Sekitar 1 dari 100 orang mengalami sawan setiap tahun. Kondisi ini terjadi ketika aktivitas listrik di sel-sel otak menjadi tidak normal sehingga mengganggu kerja otak untuk sementara. Sawan pada bayi perlu dikenali sejak dini karena bayi baru lahir termasuk kelompok yang paling berisiko mengalaminya.
Sawan pada Bayi, Kenali Tanda hingga Pertolongan Pertamanya

Sawan pada bayi dapat disebabkan oleh berbagai kondisi, seperti demam tinggi, infeksi, gangguan metabolisme, cedera kepala, hingga epilepsi.
Gejalanya dapat berupa tubuh kaku atau berkedut, mata melirik, tidak merespons, perubahan napas, serta lemas atau mengantuk setelah sawan.
Saat bayi mengalami sawan, tetap tenang, amankan posisi tubuhnya, jangan memasukkan apa pun ke mulut, dan segera cari pertolongan medis jika berlangsung lebih dari 5 menit.
Sawan dapat muncul secara tiba-tiba dan membuat Mama panik ketika melihat si Kecil mendadak kaku, berkedut, atau tidak merespons. Penyebabnya pun beragam, mulai dari demam tinggi, hingga gangguan metabolisme.
Lantas, seperti apa gejalanya dan apa yang perlu dilakukan saat kondisi tersebut terjadi? Berikut Popmama.com telah merangkum informasi mengenai sawan pada bayi, seperti dikutip dari laman Parents.
1. Mengenal sawan pada bayi

Magnific/pvproductions Sawan atau kejang pada bayi terjadi ketika aktivitas listrik di otak mengalami gangguan secara tiba-tiba. Kondisi ini dapat dipicu oleh berbagai faktor dan tidak selalu menandakan adanya penyakit serius.
Penyebabnya pun cukup beragam, mulai dari demam tinggi, infeksi seperti meningitis atau ensefalitis, gangguan metabolisme, kekurangan oksigen saat lahir, cedera kepala, epilepsi, hingga kelainan bawaan pada otak. Pada beberapa kondisi, kejang juga dapat muncul bersama gejala lain seperti demam, muntah, tubuh lemas, atau bayi menjadi sangat rewel.
2. Gejala sawan pada bayi

Magnific/lifestylememory Gejala sawan dapat berbeda pada setiap bayi, tergantung pada jenis dan tingkat keparahan kejang. Mama mungkin melihat perubahan pada gerakan tubuh, kesadaran, hingga pola napas si Kecil. Beberapa tanda yang dapat muncul meliputi:
Tubuh kaku atau tangan dan kaki berkedut tanpa terkendali.
Mata melirik ke atas, ke samping, atau tampak menatap kosong.
Bayi tidak merespons ketika dipanggil atau disentuh.
Napas menjadi cepat, tersengal, atau melambat sesaat.
Wajah menegang atau rahang mengatup.
Air liur berlebihan atau mulut berbusa.
Bayi tampak sangat lemas atau mengantuk setelah kejang.
Mengingat gejalanya bisa berbeda-beda, Mama sebaiknya memperhatikan dan mencatat perubahan yang terjadi selama maupun setelah kejang. Informasi tersebut dapat membantu dokter mengetahui kondisi yang dialami si Kecil.
3. Pertolongan pertama saat bayi mengalami sawan

Magnific Ketika melihat bayi kejang, Mama mungkin spontan ingin memegang atau menghentikan gerakannya. Namun, hal terpenting adalah memastikan si Kecil tetap aman selama kejang berlangsung.
Baringkan bayi di tempat yang aman dan datar, lalu miringkan tubuhnya untuk membantu mencegah tersedak oleh air liur atau muntahan. Longgarkan pakaian yang terasa ketat, terutama di area leher dan dada, kemudian jauhkan benda-benda di sekitar bayi yang berisiko menyebabkan cedera.
Mama juga perlu mencatat durasi kejang dan gejala yang terlihat. Jangan menahan gerakan kejang dan jangan memasukkan apa pun ke dalam mulut bayi, termasuk jari, sendok, makanan, maupun obat.
4. Kapan bayi perlu segera dibawa ke dokter?

Magnific Sebagian besar kejang berlangsung singkat, tetapi ada kondisi yang membutuhkan penanganan medis segera. Mama perlu memperhatikan durasi kejang sekaligus kondisi si Kecil setelah kejang berhenti. Segera bawa bayi ke rumah sakit apabila:
Kejang berlangsung lebih dari 5 menit.
Kejang terjadi beberapa kali secara berurutan.
Bayi mengalami cedera selama kejang.
Bayi kesulitan bernapas setelah kejang.
Bayi tidak sadar atau tidak kembali responsif setelah kejang.
Jika ini merupakan pengalaman pertama si Kecil mengalami sawan, pemeriksaan dokter juga penting untuk mengetahui kemungkinan penyebabnya.
5. Bagaimana cara mengurangi risiko sawan pada bayi?

Magnific Sawan pada bayi tidak selalu dapat dicegah, terutama jika penyebabnya berkaitan dengan faktor bawaan atau kondisi medis tertentu. Meski begitu, Mama tetap dapat menjaga kesehatan si Kecil untuk membantu mengurangi beberapa faktor risikonya.
Pastikan bayi mendapatkan ASI dan nutrisi yang cukup serta imunisasi sesuai jadwal. Mama juga perlu menjaga kebersihan lingkungan dan membiasakan cuci tangan sebelum merawat si Kecil untuk membantu mengurangi risiko infeksi.
Selain itu, buat lingkungan rumah lebih aman agar bayi terhindar dari benturan atau cedera kepala. Ketika si Kecil mengalami demam, pantau kondisinya dan segera cari pertolongan medis jika muncul tanda yang mengkhawatirkan.
Itulah informasi selengkapnya mengenai sawan pada bayi, mulai dari tanda hingga pertolongan pertamanya.
Semoga informasi ini bermanfaat, ya, Ma.





















