, asuransi pendidikan, investasi reksa dana, dan berbagai produk investasi lainnya.

Untuk menutup sesi talkshow bersama Unity ini, Kian mengutip kalimat inspiratif dari Malcolm X. “Education is the passport to the future, for tomorrow belongs to those who prepare for it today.” Setuju, Ma?

The Latest