Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Panduan Memberi Makan Bayi di Situasi Darurat Bencana

Panduan Memberi Makan Bayi di Situasi Darurat Bencana
Ilustrasi ibu dan bayi saat situasi darurat (Unsplash/Maximus Beaumont)
  • Dalam bencana, bayi di bawah enam bulan diprioritaskan mendapat ASI eksklusif karena air bersih, bahan bakar, dan susu formula sering terbatas serta risiko diare meningkat.
  • Bayi yang sudah MPASI perlu makanan bergizi, mudah dicerna, bersih, dan tersedia di pengungsian; bahan lokal atau MPASI fortifikasi dapat digunakan, sambil menghindari makanan dewasa.
  • IDAI menganjurkan menyusui sesering kebutuhan hingga usia dua tahun atau lebih, termasuk saat sakit; bila memakai formula, gunakan cangkir dan pastikan air serta peralatan aman.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bencana atau situasi darurat yang datang secara tiba-tiba tentu berdampak besar bagi kehidupan sehari-hari. Akses terhadap berbagai hal menjadi lebih sulit, termasuk pemenuhan kebutuhan nutrisi anak. 

Nutrisi yang terpenuhi si Kecil sangat penting untuk menunjang tumbuh kembangnya. Namun, situasi darurat membuat pemenuhan nutrisi menjadi lebih sulit, mengingat kebutuhan yang terbatasnya. 

Berada di negara yang rawan bencana, kondisi darurat bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa aba-aba, Ma. Untuk itu, orangtua perlu tahu bagaimana harus tetap memenuhi kebutuhan nutrisi anak di tengah kondisi darurat. 

Yuk, simak panduan memberi makan bayi di situasi darurat bencana yang telah Popmama.com rangkum berikut ini!

  1. Berikan ASI Eksklusif untuk Bayi di Bawah 6 Bulan

    Berikan ASI Eksklusif untuk Bayi di Bawah 6 Bulan
    Mardiana menyusui bayinya, Rihana, didampingi suaminya di Puskesmas Sakra, Lombok Timur, pada 2025. (unicef.org/UNICEF/UNI641506/Chair)

    Bayi di bawah 6 bulan tetap perlu menyusui ASI eksklusif untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Jika si Kecil sudah memasuki fase MPASI, prioritaskan pemenuhan nutrisi dengan ASI terlebih dahulu, Ma.

    Rekomendasi bersama UNICEF, WHO, dan IDAI yang dikutip dari laman AIMI menyebutkan bahwa menyusui ASI lebih penting karena terbatasnya sarana untuk penyiapan susu formula.

    Krisis air bersih, bahan bakar, dan ketersediaan susu formula yang terbatas membuat ASI menjadi asupan yang paling ideal bagi bayi dalam kondisi darurat. Pemberian susu formula saat kondisi darurat juga berisiko meningkatkan risiko diare, mengingat sulitnya akses air bersih.

    Susu formula hanya dapat diberikan pada bayi pada keadaan sangat terbatas, mulai dari diberikan kepada anak yang tidak bisa menyusui ASI (misal piatu), hingga bayi yang ibunya tidak lagi bisa menyusui.

    Pemberian susu juga perlu diperhatikan, harus yang memenuhi standar, tidak memberikan kental manis atau susu cair kepada bayi di bawah 12 bulan, dan pemberian susu menggunakan cangkir atau gelas (hindari penggunaan dot botol agar mudah dibersihkan).

  2. Buat MPASI yang Mudah Dicerna di Lokasi Pengungsian

    Bagaimana Pemberian Makan Bayi di Situasi Darurat Bencana? Simak Ma!
    Ilustrasi kentang dan umbi-umbian (unsplash.com/Zoshua Colah)

    Bayi MPASI pada dasarnya merupakan fase untuk bayi mengenal jenis dan rasa makanan. Namun pada situasi darurat, pemberian MPASI dapat dimaksimalkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya di tengah kondisi darurat, Ma.

