Kesehatan bayi ternyata tidak hanya berpengaruh pada pertumbuhan fisiknya saja, tetapi juga bisa berdampak pada tumbuh kembang bayi di masa depan. Salah satu bagian tubuh yang memiliki peran penting adalah saluran cerna, terutama usus. Di dalam usus terdapat jutaan mikrobioma, yaitu kumpulan bakteri baik yang membantu menjaga kesehatan tubuh.
Benarkah Kondisi Usus Bayi Memengaruhi Emosi dan Sosial di Masa Depan?

Penelitian UCLA Health menemukan keseimbangan mikrobioma usus bayi berhubungan dengan perkembangan emosi dan sosial anak.
Data studi GUSTO menunjukkan adanya kaitan antara jenis bakteri tertentu di usus usia 2 tahun dengan pola konektivitas otak dan gejala emosional pada usia 7,5 tahun.
Intervensi seperti probiotik, pola makan seimbang, dan pengelolaan stres dapat membantu menjaga kesehatan usus.
Mikrobioma usus diketahui memiliki hubungan erat dengan kerja otak, karena itu usus sering disebut sebagai “otak kedua” tubuh. Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Communications, bahkan menunjukkan hubungan antara kondisi kesehatan usus dan perkembangan perilaku dan kemampuan sosial.
Lalu, benarkah kondisi usus bayi memengaruhi emosi dan sosial di masa depan? Berikut Popmama.com rangkum penjelasnya!
Table of Content
Benarkah Kondisi Usus Bayi Memengaruhi Emosi dan Sosial di Masa Depan?

Menurut studi dari UCLA Health yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications, keseimbangan bakteri dalam usus pada usia dini diduga memiliki kaitan dengan risiko gangguan emosi seperti depresi, kecemasan, serta perkembangan sosial anak.
Hubungan ini diperkirakan terjadi karena adanya komunikasi dua arah antara mikrobioma usus dan jaringan otak yang berperan dalam mengatur emosi. Dalam studi tersebut, anak-anak yang memiliki dominasi bakteri tertentu di ususnya, seperti dari ordo Clostridiales dan famili Lachnospiraceae, tercatat memiliki risiko lebih tinggi mengalami gejala depresi dan kecemasan.
Dampak Kesehatan Mental Bisa Berlanjut hingga Remaja

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa bakteri di usus pada usia dini diduga dapat memengaruhi perkembangan sirkuit otak yang berkaitan dengan kesehatan emosional anak. Jika terjadi ketidakseimbangan, kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko munculnya depresi dan kecemasan, yang dapat berlanjut hingga masa remaja bahkan dewasa.
Penulis senior studi dari UCLA, Dr. Bridget Callaghan, menjelaskan bahwa hubungan antara mikrobioma usus di awal kehidupan dengan konektivitas otak serta gejala kecemasan dan depresi memberikan bukti awal bahwa bakteri usus bisa ikut membentuk kesehatan mental pada masa-masa penting perkembangan anak.
Data yang Digunakan dalam Penelitian

Studi menggunakan data dari penelitian Growing Up in Singapore Towards Healthy Outcomes (GUSTO), yaitu studi jangka panjang yang memantau perkembangan kesehatan anak sejak lahir. Data yang dikumpulkan mencakup berbagai aspek, mulai dari sampel tinja saat anak berusia 2 tahun, pemindaian otak menggunakan MRI saat usia 6 tahun, hingga laporan perilaku anak dari orangtua atau pengasuh saat usia 7,5 tahun.
Dari studi GUSTO ini, peneliti UCLA Health menganalisis data milik 55 anak sebagai sampel penelitian. Dalam analisisnya, peneliti mencari pola hubungan antara konektivitas otak pada usia 6 tahun dengan munculnya gejala emosional seperti kecemasan dan depresi pada usia 7,5 tahun.
Setelah itu, mereka menelusuri apakah kondisi mikrobioma usus pada usia 2 tahun memiliki kaitan dengan pola perkembangan otak tersebut. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara gejala kecemasan dan depresi dengan keberadaan bakteri tertentu dalam kelompok Clostridiales dan Lachnospiraceae.
Potensi Penanganan di Masa Depan

Peneliti menyebutkan bahwa studi lanjutan masih diperlukan untuk memastikan apakah hubungan antara mikrobioma usus dan kesehatan mental ini benar-benar bersifat kausal atau hanya berkaitan.
Menurut Dr. Bridget Callaghan, langkah selanjutnya adalah mengidentifikasi spesies bakteri mana dalam kelompok besar tersebut yang paling berpengaruh terhadap temuan ini. Jika sudah diketahui secara lebih spesifik, maka ada peluang untuk melakukan intervensi yang relatif sederhana, misalnya melalui probiotik atau perubahan pola makan untuk membantu menyeimbangkan mikrobioma usus.
Perilaku Anak yang Dipengaruhi Kesehatan Usus

Dilansir dari Banner Health, kesehatan usus pada anak memiliki kaitan dengan berbagai aspek perilaku dan perkembangan mereka.
Ketidakseimbangan mikrobioma usus dapat meningkatkan stres serta risiko gangguan kecemasan pada anak.
Kesehatan usus juga berkaitan dengan kemampuan konsentrasi, perhatian, dan daya ingat anak, termasuk pada kondisi seperti ADHD (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas).
Penelitian menunjukkan adanya perbedaan komposisi mikrobioma usus pada anak dengan autisme dibandingkan anak tanpa autisme.
Bakteri usus berperan dalam produksi hormon seperti serotonin dan melatonin yang membantu mengatur suasana hati serta siklus tidur.
Gangguan pada usus dapat menghambat penyerapan nutrisi penting seperti zat besi, vitamin D, dan vitamin B12.
Masalah usus sejak dini juga dikaitkan dengan peningkatan risiko alergi, asma, penyakit radang usus, hingga gangguan kesehatan kronis di kemudian hari.
Cara Meningkatkan Kesehatan Usus pada Anak

Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan orang tua untuk membantu menjaga kesehatan usus anak.
Atur pola makan yang seimbang
Berikan anak asupan gizi seimbang seperti karbohidrat, protein, sayur, buah, dan susu. Batasi konsumsi camilan olahan serta minuman manis karena dapat mengganggu keseimbangan mikrobioma usus.Konsumsi makanan probiotik dan prebiotik
Pada bayi yang sudah memasuki masa MPASI, makanan probiotik seperti yoghurt, kefir, tempe, dan acar mengandung bakteri baik yang membantu pencernaan. Sementara itu, makanan prebiotik seperti pisang, oat, bawang putih, bawang merah, dan asparagus dapat mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus.Ajak anak bermain di luar ruangan
Aktivitas di luar rumah memberikan paparan mikroba yang beragam, yang dapat membantu melatih dan memperkuat sistem kekebalan tubuh anak.Terapkan pola tidur yang teratur
Kebiasaan makan, tidur, dan aktivitas yang konsisten dapat membantu menjaga kesehatan usus serta mendukung sistem pencernaan dan pertumbuhan mikrobioma yang optimal.Bantu anak mengelola stres
Stres dapat memengaruhi hubungan antara usus dan otak. Karena itu, anak perlu dibantu untuk mengelola stres melalui aktivitas seperti yoga, latihan pernapasan, atau teknik relaksasi sederhana.
Nah itu dia penjelasan terkait kondisi usus bayi memengaruhi emosi dan sosial di masa depan. Yuk, jaga kesehatan usus si Kecil sejak dini demi masa depannya!


















