Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Pemeriksaan yang Perlu Dilakukan Bayi Baru Lahir dengan Hepatitis B

4 min read
Pemeriksaan yang Perlu Dilakukan Bayi Baru Lahir dengan Hepatitis B
Unsplash/Charles Eugene
  • Bayi dari ibu dengan hepatitis B perlu mendapat HBig dan vaksin hepatitis B dosis pertama maksimal 24 jam setelah lahir, lalu melanjutkan imunisasi sesuai jadwal.

  • Setelah rangkaian vaksin selesai, bayi menjalani tes darah usia 9–12 bulan untuk memeriksa HBsAg, penanda infeksi, dan anti-HBs, penanda antibodi.

  • HBsAg negatif serta anti-HBs positif di atas batas proteksi menandakan bayi tidak terinfeksi dan telah membentuk perlindungan; ibu tetap boleh menyusui setelah pencegahan awal diberikan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Hepatitis B merupakan infeksi yang disebabkan oleh virus hepatitis B (HBV) dan dapat menular dari mama kepada bayi, terutama ketika proses persalinan berlangsung. 

Karena itu, bayi yang lahir dari mama dengan hepatitis B membutuhkan perhatian khusus sejak awal kehidupannya. Pencegahan penularan dapat dilakukan dengan memberikan imunisasi dan suntikan antibodi sesegera mungkin setelah bayi lahir. 

Namun, perlindungan tersebut tetap perlu dipastikan melalui pemeriksaan darah ketika bayi sudah menyelesaikan rangkaian imunisasi hepatitis B. 

Untuk pembahasan selengkapnya, berikut Popmama.com siap membahas lebih lanjut tentang pemeriksaan yang perlu dilakukan bayi baru lahir dengan Hepatitis B.

  1. 1. Bayi perlu menjalani pemeriksaan darah setelah rangkaian vaksinasi selesai

    Bayi yang lahir dari mama dengan hepatitis B perlu mendapatkan pemeriksaan darah khusus untuk mengetahui apakah upaya pencegahan penularan yang dilakukan sejak lahir berhasil memberikan perlindungan. 

    Pemeriksaan ini menjadi salah satu cara untuk memastikan kondisi bayi setelah mendapatkan rangkaian imunisasi hepatitis B. Pemeriksaan darah tersebut umumnya dilakukan ketika bayi berusia sekitar 9–12 bulan. 

    Waktu pemeriksaan ini diberikan setelah si Kecil menyelesaikan rangkaian lengkap vaksinasi hepatitis B sesuai jadwal yang dianjurkan.

    “Jika ibu menderita Hepatitis B, bayi yang lahir wajib menjalani pemeriksaan darah khusus untuk memastikan apakah langkah pencegahan saat lahir sudah berhasil melindungi si Kecil,” kata dr. Galih Linggar Astu, M.Sc, Sp.A selaku dokter anak melansir dari penjelasan videonya di Instagram @dokter_galih. 

    “Pemeriksaan darah ini biasanya dilakukan saat anak berusia 9 hingga 12 bulan setelah rangkaian lengkap vaksinasi Hepatitis B selesai,” lanjutnya. 

  2. 2. Ada dua jenis pemeriksaan yang perlu diperhatikan

    Ada dua jenis pemeriksaan yang perlu diperhatikan
    Magnific/freestockcenter

    Pemeriksaan darah pada bayi yang lahir dari mama dengan hepatitis B mencakup dua penanda utama, yakni HBsAg dan anti-HBs. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda sehingga perlu dilihat secara bersamaan untuk mengetahui kondisi bayi.

    HBsAg digunakan untuk mengetahui apakah terdapat infeksi virus hepatitis B di dalam darah. Sementara itu, anti-HBs digunakan untuk melihat keberadaan antibodi yang terbentuk sebagai respons terhadap vaksinasi hepatitis B.

    “HBsAG untuk melihat apakah ada virus aktif di dalam darah bayi. Hasil yang diharapkan tentu negatif,” jelas dr. Galih.

    “Anti-HBs untuk mengukur kadar antibodi atau kekebalan tubuh bayi terhadap virus Hepatitis B. Hasil yang diharapkan adalah positif di atas angka proteksi, tanda bahwa vaksin bekerja dengan sangat baik,” sambungnya. 

