“Karena tingkat kelangsungan hidup anak semakin tinggi, masyarakat merasa dua anak sudah cukup dan tidak lagi merasa perlu memiliki banyak anak seperti generasi sebelumnya," ujar Sonny dalam podcast Naratama.
BPS Ungkap Angka Kelahiran Indonesia Turun Drastis dalam 50 Tahun Terakhir

- BPS mencatat Total Fertility Rate Indonesia turun dari sekitar 5,6 anak per perempuan pada awal 1970-an menjadi 2,13 anak pada SUPAS 2025.
- Penurunan kelahiran dikaitkan dengan program KB, layanan kesehatan yang membaik, meningkatnya kelangsungan hidup anak, serta perubahan pilihan pasangan untuk memiliki lebih sedikit anak atau childfree.
- Meski kelahiran menurun, penduduk mencapai 290.125.073 jiwa per Juni 2026 karena population momentum; tren ini memengaruhi bonus demografi, struktur keluarga, penuaan populasi, dan tenaga kerja.
Bagi beberapa pasangan, memiliki anak bukan lagi prioritas utama. Mereka mungkin merasa jika memiliki anak bukan lagi keputusan yang diambil segera setelah menikah.
Bahkan, tidak sedikit yang memutuskan untuk memiliki anak lebih sedikit dibandingkan generasi sebelumnya, atau bahkan tak ingin memiliki anak untuk beberapa waktu ataupun selamanya (childfree).
Fenomena ini pun menjadi salah satu gambaran perubahan pola berkeluarga yang ikut berkontribusi terhadap menurunnya angka kelahiran di Indonesia. Seperti saat ini, Indonesia diketahui sedang mengalami penurunan angka kelahiran yang signifikan.
Berikut Popmama.com rangkum informasi mengenai angka kelahiran Indonesia turun drastis.
Tren Angka Kelahiran Indonesia Menurun Drastis

Penurunan angka kelahiran yang signifikan kini memang tengah terjadi di Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa Total Fertility Rate (TFR), atau rata-rata jumlah anak yang dilahirkan setiap perempuan di Indonesia selama masa reproduksinya, mengalami penurunan yang cukup tajam dalam lebih dari lima dekade terakhir.
Wakil Kepala BPS, Sonny Harry Budiutomo, mengatakan bahwa hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, menunjukkan bahwa TFR Indonesia kini mencapai 2,13 anak per perempuan usia reproduksi 15 hingga 49 tahun.
Angka TFR tersebut mengalami penurunan jika dibandingkan dengan awal tahun 1970-an, pada saat melakukan sensus penduduk. Saat itu, TFR-nya mencapai 5,61, rata-rata perempuan memiliki anak 5-6 anak. Penurunan angka kelahiran ini pun erat kaitannya dengan program Keluarga Berencana (KB) yang dicanangkan pemerintah sejak tahun 1970-an. Dari sini terlihat bahwa angka kelahiran di Indonesia mengalami penurunan dalam 50 tahun terakhir.
Selain itu, kualitas layanan kesehatan yang semakin meningkat juga menjadi salah satu faktornya. Di masa lalu, layanan kesehatan yang belum memadai menyebabkan tingginya kasus kematian pada bayi, sehingga masyarakat menjadi enggan untuk memiliki banyak anak. Penurunan TFR menunjukkan perubahan besar dalam pola keluarga masyarakat Indonesia.
Jumlah Penduduk Indonesia Tetap Bertambah

Meski angka kelahiran menurun, jumlah penduduk Indonesia diketahui tetap bertambah. Sonny mengatakan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena population momentum, yakni besarnya kelompok penduduk yang memasuki usia reproduksi secara bersamaan.
Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) mengatakan, kini jumlah penduduk Indonesia mencapai 290.125.073 jiwa berdasarkan Data Kependudukan Semester I Tahun 2026 (data per 30 Juni 2026). Jumlah ini mengalami kenaikan sebanyak 1.809.984 jiwa dibandingkan Semester II Tahun 2025 yang tercatat sebanyak 288.315.089 jiwa.
Dampak Menurunnya Angka Kelahiran

Penurunan angka kelahiran tentunya membawa berbagai dampak bagi Indonesia, baik yang memberikan manfaat maupun yang berpotensi menjadi tantangan di masa depan, seperti:
- Bonus demografi. Menurunnya angka kelahiran dapat meningkatkan proporsi penduduk usia produktif. Kondisi ini bisa memiliki peluang untuk menciptakan potensi pertumbuhan ekonomi.
- Perubahan struktur keluarga. Tren penurunan angka kelahiran membuat ukuran keluarga cenderung lebih kecil dan lebih berfokus pada kualitas anak dibandingkan jumlah anak.
- Penuaan populasi (aging population). Merupakan kondisi penduduk lanjut usia semakin meningkat secara signifikan. Kondisi ini dapat menjadi tantangan bagi penyediaan layanan kesehatan maupun sistem jaminan sosial di masa mendatang.
- Potensi kekurangan tenaga kerja. Dalam jangka panjang, angka kelahiran yang terus menurun berpotensi mengurangi jumlah angkatan kerja, sehingga dapat memengaruhi ketersediaan tenaga kerja di masa depan.
Itu tadi penjelasan mengenai tren angka kelahiran Indonesia turun drastis. Semoga informasi ini bermanfaat.




