    Mengutip dari laman Puskesmas Kabupaten Klungkung, MPASI yang diberikan pada bayi saat kondisi darurat sebaiknya berasal dari makanan yang paling mudah dicerna, bernutrisi, dan yang terpenting tersedia di lokasi pengungsian.

    Pemberian MPASI menurut AIMI (Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia) juga sebaiknya disediakan dari bahan pangan lokal bila memungkinkan, mengingat biasanya lebih mudah didapat. 

    Dalam kondisi darurat, MPASI instan atau fortifikasi juga diperbolehkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi si Kecil. Yang terpenting memenuhi standar sanitasi dan kebersihan.

    Hindari pemberian makanan orang dewasa seperti mie instan atau makanan yang asin, tinggi gula, atau pedas. Olahan lokal seperti kentang, ubi, atau pisang dapat diolah menjadi MPASI bayi jika kondisi memungkinkan dan bahannya tersedia di pengungsian.

  3. Cara Pemberian Makan Bayi saat Bencana Menurut IDAI

    Cara Pemberian Makan Bayi saat Bencana Menurut IDAI
    Ilustrasi situasi pengungsian bencana (Unsplash/Maximus Beaumont)

    Pemberian asupan bayi di bawah 12 bulan dalam kondisi darurat tetap harus diprioritaskan untuk mencegah malnutrisi dan gangguan kesehatan lainnya.

    Namun, kondisi darurat membuat pemberian makan pada bayi menjadi lebih menantang karena keterbatasan bahan.

    IDAI telah menyusun cara pemberian makan optimal pada bayi dan anak saat bencana, yakni:

    • Inisiasi menyusui yang dilakukan dalam 1 jam pertama kelahiran
    • Posisi dan pelekatan yang efektif saat menyusui
    • Pemberian makan yang sering dan sesuai kebutuhan sampai bayi berusia 6 bulan
    • Menyusui secara eksklusif sampai 6 bulan
    • Terus menyusui setelah mulai memberi makanan pendamping ASI di usia 6 bulan
    • Terus menyusui sampai anak berusia 2 tahun atau lebih
    • Meningkatkan frekuensi menyusui dan tetap memberi makan selama sakit
    • Meningkatkan frekuensi menyusui setelah sembuh dari sakit untuk mempercepat proses penyembuhan dan kejar tumbuh.

  4. Yang Harus Dilakukan Jika Situasi Terbatas

    Yang Harus Dilakukan Jika Situasi Terbatas
    Kondisi pengungsian penyintas erupsi Sinabung di Desa Sukatepu, Kecamatan Namanteran. (IDN Times/Prayugo Utomo)

    Situasi darurat pasca bencana biasanya membingungkan dan kacau. Berada di tempat pengungsian dengan keterbatasan akan segala hal tentu dapat membuat orangtua khawatir terhadap kondisi anak. 

    Pada situasi ini, orangtua perlu mengambil keputusan dan mememanfaatkan ketersediaan bahan makanan dengan bijak. Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan untuk memberi makan bayi di tengah situasi darurat:

    • Mama perlu percaya diri dan jangan stres agar ASI dapat mengalir
    • Jika tidak tersedia air mendidih atau panas, dapat menggunakan formula cair yang steril, atau gunakan air jernih dengan suhu kamar yang harus segera dikonsumsi
    • Bila kualitas air buruk, harus dimasak hingga mendidih, klorinasi, dan filtrasi agar aman digunakan
    • Hindari penggunaan botol karena meningkatkan risiko penyakit, penggunaan cangkir lebih aman
    • Jaga peralatan makan tetap bersih dan aman setelah digunakan dan cuci dengan air hangat bersabun.

    Itu dia penjelasan mengenai bagaimana pemberian makan bayi di situasi darurat bencana. Mama tidak boleh panik dan tetap tenang agar nutrisi bayi juga dapat terpenuhi.

    Stay safe, Ma!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More