TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Kenali Kehamilan Berisiko Tinggi Sejak Dini dan Cara Menghadapinya

Jangan salah ya, Ma!

www.sarcasmweb.com

Kehamilan berisiko tinggi tentu menjadi suatu pemikiran yang menakutkan bagi semua ibu hamil. Sayangnya, kehamilan berisiko tinggi masih banyak dialami oleh banyak ibu hamil di Indonesia.

Kehamilan dikatakan berisiko tinggi apabila terjadi potensi komplikasi yang bisa memengaruhi kondisi Mama, bayi, atau keduanya. Dibutuhkan penanganan yang tepat dari pakar kandungan untuk membantu memastikan kondisi Mama dan janin yang dikandung sehat sepanjang masa kehamilan.

Dr. dr. Ali Sungkar SpOG(K), Dokter Spesialis Kandungan dan Kebidanan, yang ditemui pada acara "Danone Indonesia Edukasi Peran Penting Nutrisi dan Lingkungan untuk Dukung Ibu Hadapi Kehamilan Risiko Tinggi" pada Selasa (17/09/2019), di HeArt Space, Jakarta Selatan, mengatakan bahwa kehamilan berisiko tinggi dapat membahayakan kesehatan ibu hamil apabila tidak segera ditangani dengan baik.

Mengalami kehamilan berisiko tinggi tak jarang membuat ibu hamil mengalami stres yang dua kali lipat dari biasanya.

Oleh karena itu, perlu adanya penanganan yang tepat untuk menghadapi kehamilan berisiko tinggi agar ibu hamil dapat menjalani kehamilan yang sehat.

Berikut Popmama.com telah merangkum 4 cara menghadapi kehamilan berisiko tinggi. Disimak ya, Ma.

1. Ketahui apa saja penyebab kehamilan berisiko tinggi

Parents.com

Pada kesempatan yang sama, Dr. Ali menjelaskan apa saja yang bisa menyebabkan kondisi kehamilan menjadi sangat berisiko.

Dalam paparan yang disampaikan Dr. Ali, berikut ini yang menjadi penyebab kehamilan berisiko tinggi:

  • Mama dengan penyakit penyerta (asthma, diabetes, kelainan jantung, dan sebagainya).
  • Hamil dengan penyakit penyulit (pre-eklamsia, eklamsia, enfeksi, dan sebaginya).
  • Usia ibu hamil juga mempengaruhi kehamilan berisiko tinggi.
  • Kekurangan zat gizi makro dan mikro.

Tidak hanya itu, Mama juga perlu mengetahui tanda bahaya pada kehamilan yang bisa menyebabkan kehamilan berisiko tinggi. 

Tanda bahaya diantaranya, keluar cairan berlebih atau perdarahan pada vagina, nyeri pada perut, nyeri pada ulu hati, muntah yang terus menerus, bengkak pada wajah dan tangan, nyeri kepala hebat dan menetap, demam melebihi suhu 38 derajat celcius yang disertai menggigil, dan jumlah urin yang berkurang. 

Jika Mama mengalami hal-hal yangs sudah disebutkan, ada kemungkinan Mama mengalami kehamilan berisiko tinggi. Sebaiknya konsultasikan pada dokter spesialis kandungan ya, Ma.

2. Memenuhi kecukupan nutrisi ibu hamil dengan baik

Popmama.com/Ninda Anisya

Untuk mengurangi dan menghadapi kehamilan berisiko tinggi, Mama bisa memulai pola hidup sehat yang dimulai sejak pra-kehamilan, masa kehamilan, sampai menyusui. Mulailah dengan menerapkan kebutuhan nutrisi yang bergizi dan seimbang untuk menghindari kehamilan berisiko tinggi.

"Mama perlu memastikan asupan makanan yang mengandung zat-zat gizi penting seperti protein, karbohidrat, lemak, kalsium, zat besi, vitamin A, vitamin D, vitamin B12, asam folat, dan iodine," ungkap Dr. Ali menyarankan.

Selain membantu mencegah risiko komplikasi pada proses kelahiran, asupan yang baik pada saat kehamilan juga bermanfaat bagi si Kecil secara jangka panjang.

Hal ini bisa menurunkan risiko dari berbagai penyakit kronis di masa dewasa kelak seperti hipertensi, diabetes, jantung, dan berbagai penyakit lainnya.

3. Diperlukan dukungan mental dari orang sekitar

Popmama.com/Ninda Anisya

Pada kesempatan yang sama, hadir pula Psikologi dari Tiga Generasi, Putu Andani, M.Psi, yang menjelaskan bahwa dukungan mental dari orang-orang sekitar selama masa kehamilan adalah cara ampuh untuk menghadapi kehamilan berisiko tinggi.

Jika dalam kehamilan normal, ibu hamil mengalami peningkatan stres daripada saat sedang tidak mengandung. Apalagi ketika ibu hamil mengatahui dirinya berisiko mengalami kehamilan berisiko tinggi. Tentu hal ini membuat tingkat stres seorang ibu hamil menjadi berlipat ganda.

"Untuk mencegah stres yang berlebih, dibutuhkan cara penanggulangan stres yang tepat melalui dukungan support system yang dapat membantu Mama mengelola tekanan secara sehat," ungkap Putu menjelaskan.

Dukungan mental itu bisa dimulai dari diri sendiri, suami, serta keluarga dan kerabat dekat. Dukungan dari suami dan orang-orang terdekat lainnya bisa dimulai dengan menunjukkan perhatiannya dengan menomorsatukan asupan nutrisi gizi seimbang bagi Mama yang tengah mengandung.

4. Jangan takut mendisuksikan pada dokter

Freepik/pressfoto

Tidak hanya asupannutrisi dan dukungan dari lingkungan, kamu perlu mendisuksikan hal ini pada dokter spesialis kandungan. Dimulai sejak pra-kehamilan ya, Ma. Hal ini berguna agar Mama mengetahui apakah saat hamil nanti akan timbul risiko komplikasi atau tidak.

Jika Mama mengalami kehamilan berisiko tinggi, jangan takut dan malu untuk mendisuksikan ini pada dokter. Mama bisa mengikutsertakan Papa untuk selalu memberikan dukungan. Sebab, saat kehamilan, bukan hanya Mama saja yang menjalani, tetapi Papa juga harus merasakan secara mental.

Nah, waktu berkonsultasi inilah yang bisa Mama dan Papa jadikan masukan untuk menjalani kehamilan yang sehat. Mama bisa memulainya sejak pra-kehamilan sampai saat menyusui nanti. Hal ini berguna untuk kesehatan Mama dan juga calon bayi yang akan Mama lahirkan.

Itulah hal-hal yang perlu Mama perhatikan untuk menghadapi kehamilan berisiko tinggi.

Jagalah kualitas kesehatan dan gizi Mama sebelum dan selama kehamilan ya, karena hal tersebut akan mempengaruhi kesehatan janin dan menentukan tumbuh kembang si Kecil di masa depan.

Selamat menjalani kehamilan dengan sehat. Semoga bermanfaat ya, Ma.

The Latest