Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
6 Kondisi Anak yang Berisiko Sakit Berat jika Tertular Campak
Pomama.com/Alya Putri Abi/ AI
  • IDAI mengingatkan orang tua agar waspada terhadap campak, penyakit menular yang bisa menyebabkan komplikasi serius terutama pada anak dengan kondisi tertentu.

  • Anak tanpa imunisasi lengkap, malnutrisi, atau berusia di bawah lima tahun memiliki risiko lebih tinggi

  • Kondisi komorbid, terapi imunosupresan, serta keterlibatan selaput lendir luas juga meningkatkan risiko infeksi

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Campak merupakan penyakit infeksi akut yang sangat mudah menular, terutama pada anak-anak. Penyakit ini tidak hanya menyebabkan demam dan ruam merah pada kulit, tetapi juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Akibatnya, anak yang terkena campak menjadi lebih rentan tertular penyakit lain.

Pada beberapa kasus, campak dapat berkembang menjadi penyakit yang lebih serius ketika terjadi komplikasi. Kondisi ini bisa lebih berbahaya pada anak-anak dengan kondisi kesehatan tertentu yang membuat daya tahan tubuh mereka lebih lemah.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) melalui unggahan Instagram resminya @idai_ig pada (6/3/2026), mengimbau para orangtua untuk lebih waspada. IDAI menjelaskan bahwa ada beberapa kondisi pada anak yang dapat meningkatkan risiko mengalami sakit berat jika tertular campak.

Untuk itu, berikut Popmama.com merangkum beberapa kondisi anak yang berisiko mengalami sakit berat jika tertular campak. Yuk, simak informasinya!

1. Anak tidak pernah mendapat imunisasi campak

Pomama.com/Alya Putri Abi/ AI

Kondisi yang berisiko membuat anak sakit berat saat terkena campak adalah ketika anak belum mendapatkan imunisasi lengkap. Imunisasi lengkap berarti anak telah menerima seluruh vaksin yang dianjurkan sesuai jadwal, sehingga tubuhnya memiliki perlindungan optimal terhadap berbagai penyakit menular, termasuk campak.

Tanpa imunisasi lengkap, sistem kekebalan tubuh anak belum siap menghadapi virus, sehingga infeksi dapat berkembang lebih cepat dan menimbulkan komplikasi serius. Salah satu vaksin penting dalam imunisasi lengkap adalah vaksin campak. Vaksin ini dirancang untuk memberikan kekebalan terhadap virus campak sebelum anak terpapar.

Di Indonesia, vaksin campak termasuk dalam program imunisasi rutin yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan. Saat ini terdapat dua jenis vaksin yang digunakan untuk mencegah campak, yaitu vaksin MR (measles dan rubella) dan vaksin MMR (measles, mumps, dan rubella). Vaksin MR melindungi anak dari campak dan rubella, sedangkan vaksin MMR memberikan perlindungan tambahan terhadap gondongan.

Berdasarkan jadwal imunisasi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin campak diberikan sebanyak tiga kali: imunisasi primer saat anak berusia 9 bulan, booster pertama pada usia 18 bulan, dan booster kedua pada usia 5–7 tahun.

Pada anak, dosis vaksin yang diberikan adalah 0,5 ml), sedangkan pada orang dewasa yang belum divaksin, vaksin MMR diberikan sebanyak dua dosis dengan jarak 28 hari antara dosis pertama dan kedua.

2. Malnutrisi 

Pomama.com/Alya Putri Abi/ AI

Kondisi yang membuat anak berisiko sakit berat saat terkena campak adalah malnutrisi, yaitu ketika tubuh anak tidak mendapatkan asupan nutrisi yang cukup atau seimbang. Menurut Kementerian Kesehatan, malnutrisi bisa berupa kekurangan gizi maupun kelebihan gizi. Kondisi pada anak yang paling berisiko menjadi penyakit berat saat campak adalah kekurangan nutrisi.

Anak dengan malnutrisi memiliki cadangan energi dan zat gizi yang rendah, termasuk vitamin dan mineral penting seperti vitamin A, sehingga sistem imun mereka menjadi lemah. Saat terinfeksi campak, tubuh anak sulit melawan virus, sehingga gejala penyakit lebih berat dan komplikasi lebih mudah terjadi.