  3. 3. Hasil HBsAg negatif dan anti-HBs positif menunjukkan perlindungan optimal

    Hasil HBsAg negatif dan anti-HBs positif menunjukkan perlindungan optimal
    Freepik/freepik

    Setelah pemeriksaan dilakukan, dokter akan melihat kombinasi hasil HBsAg dan anti-HBs untuk mengetahui status infeksi serta kekebalan bayi.

    Salah satu hasil yang diharapkan adalah HBsAg negatif dan anti-HBs positif dengan kadar antibodi berada di atas batas proteksi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa tidak ditemukan tanda infeksi hepatitis B dan tubuh bayi telah membentuk antibodi sebagai perlindungan. 

    “Jika HBsAG negatif dan anti-HBs positif, selamat! Bayi sudah terlindungi sepenuhnya dan memiliki kekebalan seumur hidup. Jika hasilnya berbeda, dokter akan langsung memberikan langkah penanganan lanjutan yang tepat,” ungkap dr. Galih.

  4. 4. Pencegahan penularan Hepatitis B dari mama ke bayi

    Ibu hamil yang positif hepatitis B bisa menularkan virus kepada bayinya saat proses persalinan Tanpa pencegahan yang tepat, risiko bayi tertular bisa sangat tinggi. Kabar baiknya, penularan ini bisa dicegah. 

    Salah satu langkah pencegahannya adalah memberikan HBig (hepatitis B immunoglobulin) atau imunoglobulin hepatitis B.

    Suntikan ini mengandung antibodi khusus yang dapat memberikan perlindungan langsung terhadap virus. Selain HBig, bayi juga perlu mendapatkan vaksin hepatitis B dosis pertama. 

    “Kuncinya ada pada dua langkah cepat setelah bayi lahir. Suntik HBig atau imunoglobulin, berikan suntikan antibodi khusus ini dalam waktu maksimal 24 jam pertama setelah bayi lahir untuk langsung menetralisir virus,” ujar dr. Galih.

    “Vaksin hepatitis B dosis pertama, berikan bersamaan dengan HBig di paha sebelah yang berbeda untuk merangsang kekebalan tubuh bayi secara mandiri. Lanjutkan imunisasi, pastikan bayi mendapat jadwal lanjutan vaksin hepatitis B sesuai usia agar perlindungannya sempurna,” lanjutnya. 

    HBig dan vaksin hepatitis B memiliki fungsi yang berbeda, tetapi diberikan sebagai bagian dari upaya pencegahan penularan hepatitis B dari mama ke bayi. Setelah dosis pertama diberikan, imunisasi hepatitis B tetap perlu dilanjutkan sesuai jadwal yang ditetapkan oleh dokter. 

  5. 5. Apakah mama dengan Hepatitis B boleh menyusui bayinya?

    Apakah ibu dengan Hepatitis B boleh menyusui bayinya?
    Pexels/Helena Lopes

    Mama dengan hepatitis B tetap dapat memberikan ASI kepada bayinya. Pemberian ASI dapat dilakukan setelah bayi mendapatkan HBig dan vaksin hepatitis B dosis pertama setelah lahir.

    “Ibu tetap boleh menyusui bayinya dengan aman asalkan bayi sudah langsung mendapatkan suntikan HBig dan vaksin pertama sejak lahir,” ucap dr. Galih.

    Meski demikian, kondisi puting juga perlu diperhatikan selama masa menyusui. Puting yang lecet atau mengalami luka sebaiknya dicegah karena dapat meningkatkan risiko paparan darah selama proses menyusui. 

    “Pencegahan terjadinya luka pada puting sangat dianjurkan pada awal kehidupan bayi, sehingga penularan dapat dicegah. Bimbingan menyusui khususnya posisi menyusui yang baik dan pelekatan mulut bayi yang betul dapat mencegah terjadinya puting lecet,” lanjutnya. 

    “Lakukan screening sejak masa kehamilan dan koordinasikan dengan dokter anak agar si Kecil terlindungi sejak detik pertama lahir,” pungkasnya. 

    Itu dia informasi mengenai pemeriksaan yang perlu dilakukan bayi baru lahir dengan Hepatitis B. Semoga bisa menjadi ilmu baru bagi Mama semua.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More