Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Cara Membedakan Tangisan Bayi Sakit dan Normal, Jangan Disepelekan!

5 Cara Membedakan Tangisan Bayi Sakit dan Normal, Jangan Disepelekan!
Pexels/Antoni Shkraba Studio)
Intinya Sih
  • Tangisan bayi normal memiliki pola teratur dan mudah reda, sedangkan tangisan karena sakit terdengar melengking atau lemah serta berlangsung terus-menerus.
  • Bahasa tubuh bayi dapat menunjukkan penyebab tangisannya, seperti kaki menekuk ke perut atau tubuh kaku saat mengalami nyeri.
  • Tangisan akibat sakit sering disertai gejala fisik seperti demam, muntah, diare, atau bayi tampak sangat lemas sehingga perlu segera diperiksa dokter.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Tangisan bayi sering kali mengundang rasa penasaran bagi orangtua. Meski menangis menjadi salah satu cara si Kecil untuk berkomunikasi, ada kalanya orangtua merasa bingung dengan apa yang menjadi penyebab bayi menangis. 

Tubuh bayi sebenarnya sangat jujur. Saat mereka sakit, nada, ritme, hingga intensitas tangisan yang dikeluarkan akan terdengar sangat berbeda dibanding saat mereka sedang ‘protes’ karena rasa tidak nyaman.

Di artikel ini, Popmama.com akan membedah cara membedakan tangisan bayi sakit dan normal. Yuk, simak sekilas panduannya agar Mama bisa lebih tenang dan cekatan saat merespons si Kecil!

Table of Content

1. Perhatikan nada dan pola suara tangisannya

1. Perhatikan nada dan pola suara tangisannya

Perhatikan nada dan pola suara tangisannya
Pexels/Ayşegül Akdaş

Salah satu cara paling mudah untuk membedakan tangisan bayi adalah dengan mendengarkan nada serta ritme suaranya.

Tangisan yang normal umumnya memiliki pola yang teratur, dimulai dari rengekan pelan, kemudian semakin keras, lalu perlahan mereda setelah kebutuhannya terpenuhi. Misalnya setelah menyusu atau popoknya diganti.

Sebaliknya, tangisan karena sakit biasanya terdengar berbeda. Suaranya dapat bernada sangat tinggi dan melengking tajam (high-pitched), atau justru terdengar lemah dengan rintihan yang berlangsung terus-menerus. 

Jenis tangisan ini sering kali memberikan kesan bahwa bayi sedang mengalami rasa tidak nyaman atau nyeri yang cukup berat.

2. Cek durasi dan intensitas tangisnya

Cek durasi dan intensitas tangisnya
Pexels/Sarah Chai

Selain suara, lama dan intensitas tangisan juga perlu menjadi perhatian. Tangisan yang normal biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit. 

Setelah Mama menggendong, mengayun, atau memenuhi kebutuhan dasarnya, tangisan tersebut umumnya akan berangsur reda. Berbeda dengan tangisan akibat sakit yang cenderung berlangsung lebih lama dan sulit dihentikan. 

Walaupun Mama sudah memberikan ASI, mengganti popok, atau memeluk si Kecil dalam waktu yang cukup lama, tangisannya bisa aja tetap berlanjut tanpa menunjukkan tanda-tanda akan mereda jika mereka merasa kesakitan.

3. Amati bahasa tubuh bayi

Amati bahasa tubuh bayi
Pexels/sarahchai

Bahasa tubuh bayi juga dapat memberikan petunjuk mengenai penyebab tangisannya. Saat menangis karena kebutuhan sehari-hari, bayi biasanya menunjukkan gerakan yang sesuai dengan kebutuhannya. 

Misalnya, ia menoleh ke arah payudara ketika lapar atau menggeliat karena merasa tidak nyaman akibat popok yang basah. Namun, apabila tangisan disebabkan oleh rasa sakit, bahasa tubuh bayi biasanya tampak lebih ekstrem. 

Contohnya, kaki yang berulang kali ditekuk ke arah perut sebagai tanda kolik atau nyeri perut, tangan yang mengepal sangat kuat, hingga tubuh yang mendadak kaku atau melengkung ke belakang.

4. Kenali respons bayi saat disentuh atau dihibur

Kenali respons bayi saat disentuh atau dihibur
Freepik/pch.vector

Bayi yang menangis karena alasan normal umumnya masih bisa ditenangkan. Saat diajak berbicara, digendong, diayun, atau diberi mainan sesuai usianya, mereka biasanya akan mulai merasa nyaman atau setidaknya tangisannya berkurang.

Sebaliknya, bayi yang sedang kesakitan sering kali sulit ditenangkan. Bahkan, pada beberapa kondisi, sentuhan atau gendongan justru membuat tangisannya semakin keras. Hal ini bisa terjadi karena bagian tubuh yang terasa sakit tidak sengaja tertekan saat digendong atau disentuh.

5. Selalu perhatikan gejala fisik penyerta sebagai tanda bahaya

Selalu perhatikan gejala fisik penyerta sebagai tanda bahaya
Pexels/Sarah Chai

Tangisan normal biasanya hanya membuat wajah bayi tampak memerah sesaat. Setelah tenang, suhu tubuhnya tetap normal, ia masih aktif, dan dapat kembali menyusu maupun tidur dengan nyaman.

Sementara itu, tangisan yang disebabkan oleh penyakit sering kali disertai gejala fisik lain yang perlu diwaspadai. Misalnya demam tinggi, muntah, diare, sesak napas, atau bayi justru terlihat sangat lemas dan mengantuk secara tidak wajar (lethargic). Apabila muncul tanda-tanda tersebut, sebaiknya Mama segera berkonsultasi dengan dokter.

Itu dia cara membedakan tangisan bayi sakit dan normal. Semoga bisa menjadi ilmu baru bagi orangtua.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Wahyuni Sahara
EditorWahyuni Sahara

Related Articles

See More