TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Gatal Luar Biasa, Ibu Hamil Mungkin Alami Kolestasis pada Kehamilan

Terus-menerus merasa gatal saat hamil tua, kamu sebaiknya periksa ke dokter dulu Ma

Pexels/Martina Corradetti

Ibu hamil mungkin suka mengalami gatal-gatal di pertengahan kehamilan. Namun, ada sebagian ibu hamil yang akan semakin sering merasa gatal-gatal setelah kehamilan trimester ketiga.

Jika rasa gatal yang dialami sudah berlebihan, bisa jadi kamu mengalami kolestasis.

Kolestasis intrahepatik kehamilan, umumnya dikenal sebagai kolestasis kehamilan. Dijelaskan pada laman Mayo Clinic, kolestasis kehamilan adalah kondisi hati yang terjadi pada kehamilan lanjut. Kondisi ini memicu rasa gatal yang hebat, tetapi tanpa ruam.

Gatal biasanya terjadi pada tangan dan kaki tetapi juga dapat mempengaruhi bagian lain dari tubuh. Kolestasis kehamilan dapat membuat ibu hamil merasa sangat tidak nyaman.

Tapi, yang lebih mengkhawatirkan adalah komplikasi potensial untuk Mama dan janin. Karena risiko komplikasi, dokter kandungan mama dapat merekomendasikan pemeriksaan dini.

Simak yuk penjelasan lebih lanjut mengenai kolestasis kehamilan dari Popmama.comberikut ini.

Gejala Kolestasis Kehamilan

Pexels/freestock.org

Gatal intens adalah gejala utama dari kolestasis kehamilan. Tidak ada ruam di permukaan kulit. Kebanyakan ibu hamil merasa gatal di telapak tangan mereka atau telapak kaki mereka, tetapi beberapa perempuan merasa gatal di mana-mana.

Rasa gatal ini sering jadi memburuk di malam hari dan mungkin sangat mengganggu sehingga ibu hamil tidak bisa tidur.

Rasa gatal paling umum terjadi selama kehamilan trimester ketiga tetapi kadang-kadang dimulai lebih awal. Ini mungkin terasa lebih buruk karena ini semakin dekat dengan waktu kelahiran.

Setelah bayi mama lahir, bagaimanapun, rasa gatal biasanya hilang dalam beberapa hari.

Mungkin ini jarang terjadi tapi bisa jadi pertanda kalau kamu mengalami kolestasis kehamilan melalui gejala atau tanda-tanda kolestasis kehamilan berikut ini:

  • Kulit dan bagian putih mata menjadi kuning,
  • mual,
  • kehilangan selera makan,
  • gatal.

Penyebab Kolestasis Kehamilan

Unsplash/Andrew Seaman

Penyebab kolestasis kehamilan tidak jelas. Gen mama mungkin memiliki peran sebagai penyebab utama. Terkadang, kondisi ini terjadi dalam keluarga. Variasi genetik tertentu juga telah diidentifikasi.

Hormon-hormon kehamilan juga mungkin terlibat. Hormon kehamilan meningkat semakin dekat dengan Hari Prediksi Lahir (HPL). Dokter berpikir ini dapat memperlambat aliran normal cairan empedu, enzim pencernaan yang dibuat di hati yang membantu sistem pencernaan memecah lemak.

Alih-alih meninggalkan hati, cairan empedu malah menumpuk di organ lain. Akibatnya, cairan empedu akhirnya masuk ke aliran darah, yang bisa membuat Mama merasa gatal-gatal.

Faktor Risiko Kolestasis Kehamilan

Pixabay/boristrost

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko kolestasis kehamilan meliputi:

  • Riwayat pribadi pernah mengalami kolestasis kehamilan,
  • didapatkan dari garis keturunan secara genetik,
  • riwayat kerusakan hati atau penyakit,
  • sedang mengandung bayi kembar atau lebih.

Jika Mama memiliki riwayat kolestasis pada kehamilan sebelumnya, risiko mama pada kehamilan selanjutnya semakin tinggi.

Sekitar 60 hingga 75 persen perempuan mengalami kesulitan karena kolestasi pada kehamilan kambuh di kehamilan selanjutnya.

Kapan Harus ke Dokter?

Pexels/Rawpixel.com

Hubungi dokter kandungan mama untuk segera mendapatkan perawatan jika merasa gatal persisten atau ekstrim.

Pada sebagian orang merasa tidak puas kalau belum menggaruk tubuhnya. Jangan biarkan luka di permukaan kulit terjadi akibat garukan. Rasa ingin menggaruk biasanya datang karena gatal terus terjadi.

Selain itu Mama mulai merasa kesal karena rasa gatal terjadi terus-menerus dan berpindah-pindah. Ini bisa memicu stres saat kehamilan.

Bila mengalami hal tersebut, Mama sebaiknya segera berkonsultasi ke dokter.

Komplikasi dari Kolestasis Kehamilan Dapat Terjadi pada Ibu Hamil atau Bayi yang Sedang Berkembang

Unsplash/Camylla Battani

Pada ibu hamil, kondisi ini dapat memengaruhi cara tubuh menyerap lemak.

Penyerapan lemak yang buruk dapat mengakibatkan penurunan kadar faktor yang tergantung pada vitamin K yang terlibat dengan pembekuan darah. Tetapi komplikasi ini jarang terjadi, dan masalah hati di masa depan jarang terjadi.

Pada bayi, komplikasi kolestasis pada kehamilan bisa menjadi berat. Mereka mungkin mengalami hal berikut:

  • Bayi lahir prematur
  • Masalah paru-paru akibat bernapas dalam mekonium ditandai dengan substansi hijau lengket yang biasanya terkumpul di usus bayi yang sedang berkembang tetapi yang dapat masuk ke dalam cairan ketuban jika seorang ibu memiliki kolestasis,]
  • Kematian bayi menjelang kehamilan sebelum persalinan (lahir mati).

Karena komplikasi dapat sangat berbahaya bagi bayi di dalam kandungan mama, dokter mungkin mempertimbangkan untuk mempercepat persalinan untuk dilakukan sebelum tanggal prediksi kelahiran semestinya.

Sementara ini tidak ada cara yang diketahui untuk mencegah kolestasis kehamilan. Mungkin menjaga asupan makanan atau lebih selektif dalam memilih makanan bila Mama memiliki riwayat alergi.

Jika Mama mendapatkannya karena gen keturunan keluarga, sayangnya belum ada cara pasti untuk mencegahnya.

Itulah penjelasan mengenai kolestasis pada ibu hamil, semoga sehat selalu ya Ma.

Baca juga:

The Latest