Akibatnya, komplikasi serius seperti pneumonia atau diare berat lebih mungkin muncul pada anak dengan gizi buruk. Karena itu, menjaga asupan gizi yang cukup dan seimbang menjadi langkah penting untuk melindungi anak dari campak yang bisa berkembang menjadi penyakit berat.

3. Usia di bawah 5 tahun

Pomama.com/Alya Putri Abi/ AI

Anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun termasuk kelompok yang paling berisiko mengalami sakit berat saat terkena campak. Pada usia ini, sistem kekebalan anak masih berkembang, sehingga tubuh lebih sulit melawan infeksi.

Akibatnya, gejala campak bisa lebih parah. Risiko ini semakin tinggi jika anak belum mendapatkan vaksin campak lengkap atau memiliki kondisi medis tertentu yang melemahkan daya tahan tubuh.

4. Memiliki komorbid dan imunokompromais

Pomama.com/Alya Putri Abi/ AI

Anak yang memiliki komorbid, yaitu menderita lebih dari satu penyakit, berisiko mengalami sakit lebih berat jika tertular campak. Anak dengan kondisi imunokompromais juga termasuk kelompok yang rentan. Kondisi imunokompromais berarti sistem kekebalan tubuh tidak bekerja secara optimal, sehingga tubuh lebih sulit melawan infeksi, termasuk virus campak.

Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan sistem imun melemah antara lain leukemia atau kanker lain yang menyerang sistem darah atau jaringan limfoid. Pada kondisi ini, jumlah dan fungsi sel imun dapat menurun sehingga kemampuan tubuh melawan infeksi menjadi lebih lemah.

Selain itu, anak atau orang dengan HIV juga memiliki risiko karena Virus HIV menyerang sel CD4 yang berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh. Ketika jumlah sel tersebut menurun, tubuh menjadi lebih sulit melawan virus maupun infeksi lain yang dapat memperparah kondisi penderita campak.

5. Sedang dalam terapi imunosupresan

Pomama.com/Alya Putri Abi/ AI

Anak yang sedang menjalani terapi imunosupresan juga termasuk kelompok yang berisiko mengalami sakit berat jika terkena campak. Terapi imunosupresan adalah pengobatan yang bertujuan menekan atau melemahkan sistem kekebalan tubuh.

Kondisi ini biasanya dialami oleh pasien transplantasi organ atau pasien yang menjalani pengobatan tertentu seperti kemoterapi dan penggunaan kortikosteroid dosis tinggi. Obat-obatan tersebut diperlukan untuk mengobati penyakit tertentu atau mencegah penolakan organ transplantasi, tetapi juga dapat menurunkan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi. Akibatnya, ketika terinfeksi campak, tubuh menjadi lebih sulit melawan virus.

Hal ini membuat risiko terjadinya komplikasi serius, seperti pneumonia, radang otak (ensefalitis), atau infeksi bakteri sekunder menjadi lebih tinggi. Karena itu, anak dalam kondisi ini membutuhkan pengawasan medis yang lebih ketat serta penanganan yang cepat jika terinfeksi campak.

6. Adanya keterlibatan selaput lendir luas (sariawan)

Pomama.com/Alya Putri Abi/ AI

Kondisi lain yang dapat menandakan risiko sakit lebih berat pada anak dengan campak adalah keterlibatan selaput lendir yang luas, misalnya muncul sariawan di mulut. Pada infeksi campak, virus dapat menyerang jaringan ini sehingga menimbulkan luka atau peradangan. Ketika selaput lendir di mulut mengalami peradangan, anak bisa mengalami sariawan, luka pada gusi, atau rasa nyeri saat makan dan minum.

Kondisi ini membuat anak sulit mengonsumsi makanan dan cairan, sehingga berisiko mengalami kekurangan nutrisi dan dehidrasi selama masa sakit. Selain itu, kerusakan pada selaput lendir juga dapat menurunkan pertahanan alami tubuh terhadap kuman. Akibatnya, bakteri lebih mudah masuk dan menyebabkan infeksi tambahan yang dapat memperparah kondisi saat campak.

Nah, itu dia 6 kondisi anak yang berisiko sakit berat jika tertular campak. Yuk, lebih aware lagi dengan kesehatan si Kecil, Ma!

Editorial Team