TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Emosi Sering Meledak saat Hamil, Bahayakah bagi Janin?

Janin dapat merasakan emosi dari Mamanya, bahkan berdampak pada temperamennya kelak

Freepik/wavebreakmedia_micr

Tidak dapat dipungkiri, masa kehamilan adalah momen paling membahagiakan untuk setiap perempuan.

Namun, di masa ini ibu hamil juga rentan terhadap perubahan emosi. Perasaan stres, marah, sedih, dan kelelahan kerapkali menyelimuti para ibu hamil.

Memang, sangat normal untuk untuk merasa marah dan frustrasi pada waktu-waktu tertentu selama kehamilan. Tapi, Mama perlu waspada, kemarahan yang terus-menerus mungkin memiliki dampak tertentu.

Karena ikatan Mama dan bayi di dalam perut menyebabkan bayi dapat merasakan semua yang dialami mamanya, termasuk perasaan marah.

Selain itu, kemarahan yang terus menerus terjadi dalam jangka panjang dapat menyebabkan depresi serta kondisi medis seperti tekanan darah tinggi, maag, asma, sakit kepala, dan masalah pencernaan.

Tentunya ini sangat membahayakan janin bahkan resiko keguguran sangat mungkin terjadi.

Untuk itu, Popmama.com akan merangkum faktor penyebab perasaan marah yang tidak terkendali saat hamil, dampak, serta penanganannya. Berikut penjelasannya!

Faktor Penyebab Emosi Sering Meluap saat Hamil

Freepik/freepik

Beberapa faktor penyebab perasaan marah saat hamil sering muncul karena ada perubahan hormon dan kecemasan, berikut penjelasan lengkapnya :

1. Faktor perubahan hormon

Seringnya muncul perasaan emosi selama kehamilan dapat dikaitkan dengan naik-turunnya hormon kehamilan.

Selama waktu tersebut, seringkali memicu perubahan suasana hati yang tidak menentu. Mama jadi lebih sensitif terhadap banyak hal.

Biasanya, pemicu kemarahan dapat diketahui dari kejadian menjengkelkan yang mungkin telah terjadi sebelumnya. Penting bagi Mama untuk tetap positif dan tenang serta tidak membiarkan emosi tersebut menguasai pikiran.

2. Faktor stres

Sangat umum jika ibu hamil mengalami stres selama kehamilan. Beberapa alasan mungkin karena ketidaknyamanan fisik, istirahat yang tidak teratur, pasangan yang kurang mensupport, pekerjaan yang berlebihan, dan kekhawatiran finansial.

Stres terus-menerus dapat mempengaruhi kemampuan mengelola kemarahan seseorang dan dapat menyebabkan ledakan kemarahan lebih besar sehingga sangat bisa terjadi komplikasi kesehatan.

Untuk itu, penting mengelola stres agar tidak memperparah kondisi mental Mama dan keadaan janin. Sederhana, namun bisa membantu yakni dengan mengatur napas jika perasaan marah mulai timbul karena perasaan stres tersebut.

3. Faktor ketakutan

Penyebab lain munculnya perasaan marah selama kehamilan disebabkan karena ketakutan akan hal yang tidak diketahui atau belum terjadi.

Mama mungkin memiliki kekhawatiran tentang apakah persalinan nanti berjalan lancar, bagaimana dengan kondisi kesehatan si kecil, atau apakah ada kemungkinan ada penyakit pada bayi mama.

Ketakutan ini bisa sangat luar biasa dan kemarahan jadi reaksi yang mungkin terjadi setelahnya. Namun, Ma, perlu diingat bahwa kemarahan ini yang justru memperparah rasa ketakutan itu.

Jadi, Mama harus berpikir sesuatu yang baik-baik saja selama masa kehamilan ini, ya.

4. Faktor ketidaknyamanan

Sejumlah ketidaknyamanan tidak dapat dihindari selama kehamilan karena transisi fisik yang terjadi selama fase ini.

Perempuan hamil biasanya mengalami mual dan energinya gampang terkuras. Ketidaknyamanan tersebut dapat menyebabkan Mama lekas marah.

Jika rasa ketidaknyamanan tidak ditangani dengan tepat maka menimbulkan munculnya emosi yang terjadi secara tiba-tiba dan bisa berbahaya pada kondisi fisik lainnya.

Dampak Kemarahan pada Janin

Pexels/Kat Jayne

Apakah luapan emosi yang sering dialami selama masa kehamilan bisa berefek pada janin?

Jawabannya, bisa.

Ibu hamil yang sering mengalam lonjakan emosi mengakibatkan perubahan biologis dan fisiologis tertentu di tubuhnya seperti peningkatan tekanan darah dan detak jantung, kadar hormon seperti epinefrin dan adrenalin meningkat yang mengakibatkan penyempitan pembuluh darah.

