Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Kebiasaan Menggelitik Bayi Bisa Menyebabkan Kesulitan Bernapas

4 min read
Kebiasaan Menggelitik Bayi Bisa Menyebabkan Kesulitan Bernapas
Pexels/Marina Abrosimova
  • Tawa bayi saat digelitik merupakan respons fisik dan tidak selalu berarti ia merasa bahagia atau nyaman.

  • Menggelitik terus-menerus dapat membuat bayi kehilangan kendali, kesulitan mengatur napas, batuk, atau tersedak.

  • Menghormati tangisan, gerakan menjauh, dan tanda penolakan membantu menjaga rasa aman serta kepercayaan anak.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Melihat bayi tertawa terbahak-bahak saat digelitik mungkin menjadi momen menyenangkan bagi orangtua. Suara tawa si Kecil yang menggemaskan sering kali membuat orangtua ingin mengulanginya.

Namun, tahukah Mama bahwa menggelitik bayi secara berlebihan ternyata berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan, bahkan berdampak pada kondisi fisik dan emosionalnya?

Melansir Bright Side, berikut Popmama.com siap membahas informasi mengenai kebiasaan menggelitik bayi bisa menyebabkan kesulitasn bernapas hingga trauma.

  1. 1. Tawa saat digelitik tidak selalu menandakan bayi merasa bahagia

    Tawa saat digelitik tidak selalu menandakan bayi merasa bahagia
    Unsplash/Johnny Cohen

    Bayi yang digelitik biasanya akan memberikan respons berupa tawa, senyuman, atau gerakan tubuh. Reaksi tersebut sering kali membuat orangtua beranggapan bahwa si Kecil sedang menikmatinya. 

    Padahal, tawa yang muncul akibat rangsangan gelitik tidak selalu mencerminkan perasaan bahagia yang sebenarnya. Sebuah penelitian di University of California pada 1997 membahas perbedaan antara tawa akibat gelitikan dan tawa yang muncul karena dianggap lucu. 

    Tawa akibat gelitikan merupakan respons terhadap rangsangan fisik, sehingga tidak bisa dijadikan satu-satunya indikator bahwa seseorang merasa senang. Bagi bayi, hal ini menjadi semakin penting karena mereka belum dapat mengungkapkan perasaan melalui kata-kata. 

    Mereka mungkin tertawa meskipun merasa kewalahan atau tidak nyaman dengan rangsangan yang diberikan. Karena itu, Mama sebaiknya tidak hanya memperhatikan suara tawa si Kecil, tetapi juga respons tubuhnya. 

    Jika bayi terlihat tegang, berusaha menjauh, menangis, atau menunjukkan tanda tidak nyaman, segera hentikan kelitikan dan berikan kesempatan baginya untuk merasa tenang kembali.

  2. 2. Menggelitik dapat membuat bayi merasa kehilangan kendali

    Menggelitik dapat membuat bayi merasa kehilangan kendali
    Pexels/Sarah Chai

    Saat digelitik, seseorang dapat tertawa secara refleks dan kesulitan menghentikan respons tubuhnya. Kondisi tersebut juga dapat membuat seseorang merasa tidak memiliki kendali atas apa yang sedang terjadi.

    Profesor biologi evolusi dari University of Michigan, Dr. Richard Alexander, pernah mengatakan bahwa kelitikan dapat berkaitan dengan dominasi dan kepatuhan. Dalam situasi tertentu, tawa saat seseorang digelitik dapat menjadi respons yang tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.

    Pada bayi, pengalaman kehilangan kendali ini perlu diperhatikan karena mereka belum mampu menyampaikan keinginan untuk menghentikan permainan secara verbal. Apabila orangtua terus menggelitik ketika anak sudah menunjukkan tanda-tanda tidak nyaman, ia dapat merasa kewalahan atau takut.

  3. 3. Menggelitik secara berlebihan berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan fisik

    Menggelitik secara berlebihan berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan fisik
    Pexels/Keira Burton

    Menggelitik mungkin terlihat seperti permainan sederhana, tetapi rangsangan yang diberikan secara terus-menerus dapat membuat bayi merasa tidak nyaman.

    Bayi memiliki kemampuan komunikasi yang masih terbatas sehingga orangtua perlu lebih peka terhadap perubahan ekspresi, gerakan, dan pola napasnya selama bermain.

    Tertawa berkepanjangan juga dapat membuat bayi kesulitan mengatur napas dengan nyaman. Dalam kondisi ini, bayi bisa mengalami batuk atau tersedak, terutama jika koordinasi antara bernapas dan menelan terganggu. 

  4. 4. Pengalaman menggelitik yang tidak menyenangkan bisa memengaruhi rasa aman anak

    Pengalaman menggelitik yang tidak menyenangkan bisa memengaruhi rasa aman anak
    Pexels/William Fortunato

    Interaksi yang menyenangkan dan penuh perhatian berperan penting dalam membangun rasa aman antara bayi dan orangtua. Sebaliknya, pengalaman yang membuat bayi takut, kewalahan, atau merasa tidak nyaman secara berulang dapat memengaruhi bagaimana ia merespons sentuhan dan interaksi di kemudian hari.

    Dr. Richard Alexander juga pernah membahas kemungkinan dampak psikologis dari pengalaman menggelitik yang tidak menyenangkan. Namun, penting untuk dipahami bahwa tidak semua pengalaman digelitik akan menyebabkan trauma atau gangguan mental. 

    Dampaknya dapat berbeda pada setiap anak, bergantung pada situasi dan pengalaman yang dialaminya. Hal yang perlu menjadi perhatian adalah ketika orangtua tetap melanjutkan permainan meskipun bayi sudah menunjukkan tanda penolakan. 

    Tindakan tersebut dapat membuat anak merasa bahwa sinyal ketidaknyamanannya tidak diperhatikan. Jika terjadi berulang kali dalam berbagai situasi, hal ini berpotensi mengganggu rasa aman anak ketika berinteraksi dengan orang lain, bahkan memunculkan trauma. 

  5. 5. Kebiasaan menggelitik yang dipaksakan dapat mengganggu kepercayaannya

    Kebiasaan menggelitik yang dipaksakan dapat mengganggu kepercayaannya
    Pexels/pexels

    Hubungan yang dekat antara orangtua dan anak dibangun melalui berbagai interaksi sehari-hari. Sentuhan lembut, respons yang konsisten, serta perhatian terhadap kebutuhan bayi dapat membantu menumbuhkan rasa aman dan kepercayaan sejak dini.

    Sebaliknya, permainan fisik yang dilakukan secara paksa dapat membuat anak merasa tidak nyaman, terlebih ketika ia tidak memiliki kesempatan untuk menghentikannya. Jika orangtua mengabaikan tangisan, gerakan menjauh, atau tanda penolakan lainnya, anak dapat merasa bahwa batasan tubuhnya tidak dihargai.

    Demikian informasi mengenai kebiasaan menggelitik bayi bisa menyebabkan kesulitasn bernapas hingga trauma. Dengan menghormati batasan tubuh anak sejak bayi, Mama dan Papa dapat membantu menciptakan hubungan yang hangat sekaligus mendukung perkembangan emosionalnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More