Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

ASI Seret, Pilih ASI Donor atau Susu Formula? Ini Penjelasan Dokter

ASI Seret, Pilih ASI Donor atau Susu Formula? Ini Penjelasan Dokter
Freepik/freepik
Intinya Sih

  • dr. Aisya menekankan pentingnya mencari tahu penyebab ASI seret sebelum memutuskan menggunakan ASI donor atau susu formula, karena sering kali masalahnya ada pada pelekatan atau frekuensi menyusui.
  • Konsultasi dengan dokter anak atau konselor laktasi disarankan agar penyebab ASI kurang dapat diatasi, sehingga banyak ibu akhirnya berhasil memberikan ASI eksklusif setelah mendapat pendampingan tepat.
  • WHO dan AAP merekomendasikan urutan pemberian nutrisi: pertama ASI ibu sendiri, kedua ASI donor dari bank resmi yang aman, dan ketiga susu formula bila dua opsi sebelumnya tidak memungkinkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Menjadi seorang Mama merupakan pengalaman berharga bagi setiap perempuan. Khususnya, bagi mereka yang telah lama mendambakan calon buah hati bersama pasangan tercinta.

Namun, perjuangan sebagai seorang Mama tidak berhenti saat melahirkan saja. Setelah bayi terlahir ke dunia, Mama perlu memberikan asupan terbaik kepada si Kecil, yaitu ASI. 

Sayangnya, karena berbagai faktor tak terduga, tidak semua Mama bisa memberikan ASI secara lancar. Beberapa dari mereka ada yang mengalami fase ASI seret, sehingga terbesit pertanyaan lebih baik berikan ASI donor atau susu formula?

Untuk menjawab rasa penasaran Mama, berikut Popmama.com siap membahas informasinya berdasarkan penjelasan dari dokter. 

1. Ketika ASI seret, ketahui dulu penyebab dan cara mengatasinya

ASI seret
Freepik/freepik

Ketika produksi ASI berkurang atau alirannya terasa lambat dan sedikit, ada baiknya Mama tidak langsung menyimpulkan bahwa kondisi tersebut akan berlangsung secara jangka panjang dan memikirkan untuk mencari donor ASI. 

Ada baiknya, Mama mencari tahu terlebih dahulu penyebab dan cara mengatasinya. Perhatikan pula apakah pelekatan bayi sudah sesuai atau belum. Itu sebabnya, penting untuk belajar mengenai proses menyusui sebelum melahirkan si Kecil. 

“Yang paling penting adalah jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ASI ibu kurang, lalu langsung mencari ASI donor atau susu formula. Langkah pertama justru mencari tahu penyebabnya,” ujar dr. Aisya Fikritama, Sp.A, dokter spesialis anak yang praktik di RS UNS, Sukoharjo, Solo, saat dihubungi Popmama.com, pada Senin (13/7/2026).

“Pada praktik sehari-hari, banyak ibu merasa ASI-nya seret, padahal masalah utamanya bukan produksi ASI, melainkan pelekatan bayi yang kurang tepat, frekuensi menyusu yang kurang sering, ibu kelelahan, stres, atau kurang mendapat pendampingan laktasi,” tambahnya. 

2. Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau konselor laktasi

Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau konselor laktasi
Pexels/Thirdman

Apabila Mama merasa produksi ASI belum mencukupi kebutuhan bayi, berkonsultasi dengan tenaga kesehatan menjadi langkah yang sangat dianjurkan. 

Mereka dapat membantu mengevaluasi penyebab utama, sehingga penanganan yang diberikan sesuai dengan kondisi masing-masing Mama. Pendampingan yang tepat sering kali mampu membantu Mama mengatasi hambatan dalam menyusui. 

Tidak sedikit Mama yang awalnya merasa ASI kurang, tetapi akhirnya berhasil memberikan ASI eksklusif setelah masalah yang mendasarinya berhasil diatasi.

“Karena itu, saya selalu menganjurkan ibu untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter anak atau konselor laktasi agar penyebabnya bisa diatasi. Tidak sedikit ibu yang akhirnya berhasil memberikan ASI eksklusif setelah masalah tersebut diperbaiki,” ungkap dr. Aisya.

3. Urutan rekomendasi pemberian nutrisi ketika ASI belum mencukupi menurut WHO dan AAP

Urutan rekomendasi pemberian nutrisi ketika ASI belum mencukupi menurut WHO dan AAP
Pexels/HÂN NGUYỄN

Bila setelah dilakukan evaluasi ternyata produksi ASI Mama memang belum mampu memenuhi kebutuhan bayi, terdapat urutan pilihan yang direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO) dan American Academy of Pediatrics (AAP), antara lain:

Pilihan pertama tetap ASI yang berasal dari mama. Apabila hal tersebut belum memungkinkan, pilihan berikutnya adalah ASI donor yang berasal dari bank ASI resmi, dengan donor yang telah menjalani pemeriksaan kesehatan serta proses pasteurisasi.

Sementara itu, susu formula menjadi pilihan apabila ASI donor yang aman tidak tersedia atau memang tidak memungkinkan untuk diberikan. 

“Yang pertama, ASI dari ibu sendiri tetap menjadi pilihan terbaik. Kedua, ASI donor yang berasal dari bank ASI resmi dan telah melalui skrining kesehatan donor serta proses pasteurisasi. Ketiga, susu formula, bila ASI donor yang aman tidak tersedia atau memang tidak memungkinkan,” kata dr. Aisya.

“Jadi, ASI donor bukan pilihan pertama, melainkan salah satu alternatif bila upaya mengoptimalkan ASI ibu sendiri belum berhasil,” tambahnya. 

4. Prioritaskan ASI dari diri mama terlebih dahulu

Prioritaskan ASI dari mama
Pexels/RDNE Stock project

Menurut dr. Aisya, fokus utama ketika menghadapi produksi ASI yang dirasa kurang seharusnya bukan langsung mencari ASI donor. 

Sebaliknya, upaya yang perlu diprioritaskan adalah membantu Mama agar dapat menyusui bayinya sendiri melalui evaluasi serta pendampingan yang tepat. ASI dari diri mama tetap menjadi nutrisi yang paling sesuai bagi bayinya.

ASI donor dapat menjadi pilihan yang baik apabila memang dibutuhkan, dengan syarat diperoleh melalui prosedur yang aman, sehingga kualitas dan keamanannya tetap terjamin bagi bayi.

Pesan yang ingin saya tekankan adalah, jangan sampai kita terlalu cepat berpikir mencari ASI donor ketika ASI ibu dirasa kurang. Fokus pertama tetap membantu ibu agar berhasil menyusui bayinya sendiri. Karena tidak ada ASI yang lebih sesuai untuk seorang bayi selain ASI dari ibunya sendiri. ASI donor adalah alternatif yang sangat baik bila memang dibutuhkan, tetapi harus diperoleh melalui prosedur yang aman,” jelas dr. Aisya.

Itu dia informasi mengenai ASI donor atau susu formula berdasarkan penjelasan dokter. Semoga bisa menjadi ilmu baru bagi Mama dan Papa yang baru menjadi orangtua.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More