Kemarahan yang berkepanjangan atau ekstrem selama kehamilan akan menyebabkan komplikasi tertentu, bahkan selama persalinan nanti.

Dilansir dari laman Firstcry Parenting, luapan emosi yang terus-menerus terjadi selama kehamilan dapat berefek pada bayi seperti:

1. Meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah

Pexels/Vidal Balielo Jr.

IUGR (Intra Uterine Growth Restriction) adalah kondisi ketika pertumbuhan janin di dalam kandungan terhambat.

Salah satu faktor terjadi gangguan tersebut yakni karena emosi selama kehamilan yang tidak terkontrol.

Beberapa penelitian mengatakan bahwa stres saat hamil meningkatkan risiko bayi terlahir dengan berat badan rendah yaitu kurang dari 2,5 kg.

2. Risiko tinggi terjadi kelahiran prematur

Freepik/kwangmoop

Stres berat akibat emosi yang sering meledak juga dapat mengakibatkan risiko tinggi bayi lahir prematur.

Terbukti dengan beberapa penelitian yang menjelaskan bahwa persalinan prematur lebih banyak terjadi pada perempuan yang di masa kehamilannya sering mengalami mood swing dan stres berat.

Sedangkan, persentase jumlah persalinan prematur lebih sedikit pada ibu hamil dengan emosi yang stabil.

3. Bayi lebih rentan mengalami depresi dan temperamen yang tinggi

Freepik/cookie_studio

Temperamen tinggi pada anak umumnya terbentuk dari sikap orangtua yang membekas pada ingatan si Kecil.

Namun, hal ini juga terjadi sebelum bayi lahir sebab adanya ikatan kuat bayi dan Mama menyebabkan bayi bisa merasakan perasaan seperti sedih atau marah dan hal ini ikut terbawa olehnya.

Selain itu adanya kemungkinan lebih tinggi anak menjadi hiperaktif dan depresi.

4. Risiko timbulnya berbagai penyakit

Pexels.com/Polina Tankilevitch

Tak hanya berefek pada kondisi mental dan emosi si Kecil, bayi akan mengalami gangguan kesehatan ketika besar nanti dan itu disebabkan oleh emosi si Mama di masa kehamilan.

Munculnya risiko seperti penyakit jantung, obesitas, diabetes atau tekanan darah tinggi sangat mungkin terjadi.

5. Menghambat pertumbuhan janin

Freepik/wavebreakmedia_micr

Ketika Mama sedang marah atau saat stres, tubuh akan memproduksi hormon bernama kortisol.

Jika hormon stres ini meningkat, maka terjadi penyempitan di pembuluh darah sehingga dapat menghambat sumplai oksigen dan darah ke janin dan terbukti berbahaya bagi pertumbuhan bayi.

Cara Mengatasi Emosi selama Masa Kehamilan

Pexels/Andrea Piacquadio

Tidak ada yang mengenal Mama lebih baik daripada diri sendiri. Sehingga Mama dapat mengambil langkah tepat untuk bersantai dan lebih mengelola emosi.

Berikut adalah beberapa cara yang bisa Mama lakukan untuk dapat mengelola emosi selama kehamilan:

  1. Diet sehat dengan mengurangi makanan yang tinggi gula atau mengurangi junkfood. Perbanyak makan sayuran dan buah serta makan makanan dengan nutrisi seimbang.
  2. Olahraga ringan namun dilakukan secara rutin dapat mengatasi perubahan suasana hati karena adanya pelepasan edorfin yang membuat Mama tetap bahagia. Mama bisa melakukan olahraga seperti yoga atau jalan kaki.
  3. Meditasi dengan melakukan afirmasi postif dapat membuat emosi Mama mereda. Perasaan cemas dan takut pun akan menghilang. Cukup dengan 10 menit per hari melakukan pengaturan dan menghitung ritme pernapasan, Mama bisa sejenak menemukan kedamaian dari kegiatan ini.
  4. Selain itu Mama bisa melakukan hobi yang positif misalnya mencoba resep baru, bercocok tanam atau kegiatan lain yang bisa mengontrol kesabaran seperti menyulam dan merajut. Hobi ini dapat menghilangkan pikiran negatif yang ada di kepala mama.
  5. Terpenting adalah konsultasikan hal ini dengan psikolog jika kondisi semakin parah sehingga tahu tindakan apa yang harus dilakukan.

Sangat lumrah jika Mama mengalami emosi yang tidak pernah terjadi sebelum masa kehamilan. Namun, jangan sampai emosi ini malah menguasai dan membuat Mama melupakan momen bahagia saat hamil.

Nah itu tadi 5 cara menangani agar emosi mama selama masa kehamilan bisa dikontrol. Semoga bermanfaat dan selamat mencoba, ya, Ma!

Baca juga:

The Latest