Kapan Ibu Hamil Skrining Hepatitis B? Jangan Sampai Terlewat

- Skrining hepatitis B melalui tes HBsAg idealnya dilakukan pada kunjungan ANC pertama atau trimester pertama di setiap kehamilan, meski ibu pernah tes atau vaksin.
- Jika belum diperiksa pada awal kehamilan, skrining tetap perlu dilakukan pada kunjungan berikutnya karena infeksi dapat tanpa gejala dan menular saat persalinan.
- Hasil HBsAg positif memerlukan pemeriksaan lanjutan; penanganan ibu, termasuk tenofovir pada kondisi tertentu, serta imunisasi bayi segera lahir membantu mencegah penularan.
Kehamilan membuat Mama perlu menjalani berbagai pemeriksaan untuk memastikan kondisi ibu hamil dan janin tetap sehat. Salah satunya adalah skrining hepatitis B, yang penting dilakukan meski tidak mengalami gejala apa pun.
Pasalnya, infeksi hepatitis B dapat terjadi tanpa disadari dan berisiko menular kepada bayi saat proses persalinan. Risiko pun mengintai bayi ketika ibu hamil yang hasil skrining hepatitis B positif tapi tidak terdeteksi karena tidak melakukan tes ini. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sampai menggenjot skrining hepatitis B secara agresif guna mencapai target eliminasi pada tahun 2030. Hal ini karena penderita hepatitis di Indonesia telah menembus 10 juta jiwa, namun angka skrining baru mencapai sekitar 10 persen dari target WHO sebesar 90 persen.
Lantas, kapan ibu hamil perlu melakukan skrining hepatitis B dan pemeriksaan apa yang dilakukan?
Berikut Popmama.com rangkum informasinya.
Table of Content
1. Idealnya pada kunjungan ANC pertama di trimester pertama

Pexels/Ivan S Centers for Disease Control and Prevention (CDC) di Amerika Serikat merekomendasikan semua ibu hamil menjalani pemeriksaan HBsAg (hepatitis B surface antigen) pada setiap kehamilan, terlepas dari apakah sebelumnya pernah menjalani tes atau sudah mendapatkan vaksinasi hepatitis B. Pemeriksaan ini idealnya dilakukan pada trimester pertama, biasanya bersamaan dengan pemeriksaan awal kehamilan.
Jadi, Mama tidak perlu menunggu hingga trimester ketiga untuk mengetahui status hepatitis B. Di Indonesia, skrining hepatitis B juga termasuk dalam pemeriksaan rutin Antenatal Care (ANC) yang dilakukan sejak awal kehamilan.
Menariknya, pemeriksaan hepatitis B untuk ibu hamil juga tersedia melalui program Triple Eliminasi dari pemerintah. Program ini mencakup skrining HIV, sifilis, dan hepatitis B untuk membantu mencegah penularan ketiga penyakit tersebut dari ibu ke bayi.
Layanan skrining Triple Eliminasi dapat diperoleh secara gratis di Puskesmas dan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) sesuai ketentuan program pemerintah, sehingga ibu hamil dapat memanfaatkannya sebagai bagian dari pemeriksaan kehamilan rutin.
2. Pemeriksaan hepatitis B tetap perlu dilakukan di trimester kedua atau ketiga jika terlewat

Pexels/RDNE Stock project Jika pemeriksaan belum dilakukan pada awal kehamilan, skrining tetap dapat dilakukan pada kunjungan berikutnya. CDC menyebut ibu hamil yang belum di tes selama kehamilan tersebut perlu menjalani pemeriksaan.
Jadi, terlambat skrining bukan berarti sudah tidak perlu diperiksa. Mengapa skrining hepatitis B ini penting untuk ibu hamil? Ini karena infeksi hepatitis B bisa tidak menimbulkan gejala, tetapi dapat ditularkan dari ibu ke bayi, terutama saat proses persalinan.
Mengetahui status hepatitis B sejak kehamilan, dokter dapat menentukan langkah pencegahan agar risiko penularan ke bayi dapat ditekan. Jadi, skrining bukan hanya untuk mengetahui kondisi kesehatan ibu hamil, tetapi juga menjadi bagian penting dari pencegahan hepatitis B pada bayi sejak lahir.
3. Pemeriksaan utamanya menggunakan tes darah HBsAg

Pexels/Karolina Grabowska Salah satu pemeriksaan utama untuk mengetahui adanya infeksi hepatitis B adalah HBsAg melalui tes darah. Hasil HBsAg positif menunjukkan adanya infeksi HBV yang sedang berlangsung dan perlu ditindaklanjuti oleh tenaga kesehatan.
Pada rekomendasi CDC, ibu hamil dewasa yang belum pernah menjalani triple panel juga dapat menjalani pemeriksaan HBsAg, anti-HBs, dan total anti-HBc untuk mengetahui status infeksinya secara lebih lengkap.
4. Mengapa skrining hepatitis B penting saat hamil?

Freepik Sudah disinggung kalau infeksi hepatitis B dapat ditularkan dari ibu kepada bayi, terutama saat proses persalinan. Hal yang menjadi perhatian adalah bayi yang tertular HBV memiliki risiko sangat tinggi mengalami infeksi kronis. CDC menyebut sekitar 90% bayi yang mengalami infeksi HBV secara perinatal dapat berkembang menjadi infeksi kronis.
Kemenkes juga menekankan pentingnya deteksi hepatitis B pada ibu hamil sebagai bagian dari upaya mencegah penularan dari ibu ke anak.
5. Kalau hasilnya positif, apakah masih bisa mencegah penularan ke bayi?

Pexels/Tima Miroshnichenko Jawabannya, bisa. Hasil HBsAg positif tidak berarti bayi pasti tertular. Ibu hamil dengan HBsAg positif perlu mendapatkan pemeriksaan lanjutan, termasuk HBV DNA (viral load), untuk menentukan risiko penularan dan apakah diperlukan terapi antivirus selama kehamilan.
WHO merekomendasikan ibu hamil dengan HBsAg positif dan HBV DNA ≥200.000 IU/mL mendapatkan profilaksis tenofovir mulai minggu ke-28 kehamilan hingga setidaknya persalinan.
Di Indonesia, Kemenkes juga telah menerapkan strategi penggunaan tenofovir pada ibu hamil dengan hepatitis B untuk membantu mencegah transmisi dari ibu ke anak.
Selain penanganan pada ibu, bayi yang lahir dari ibu dengan hepatitis B juga perlu mendapatkan imunisasi hepatitis B segera setelah lahir sesuai protokol pencegahan transmisi, termasuk langkah tambahan seperti HBIG pada kondisi yang direkomendasikan.
Itulah tadi informasi kapan ibu hamil skrining hepatitis B. Dengan melakukan skrining sejak dini, kondisi ibu hamil dapat terdeteksi lebih cepat sehingga langkah pencegahan penularan hepatitis B kepada si Kecil bisa dilakukan sejak kehamilan.






















